Keesokan harinya seperti janji Garda yang ingin membawa pulang Sisil untuk dikembalikan pada orang tuanya. Lelaki itu sudah tidak lagi melakukan hal ‘itu’ kepada Sisil, tetapi Garda lebih sering mencium dan memeluk wanitanya. “Kamu udah selesai siap-siapnya?” tanya Garda mencoba memecah keheningan yang terjadi. Sisil diam masih memandang lurus ke depan seperti seorang wanita yang tidak mempunyai tujuan hidup. Kantung matanya kian menebal dan wajahnya semakin pucat. Namun, Garda seperti tidak mempedulikannya. Garda duduk di samping Sisil. Tangannya mencoba untuk menggenggam jemari Sisil yang dingin. Cepat-cepat wanita itu menepisnya. Segala sentuhan yang Garda berikan seolah najis baginya. Garda menghela napsnya pelan, lelaki itu masih berusaha bersabar menghadapi wanitanya. Lalu l

