"Aku hadir di sini untuk menggantikan posisi Ervin sebagai Ayah dari anak-anakmu," ucap Asraf sembari mengelus pipi Maura. Jantung Maura masih berdegub sangat kencang, bibirnya bergetar hebat, kerongkongannya terasa seperti ditumpuk ribuan pasir. Ia masih tidak percaya atas kehadiran Asraf di hadapannya. Maura melepaskan tangan Asraf, lalu ia menundukan kepalanya. Maura tidak ingin—Asraf mengetahui wajah gugupnya saat ini, dengan pipi yang merah merona seperti kepiting rebus. Ia menggigit bibir bawahnya sambil memilin ujung bajunya. Berharap semoga ini hanya mimpi dan tidak akan pernah menjadi kenyataan. "Aku bercanda ... jangan gugup gitu," ucap Asraf lagi lalu mengacak rambut Maura. Rasanya seperti disambar petir, datang secara mendadak dan penuh teka-teki, pakai embel akan menggantik

