Bab 1 Syafea – Siapakah Gerangan?

950 Kata
Bab 1 Syafea – Siapakah Gerangan?“Fe, sudah sore. Sampeyan enggak balik, to?” Santi melontar tanya ketika aku sedang sibuk menata stok minuman kaleng yang baru datang ke dalam chiller box showcase. “Bulik bilang, aku belum boleh pulang kalau belum jam lima,” jawabku singkat tanpa embel-embel apa pun setelahnya. Santi sudah cukup tahu bagaimana perlakuan Bulik dan keluarganya terhadapku. Karena itu, aku tidak perlu menjelaskannya lagi. Santi sudah cukup paham akan hal itu. “Nia bikin ulah apa lagi sampai kamu harus nanggung akibatnya?” Pertanyaan Santi membuatku mendesah lelah. Pertanyaan yang tidak perlu dijawab, karena dia sudah pasti tahu apa jawabnya. “Ya ... begitulah.” “Kamu nopo kok enggak protes wae, Fea? Kamu kan enggak salah.” Untuk apa? Rasanya percuma saja kalau aku banyak protes, tapi ujung-ujungnya tetap aku yang disalahkan. Entah apa yang dipelajari Nia selama di sekolah. Aku bahkan tidak tahu bagaimana dia bisa selihai itu dalam menghasut ibunya dan menjadikan aku sebagai pihak yang salah. “Sudah biasa.” Hanya kata itu yang bisa berhasil aku ucapkan. Kalau boleh jujur, sebenarnya aku lelah. Akan tetapi, aku sangat sadar diri. Aku tidak bisa melawan apa pun yang sudah menjadi keputusan Bulik mengingat masih banyaknya utang mendiang orang tuaku kepada mereka yang harus dilunasi. Karena jika tidak, hidupku tidak akan pernah tenang akibat keluarga Bulik yang terus mengingatkan akan utang mendiang orang tuaku pada mereka. Apa salahku sampai harus menanggung beban ini? Sudah hampir satu tahun aku mengabdi pada keluarga Bulik, membantu menjaga swalayan tanpa bayaran dengan alasan sebagai pelunasan utang, tapi sampai sekarang, belum juga dianggap lunas. Aku harus bagaimana supaya bisa terbebas dari ini semua? “Fea, Fe ....” Santi menyiku lenganku, membuatku refleks menoleh ke arahnya. Ah, rupanya aku terlalu larut dalam alam bawah sadarku. “Ya?” Aku menyahut dengan kening sedikit mengerut. “Sampeyan kakean ngelamun lho, Fe. Diajak ngomong sampai enggak denger,” seloroh Santi yang suka sekali berujar dengan bahasa gado-gadonya. Aku bukannya sengaja melamun sampai tidak memperhatikan apa yang dikatakan Santi kepadaku. Namun, entah kenapa aku selalu terpikirkan tentang masalah utang mendiang orang tuaku pada keluarga Bulik setiap kali membicarakan masalah Nia yang menuduhku macam-macam sampai Bulik memberiku hukuman. “Kamu bilang apa tadi?” Aku bukannya tidak paham dengan maksud ucapan Santi. Tinggal di Yogyakarta selama hampir satu tahun ini membuatku paham dengan bahasa Jawa yang sudah sering kali kudengar. Hanya saja, aku benar-benar tidak tahu apa yang dikatakan Santi sampai dia berseloroh dan menyadarkanku dari lamunan. “Kalau kamu capek, sudah. Sana pulang aja! Biar kerjaan kamu, aku yang handle.” Seandainya saja Santi mengatakan itu sebelum aku mulai menata minuman kaleng yang kubawa, mungkin aku bisa langsung setuju dengan tawarannya. Namun, sayang sekali. Aku sudah selesai mengerjakan tugas tambahan yang dibebankan padaku. Aku mengalihkan pandang ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 16.45 WIB. Bukannya ingin pergi dari tanggung jawab, tapi aku ingat, masih ada yang harus aku kerjakan dan aku tidak bisa melakukannya jika malam sudah tiba. Nia sudah pasti akan menggangguku. “Enggak apa-apa. Mumpung Bulik kamu lagi enggak ada.” Santi menambahkan. Aku mengangguk-angguk. “Kalau gitu aku duluan, ya?” kataku sembari melempar senyum tipis sebelum melangkah menjauh dari Santi. Sempat kulihat sebentar ketika salah satu pegawai Bulik itu melambaikan tangan padaku. Selepas mengganti baju seragam swalayan dengan kemeja yang kupakai sebelumnya, aku lantas menuju pantai seperti biasa. Karena tidak bisa menikmati hasil jerih payah dari swalayan milik keluarga Bulik, aku harus tetap mencari sumber penghasilan lain dengan menjadi penulis on-line. Beruntung, aku bisa menyembunyikan satu-satunya sumber mata pencaharian yang tidak akan diusik keluarga Bulik dengan dalih utang orang tua. Dari situ, aku tetap bisa membeli apa pun yang kubutuh dan anehnya, keluarga Bulik tidak pernah mempertanyakan dari mana aku mendapat uang. Waktu menunjukkan pukul 17.10 WIB ketika aku tiba di pantai. Satu jam telah berlalu dari waktu yang seharusnya. Namun, aku tetap menggelar tikar kecil serta menyiapkan meja lipat mini seperti biasa. Tidak ada ide terlintas sama sekali meski sudah sepuluh menit aku menghadap ke arah laptop yang menyala. Aku pun mengalihkan pandang pada keindahan langit senja yang terhampar luas di depan mata. Belum begitu lama, tapi aku menyunggingkan senyum ketika ide itu muncul begitu saja. Senang bercampur lega ketika jemariku mulai lancar menekan satu demi satu huruf yang menempel pada papan keyboard laptop. Meski tidak banyak kata beterbangan yang berhasil kutangkap, tidak apa. Bagaimanapun juga, ideku harus tetap mengalir. Aku harus tetap mendapatkan hasil atas apa yang kukerjakan. Tidak peduli, meskipun jika dilihat dari posisiku saat ini, sepertinya tidak mungkin aku bisa menggapai asa yang menggantung di langit sana sejak lama. Aku yakin, usahaku tidak akan pernah berakhir sia-sia. Senja semakin terlihat indah ketika matahari mulai naik ke singgasananya. Dengan terpaksa, aku menyudahi aktivitas soreku. Saat kedua netra mengalihkan pandang, aku melihatnya di kejauhan. Laki-laki yang mengenakan kemeja berwarna senada dengan kemeja yang kukenakan, tengah menatapku dalam diam. Siapakah gerangan? Melihat keberadaan lelaki itu membuat jemariku membuka halaman dokumen baru, lantas menuliskan beberapa kalimat di sana. Beberapa kalimat yang dengan sendirinya tersusun atas keberadaannya. Jinggamu merona. Senja baru saja tiba membawakanku ide cerita. Namun, ada yang menggangguku secara tiba-tiba, sorot mata yang penuh keteduhan di ujung sana. Sorot tajam nan lembut, terasa membidikku dan terus saja mengamatiku. Sorot mata itu setenang gelombang ombak di tengah laut yang suaranya samar terdengar, tetapi seakan memanggilku untuk datang mendekat. Senja, bisakah kau jelaskan siapa dirinya? Apakah dia hadiah yang dikirim oleh Tuhan untuk segala yang telah aku lewati? Namun, apakah seorang seperti aku layak mendapatkan hadiah semanis itu? Sedang yang aku tahu dan aku sadari ... aku hanya sebuah butiran pasir, yang sekali disapa ombak mungil pantai ini, bisa terbawa arus dan lenyap begitu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN