RUMAH SAKIT

1055 Kata
Tiba-tiba suasananya menjadi sangat hening sekali, tidak ada suara atau apapun itu. "Dasar sialan, kenapa harus dia," teriak Vera sembari memaki semua orang yang ada di sana. Vera berlari menuju tempat Ethan tergeletak, dia mungkin akan sangat marah sekali kalau sempat terjadi apa-apa kepada Ethan. "Panggil ambulans," perintah lelaki tua tadi kepada staf yang lainnya. Lelaki itu juga berlari, mereka semua keterlaluan, kedua preman tadi sudah pergi entah kemana, dan pelanggan itu juga kabur tanpa membayar, Vera tidak peduli dengan bayaran itu yang terpenting sekarang Vera harus mengetahui bagaimana kondisi Ethan. Darah bercucuran di mana-mana,baju kerja Ethan berwarna putih kini sudah berubah warna menjadi Merah, Darah mengalir begitu segar dan membuat Vera begitu bingung. "Ethan, bangun, Ethan," panggil dia sembari memeluk tubuh Ethan. Vera menangis dan semua staff yang melihatnya bingung, bagaimana bisa Vera menangis? setelah beberapa lama bekerja di sini staf melihatnya menangisi karyawan baru. "Ethan," ucapnya sembari menggoyang-goyangkan bahunya. Piu .... Piu ... Piu ... Suara ambulance kini memenuhi lorong tempat itu, tidak lama kemudian petugas medis datang dan membawa Ethan pergi, di dalam mobil Vera juga ikut dia tidak peduli lagi dengan penampilannya dia mengikuti masuk ke dalam mobil. "Tolong selamatkan dia, dokter," ucap wanita itu sembari menangis. Semua alat langsung di pasang saja di tubuh Ethan yang sudah sangat lemah, alat penyambung nafas juga di pasangkan untuk mulut Ethan. Suster langsung membalut luka Ethan dengan kain perban yang sudah tersedia. Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di rumah sakit, banyak orang yang melihat mereka apalagi kini dengan kondisi yang berbeda, darah masih tetap mengalir seperti aliran sungai. Ruangan ICU, kini mereka berada di depannya dokter segera masuk dan Vera menunggu di luar, berharap semuanya baik-baik saja. "Semoga kamu sembuh." Di dalam ruang operasi kini mereka bekerja untuk melakukan operasi terhadap bagian tubuh Ethan yang mengenai pelatuk tadi. Dua hari kemudian Ethan mulai membuka bola matanya, sedikit rabun tapi dia tetap mencoba untuk membukanya perlahan-lahan. Ethan merasakan tubuhnya benar-benar tidak bisa di gerakkan, dia melihat semua serba biru, dia mencoba menoleh tidak ada siapa-siapa di ruangan ini kecuali infus yang menemani dirinya. "Apa yang terjadi kepada aku?" tanya Ethan dengan suara yang sangat pelan. Tiba-tiba suara pintu terdengar, ada seseorang yang baru saja masuk, Ethan langsung menutup mata. "Bagaimana kabar mu? Apakah kamu masih sadar? aku rasa kamu lebih baik mati saja," ucap seseorang yang baru saja memasuki ruangan Ethan itu. Ethan mencoba mengintip siapa yang berani mengatakan hal itu kepada dia, kondisi dia sudah kritis sekarang tapi masih ada orang yang menginginkan dia untuk mati? "Aku membawa hadiah untuk mu, setidaknya kamu tidak merasakan kepedihan untuk yang kesekian kalinya bukan?" ucap lelaki itu. Yah itu adalah seorang lelaki berbadan besar dia masuk dengan pakaian dokter, sepertinya dia menyusup. Dia membuka botol yang mungkin berisi racun di dalam nya, dengan sangat tenang dia mulai menusukkan dan memasukkan cairan yang ada di dalam botol itu ke dalam selang infus. "Kamu harus menikmati ini, setidaknya aku sudah membantu kamu mengakhiri hidup mu yang sangat malang ini," ucapnya dengan tersenyum manis. Ethan masih diam, hatinya terlalu sakit ketika mengetahui ternyata banyak musuh dari ayah dan ibunya. Ethan berbicara kepada dirinya sendiri. "Kenapa harus aku? bukankah penderitaan ku sudah cukup parah? ayah kenapa kalian tega kepadaku?" tangis Ethan pada dirinya sendiri. Lelaki itu melihat semuanya telah beres kini dia pergi dengan keyakinan yang sangat besar bahwa kabar Ethan meninggal dunia akan tersebar. "Selamat berbahagia dan semangat mempertaruhkan nyawa hidup mu untuk 5 menit ke depan," ucap nya dan pergi dengan santay. Ethan mengunakan firasatnya mungkin lelaku itu telah pergi dia segera membuka mata perlahan dan melepaskan infus itu dengan cepat. "Arggg ... sakit sekali," keluh Ethan dan berhasil membuang infus itu. Ethan merasakan keringat dingin yang sangat luar biasa, dia takut sedikit racun itu tadinya sudah sempat menular ke dalam tubuhnya. Seseorang datang lagi Ethan tidak sempat berpura-pura tidur tapi untung saja yang datang ini mungkin adalah penyelamat nyawanya. "Vera," ucap Ethan reflek. "Ethan," ucap Vera sembari memeluk tubuh Ethan. "Kenapa kamu menangis?" tanya Ethan saat melihat Vera menangis dengan mata yang memerah. "Tidak aku tidak menangis, tapi kenapa kamu melepaskan infus ini?" tanya Vera untuk mengalihkan perhatian. "Kamu tidak tahu ceritanya tapi untung saja kamu langsung datang, aku sudah takut hidup ku berakhir di sini," ucapnya membuat Vera kembali merasa bersalah lagi. "Tidak ada yang bisa menyakiti kamu, sesuai dengan kontruksi dan segala peraturan yang telah aku tetapkan, tidak ada yang bisa menyakiti kamu, bodyguard untuk mu sudah ada," ucapnya keceplosan. Ethan heran, kali ini dia harus bertanya pada Vera apa yang di lakukan Vera untuk nya kenapa dia begitu spesial? "Vera, aku tidak mau berlebihan, semua pemberian kamu sudah terlalu berlebihan, bagaimana nantinya aku harus membalas ini semua?" tanya Ethan dan mencoba untuk bangun. Vera membantu posisi yang bagus untuk Ethan duduk. Kemudian Vera membuka suara. "Ini bukan untuk mu ini demi keselamatan mu, aku tahu kamu sudah miskin tapi aku mempunyai janji kepada satu orang yang sangat berjasa bagi hidup ku," ucapnya dan memegang tangan Ethan dua-duanya. Jantung Ethan berdebar, dia kembali mengingat Angeline yang pertama kali membuat jantungnya berdebar tak menentu. "Arg," Ethan menarik tangannya takut dia akan selalu mengingat Vera nantinya. Vera kembali menarik tangan itu dan mengatakan sepatah dua kata kepada Ethan, yang membuat Ethan benar-benar tak bisa berkutik. "Banyak musuh yang sekarang mengincar kamu, kamu tidak bisa sembarang pergi ke tempat asing, kamu juga harus tahu banyak hutang ayah dan ibumu kamu bertugas melunasi itu." ucap Vera. "Lalu, aku harus bagaimana? apakah aku lebih baik mati saja?" ucapnya membuat Vera melepaskan tangan itu. "Lalu? Kalau ujungnya kami memilih mati kenapa aku bersusah patah untuk melihat kamu hidup? apakah mati begitu mudah bagimu?" bentak Vera karena dia tidak mau Ethan semakin lemah. "Tapi bagaimana Vera? Kamu lihat saja, aku benar-benar tidak berdaya sekarang, aku miskin, aku tidak punya tabungan, ayah dan ibuku jahat kepadaku dan yah, tidak meninggalkan apapun untuk ku," ucap Ethan dengan tersenyum miris sembari meneteskan air matanya. Vera tersentuh ini semua di luar dugaannya kenapa dia begitu kasihan melihat Ethan. Vera membuka sedikit kode untuk Ethan. "Apakah kamu yakin ayah dan ibumu tidak meninggalkan apapun untuk mu? aku berkata sebagai Vera bukan sebagai wanita yang pertama kali kamu kenal," tanya Vera dengan tatapan intimidasi dan wajahnya mendekat ke arah Ethan. "Mereka jahat." sepenggal kata keluar dari mulut Ethan, membuat Vera menampar pipi Ethan. "Dasar wanita jalang," teriaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN