POV Royyan Wajah kusut, rambut awut-awutan, mata kayak panda. Menyedihkan. Aku menoleh menatap istriku yang masih tertidur nyenyak. Kulirik jam di dinding kamar pukul empat pagi. Sungguh tragis semalaman aku gak bisa tidur. Karena sibuk nenangin si Royyan kecil. Huhuhu. Ngenesnya. "Mas." "Eh Aya, kok udah bangun." Ayana bangun dan ikut duduk di kursi sofa yang ada di kamarku. Dia membelai rambutku kemudian mencium pipiku. "Maaf ya." Kemudian menyandarkan kepalanya pada bahuku. Aku pun memeluknya penuh cinta. "Mas." "Hem." "Beberapa bulan lagi puasa kayaknya." "Empat bulan lagi." "Masih cukup lama berarti." "Iya." "Mas." "Hem." "Tahu gak kenikmatan pas orang lagi puasa itu pas kapan?" "Nikmatnya itu pas waktu buka, air minum aja serasa kurma," jawabku. Eh. Aku melonggarkan

