Pukul sebelas malam, Tiana terbangun dari tidurnya. Ia merasa lapar dan haus.
Akhirnya gadis itu beranjak dari kasur dan berjalan menuju dapur. Dilihatnya kulkas yang masih ada makanan sisa makan malam tadi.
Tiana mengambil semangkuk soto lalu memanaskannya. Lalu ia mengambil sepiring nasi.
Kemudian ia teringat sesuatu, apakah Yama sudah pulang?
Dengan cepat ia mengecilkan kompor, dan berjalan menaiki tangga menuju kamar Yama. Sedikit ragu, ia pun memantapkan tekadnya untuk masuk ke dalam kamar lelaki itu. Dan untungnya tidak terkunci.
Ia masuk ke dalam, melihat seisi kamar yang tampak sepi, lalu ia melihat kulkas kecil yang sedikit terbuka. Tiana penasaran, karena kulkas itu selalu dikunci.
Akhirnya ia membuka pelan kulkas itu, dan ia kaget begitu melihat beberapa botol dengan berbagai merk di sana. Minuman apa itu? Tiana tampak asing, karena ia tidak pernah melihatnya.
Lalu ia mendengar suara pintu yang digeser, ia melihat pintu yang menghubungkan kamar dengan balkon bergerak, dengan cepat Tiana menutup kulkas itu, lalu ia keluar dari kamar Yama dengan cepat.
Ia kembali menuju dapur, menuangkan soto itu ke dalam mangkok dan menaruhnya di atas nampan, tidak lupa ia menaruh pula segelas teh hangat dan sepiring nasi. Lalu ia berjalan menuju kamarnya.
Diraihnya ponsel miliknya, lalu ia mengetikkan sebuah merk yang ada di botol tadi. Dan akhirnya ia tahu, bahwa itu adalah minuman keras, minuman beralkohol, saat itu juga mendadak tubuh Tiana melemas.
Selama ini, Yama masih mengonsumsi minuman itu? Ia pikir, setelah kejadian di mana masa depan mereka terenggut, Yama menyesal dan tidak akan pernah meminumnya lagi, namun ia salah besar.
Lelaki itu masih tetap sama.
Dan ia berjanji, ia akan mengubah Yama menjadi lelaki yang lebih baik lagi. Karena kini, Yama adalah suaminya.
•••••
Hari ini, kelas Tiana ada pelajaran olahraga pada jam pelajaran ketiga, yang artinya pukul 09.15 baru akan dimulai. Sebenarnya Tiana ingin izin untuk tidak mengikuti pelajaran itu, namun ia ingat bahwa akan ada pengambilan nilai praktek hari ini. Mau tidak mau ia harus mengikutinya.
Ketika guru Biologi mengakhiri pelajarannya dan beranjak keluar kelas, saat itu juga para siswa berganti pakaian olahraga.
"Ayo Na, kita harus cepat ganti baju," ucap Elis sambil membenarkan letak kacamatanya. Tiana mengangguk, lalu gadis itu mengambil sepasang baju olahraga dari dalam tasnya.
Kemudian mereka berdua berjalan menuju kamar mandi. Di kamar mandi sudah banyak anak perempuan kelas mereka yang tengah berganti baju. Lalu ada seorang gadis berkuncir kuda yang terkenal satu sekolahan dengan nama Adzkia tengah menyemprotkan parfume yang wanginya sangat menyengat.
Tiba - tiba saja Tiana merasa mual. Dengan cepat ia menitipkan baju olahraga kepada Elis dan masuk ke salah satu bilik toilet.
Lalu para siswi yang ada di sana saling menatap penuh penasaran ketika mendengar suara muntahan Tiana yang begitu keras.
Beberapa menit kemudian Tiana keluar, tangan kanannya tanpa sadar mengelus - elus perutnya sendiri, dan semua itu dilihat oleh mereka.
"Lo kenapa?" tanya Gladis—cewek famous berambut sebahu..
Tiana menggeleng pelan. Dia lebih memilih diam, karena dia tahu jika ia menjawab, yang ada pertanyaan itu tidak akan ada hentinya dari mulut Gladis yang cerewet.
"Kamu sakit Na?" tanya Elis.
"Nggak Lis, gak enak badan aja," jawab Tiana pelan.
"Yaudah gak usah olahraga ya, nanti aku izinin."
Tiana menggeleng. Ia tidak ingin susulan praktek. Lebih baik sekarang saja.
"Lo kek orang hamil aja, uwek-uwekan," ucap Friska—teman Gladis yang super jutek.
Tiana terdiam. Tiba - tiba tubuhnya merasa kaku.
"Tapi gak mungkinlah ya, mana ada cowok yang mau sama lo?" lanjut Friska yang membuat Tiana bernapas lega.
"Dia tuh beruntung aja bisa deket sama Kak Yama, Kak Yama tuh baik banget, sampai nganggep lu jadi adiknya, gue harus pake pelet apa ya supaya dia gitu ke gue?" kata Ashila—gadis dengan rambut panjang yang dikuncir kuda, bibirnya merah karena liptint dan juga kukunya yang selalu ia cat dengan cat kuku.
Friska, Gladis dan Ashila adalah sahabat yang lumayan terkenal di sekolah ini. Banyak kakak kelas yang naksir sama mereka. Dan karena itu, mereka semua menjadi sombong, bahkan ada beberapa kakak kelas cewek yang melabrak mereka minggu kemarin.
Dengan cepat Tiana mengambil pakaiannya dari tangan Elis, ia beranjak masuk ke dalam toilet lagi dan berganti pakaian secepat yang ia bisa.
Gadis itu sudah kebal dengan caci maki seperti tadi. Jadi ia sudah terbiasa, dan tidak mengambil pusing semua ucapan mereka.
"Kamu pucet banget Na," ucap Elis ketika melihat Tiana yang sudah memakai baju olahraga keluar dari bilik kamar mandi.
Tiana menggeleng pelan. "Gakpapa, demi nilai."
Gadis itu meringis pelan sembari menyentuh perutnya sendiri. Kamu harus kuat ya, kali ini aja bantuin aku buat dapetin nilai.
"Yaudah ayo kita ke lapangan."
Baru beberapa menit lari mengelilingi lapangan untuk pemanasan, Tiana merasakan kepalanya sangat pusing, tubuhnya berkeringat dingin, dan pandangannya menjadi samar - samar. Gadis itu tidak kuat lagi, ia berdiam sejenak, mengamati teman - temannya yang sudah lari duluan. Lalu tubuhnya luruh seketika, membuat murid - murid di sana mendekatinya sambil menjeritkan namanya.
•••••
Tiana mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk. Gadis itu setengah berbaring sambil memijat pelipisnya. Kemudian matanya menatap sekeliling, ternyata dia berada di UKS.
"Eh, hai, udah bangun ternyata," ucap seorang lelaki yang tengah duduk di kasur sebelah Tiana. Di UKS itu ada dua kasur, satu dipakai oleh Tiana, dan satu lagi diduduki oleh lelaki itu.
"Lama banget pingsannya."
Tiana mengernyitkan dahinya. Ia tidak pernah melihat lelaki itu sebelumnya.
"Kenalin gue Arya, anak baru pindahan dua hari yang lalu. Nama lo siapa?"
Tiana mengangguk kecil sambil tersenyum. "Tatjana, panggil aja Tiana."
Arya mengangguk kecil. "Masih sakit? Mau gue panggilin PMR?"
"Eh, gak usah."
Arya mengangguk lagi, ditatapnya wajah Tiana yang manis menurutnya. Gadis itu sangat natural, berbeda dengan gadis lainnya yang sudah memakai alis atau lipstik ke sekolah. Arya menyukainya, gadis sederhana yang tampil apa adanya.
"Kelas 10 ya?"
Tiana mengangguk membenarkan ucapan Arya. "Kamu kelas berapa?" tanya Tiana balik.
"Duabelas MIPA 4."
"Eh maaf, aku gak sopan Kak," ucap Tiana sambil menepuk jidatnya sendiri.
Arya terkekeh pelan. "Apanya yang gak sopan sih? Lucu banget lo itu," ucap Arya.
Tiana tersenyum kecil. "Kak Arya sakit? Kenapa di sini?"
Lelaki itu mengidikkan bahunya. "Gue itu lemah, luka dikit aja harus ke rumah sakit. Sekarang gue di UKS lagi nungguin nyokap buat jemput, takdir jelek banget buat hidup gue," ucap Arya sambil menatap langit - langit UKS.
Tiana tidak mengerti. "Luka apanya? Perasaan Kak Arya baik - baik aja."
Arya menarik celana abu - abunya hingga setengah betis, lalu menunjukkan luka itu kepada Tiana. "Nih."
Tiana menutup mulutnya, kaget. "Kak, itu kasa sama kapasnya sampe merah banget, darahnya gak berhenti."
"Ya gue bilang kan tadi, gue itu lemah, Na."
Tiba - tiba saja pintu UKS terbuka. Wali kelas Arya dan Ibunya masuk ke dalam. Tiana dapat melihat wajah Ibunya Arya yang sangat cemas.
"Kenapa bisa? Kan Mama udah bilang—"
"Mah, please Arya bukan anak kecil lagi, main bola terus jatoh tuh hal biasa."
"Tapi nggak buat kamu Arya! Itu bukan hal yang biasa!"
Tiana menundukkan kepalanya mendengar pertengkaran Ibu dan anak itu.
Arya bangkit, lalu berjalan dengan pelan mendekati ibunya.
"Pak Yudha, sekali lagi terima kasih sudah menghubungi saya."
"Iya bu, sama - sama, semoga Arya cepat sembuh."
Wanita berpenampilan glamor itu memapah anak lelakinya untuk keluar UKS, Tiana memperhatikannya. Ketika sampai di pintu UKS, Arya menoleh dan tatapan mereka bertemu. Jantung Tiana bergemuruh ketika melihat bibir lelaki itu melengkung membuat senyuman untuknya.
"Hei, kamu masih sakit? Mau pulang? Bapak telepon orang tua kamu," ucapan Pak Yudha sukses membuat Tiana mengalihkan pandangannya.
"Eh, gak usah Pak, saya balik ke kelas aja." Tiana berdiri, lalu pamit kepada Pak Yudha.
•••••
Bunyi kendaraan saling menyahut, diiringi raungan petir yang begitu memekakkan telinga. Sepasang remaja yang berada di atas motor itu terus saja membelah jalanan, padahal sebentar lagi mungkin turun hujan.
Tiana mencengkeram erat jaket kulit Yama ketika merasakan dirinya kedinginan akibat angin yang begitu kencang. "Kak Yama, pelan - pelan."
Yama pun menurutinya. "Berhenti dulu ya, Na. Udah gerimis ini, aku takut kamu kenapa - napa."
Tiana mengangguk, dan Yama dapat melihatnya dari pantulan spion motor. Yama menghentikan motornya di sebuah toko klontong sederhana. Di sana hanya ada mereka berdua sebagai pelanggan.
Tiana segera berlari menuju toko kecil itu, lalu dirinya duduk di kursi kayu panjang di depan toko diikuti Yama yang duduk di sebelahnya.
"Kamu mau teh anget?" tanya Yama ketika ia melihat Tiana yang memeluk tubuhnya sendiri, mungkin gadis itu masih merasa kedinginan.
Tiana dengan cepat mengangguk.
Yama berdiri, lalu ia melihat ada seorang Ibu di dalam toko yang sedang menyesap kopinya.
"Eh aya anu meser geuning*."
"Bu pesen es teh satu, kopi satu, saya ambil rotinya tiga ya," ucap Yama yang langsung diangguki oleh Ibu yang kira - kira usianya sudah 50an.
"Oke siap, tungguan nya**."
Yama kembali duduk di sebelah Tiana. Lelaki itu melepas jaket kulitnya, lalu menyampirkannya di tubuh Tiana.
Gadis itu menoleh, lalu tersenyum kecil. "Makasih Kak."
Yama mengangguk, lalu memberikan satu roti kepada Tiana. "Makan dulu ya."
Tiana mengambilnya, membuka plastik roti itu kemudian memakannya dengan pelan.
"Kapan ya kira - kira hujannya berhenti?" ucap Yama sambil mengusapkan kedua tangannya ke pahanya sendiri. Tiana menggeleng pelan.
"Kalian berdua teh pacaran?" celetuk Ibu warung dari dalam.
"Iya Bu," ucap Yama sambil menatap Tiana, sedangkan gadis itu memilih menatap butiran - butiran air yang turun dari langit.
"Lamun bobogohan teh ulah keluar batas, orang bilang tuh mun parawan jeung jajaka duduaan bisa beranak***. Makanya orang dulu tuh anak muda kayak kalian banyak yang udah dinikahin."
Tiana menoleh ke arah Yama, dan lelaki itu pun tengah menatap Tiana. Mereka saling berpandangan, ucapan Ibu itu benar adanya. Dan itu sudah terjadi.
Yama dapat melihat raut ketakutan dari wajah Tiana, dengan cepat ia menggenggam tangan Tiana, lalu mengangguk pelan. Seakan berkata semuanya baik - baik saja.
"Ini teh sama kopinya udah jadi," ucap Ibu warung sambil mengantarkan pesanan mereka.
Tiana dan Yama tersenyum, lalu Yama berkata terima kasih. Setelah itu Ibu warung memilih masuk ke dalam lagi.
"Minum Na, kamu masih kedinginan."
Tiana mengangguk, lalu dengan perlahan menyesap teh itu.
"Percaya sama aku, kita pasti bisa melewati ini semua," ucap Yama dibawah hujan yang lebat. Tiana lebih memilih diam.
•••••
Waktu tak terasa begitu cepat berlalu. Seminggu sudah terlewati, tak ada yang spesial, semuanya berjalan seperti biasa.
Hari ini hari Minggu, Budhe Sila dan Pakde Haris akan kembali ke Semarang. Tentu saja itu membuat Tiana sedih, karena bagaimana pun, kedua orang tua itulah yang sudah membatu dirinya dan Yama dalam masa - masa yang sulit.
Sekarang Tiana sedang membantu Budhe Sila mengepaki pakaiannya ke dalam koper. Gadis itu duduk di tepi ranjang dengan tangan yang telaten membereskan baju - baju dan memasukkannya ke dalam koper. Budhe Sila yang melihat itu tersenyum, lalu ia mendekati Tiana dan duduk di hadapan gadis itu.
"Udah, gak usah beresin baju Budhe lagi, kamu istirahat aja," ucap Budhe Sila seraya mengambil sepotong baju dari tangan Tiana. Tiana pun diam saja dan tidak beranjak dari tempatnya. "Eh, kenapa toh malah melamun, Nduk?"
"Memang Budhe harus pergi ke Semarang sekarang? Gak bisa nanti aja Budhe?" ucap Tiana dengan suara pelan.
"Loh kenapa begini? Kemarin - kemarin kamu biasa aja waktu Budhe bilang mau pulang ke Semarang."
"Budhe sama Pakde udah seperti Bapak dan Ibu Tiana, kalau Budhe sama Pakde pulang, nanti Tiana di sini sama siapa?" lirih gadis itu.
"Ada Yama, kamu kalau mau apa - apa bilang, dia tuh anaknya penurut Na, Budhe kenal Yama dari kecil. Terus ada Bibik, jangan sungkan minta bantuan ke Bibik, ya Nduk?"
Tiana mengangguk pelan. "Tapi bibik juga gak selalu ada di rumah Budhe, dia pasti pulang ke rumahnya." Wajah Tiana berubah menjadi sendu.
"Nanti Budhe suruh Ibu kamu tinggal di sini bagimana?"
"Jangan Budhe! Nanti Bapak gak ada yang ngurus di rumah, lagian Hasan juga masih sekolah, kasihan mereka."
Budhe Sila mengangguk. "Terus kamu maunya gimana toh, Nduk?"
Tiana berpikir sebentar kemudian menggeleng pelan. "Jaga kesehatan Budhe sama Pakde di sana ya? Kalau ada apa - apa jangan lupa hubungin Tiana atau Kak Yama."
Budhe Sila berdiri, diikuti oleh Tiana. "Iya, Nduk! Pasti, nanti kalau ada waktu, main ke Semarang, di kebun Pakdemu banyak buah. Tinggal metik langsung dapet."
"Iya, InshaAllah Budhe, nanti Tiana main ke sana."
"Jaga diri, jaga kesehatan, makan teratur, jangan lupa minum s**u," nasihat Budhe Sila yang langsung diangguki oleh Tiana.
"La, udah selesai beberes?" ucap Pakde Haris dari luar.
"Nggeh, udah Mas," ucap Budhe Sila. "Ayo keluar, Nduk." Budhe Sila menarik tangan Tiana, kemudian membuka pintu kamarnya, dan tampaklah Pakde Haris yang tengah berdiri di depan kamar.
"Kamu keluar dulu, biar aku yang bawa," kata Pakde Haris yang langsung diangguki oleh Budhe Sila.
Budhe Sila dan Tiana langsung berjalan keluar, sesampainya di luar, mereka tidak melihat Yama di sana. Kedua wanita berbeda usia itu saling menatap, lalu Budhe Sila berkata, "Yama kemana toh?"
Tiana menggidikkan bahunya tanda ia tidak tahu apa - apa.
••••• Kosa kata bahasa sunda
geuning : ternyata tungguan nya : tungguin ya lamun bobogohan teh ulah keluar batas : kalau pacaran tuh jangan keluar batas mun parawan jeung jajaka duduaan bisa beranak : kalau perawan sama perjaka berduaan bisa menghasilkan anak