BAB 8

2271 Kata
Malam ini bintang tidak ikut serta menemani seorang wanita yang sedang kesepian. Langit begitu hampa, hanya hembusan udara dingin yang menerpa Maura yang sedang menangis. Seolah malam bisa mengerti keadaan saat ini, malam yang kemungkinan akan menurunkan hujan. Maura masih terus menangis, bayangan tentang perkelahian antara Ervin dan Asraf masih memutari pikirannya. Entah kenapa ia bisa menyukai dua orang pria sekaligus. Dua orang pria yang tidak akan pernah bisa akur, bahkan perkelahian itu tercipta karena adanya dirinya. Saling memperebutkan dirinya, saling mencari perhatian dirinya tetapi dengan cara yang salah. Hujan sudah membasahi bumi, membasahi orang-orang yang sedang dalam perjalanan, membasahi semua kenangan yang tercipta. Maura masih berdiam diri di dalam sebuah kafe klasik. Duduk termangu di dekat jendela besar. Maura benar-benar sedang stres, rambutnya yang acak-acakan telah menutupi sebagian wajahnya, terlebih lagi kini isakan tangis Maura semakin menjadi. Keadaan ia saat ini hancur hanya karena dua orang pria, hanya karena tidak memiliki pilihan diantara mereka. Maura hanya bisa menunggu salah satu diantara mereka mengungkapkan rasa sayangnya kepada dirinya. Bagi Maura, dua orang pria tersebut selalu membuatnya merasa nyaman, merasa diperlakukan bak seorang puteri kerajaan. Seorang Pelayan menghampiri meja Maura untuk memastikan keadaan Maura yang tak kunjung pulang sejak tadi siang. Pelayan itu mendapatkan Maura yang sedang bersedih sejak dari tadi dan sekarang ia mulai prihatin dengan keadaan Maura. Sebelum hujan turun, Pelayan tersebut sudah mengetahui kehadiran Maura sejak pukul dua siang hingga kini waktu sudah menunjukan pukul delapan malam. "Mba, saya perhatiin sedari tadi Mba menangis terus, ada apa Mba?" tanya Pelayan yang diketahui bernama Nico. "Saya enggak pa-pa. Saya cuma pengin sendirian aja." "Jangan nangis Mba, karena belum tentu seseorang yang Mba tangisi sedang memikirkan keadaan Mba yang sekarang." "Hahaha ...." Maura tertawa getir. "Saya tahu itu!" ujarnya jengah. "Ternyata semua cowok itu sama! Sama-sama bikin pusing!" pekik Maura seraya menaikan satu oktaf isakan tangisnya. "Udah Mba yang sabar, dan terus berpikir positif, karena tidak semua pria sebrengsek itu." balas Nico sambil mengutip empat gelas jus belimbing yang sudah kandas. "Mba, mau saya panggilkan taksi?" Maura menyeka airmatanya lalu mengambil selembar uang seratus ribu dari dalam tas selempangnya, setelah itu ia selipkan di dalam buku bill. "Makasih, saya bisa panggil sendiri, kok." Maura beranjak keluar dari kafe tersebut dengan kedua mata yang sembab dan hidung yang mampet. Semua orang mengalihkan pandangannya ke arah Maura-yang terlihat seperti orang gila. Rambut yang acak-acakan, kelopak mata sembab, hidung merah-persis seperti seorang badut gagal dandan. Hujan langsung mengguyur tubuhnya yang ringkih saat langkah kaki pertama menapaki halaman depan kafe. Dalam sekejap Maura hampir basah total, namun untung saja ada sebuah taksi yang berada tidak jauh dari pekarangan kafe. Maura langsung masuk ke dalam dan memberitahu alamat tujuannya. Setelah sampai di dalam taksi, Maura langsung menyenderkan tubuhnya pada punggung kursi. Tidak peduli kursinya akan basah atau meninggalkan jejak lembab. Namun yang pasti, kini tubuh Maura panas, sepertinya ia demam. Maura tipikal wanita yang tidak bisa terkena hujan sedikit pun. Matanya tidak bisa berhenti mengeluarkan cairan bening tersebut. Mengalir tanpa direncanain. Untuk pertamakalinya Maura lemah tak berdaya seperti ini hanya karena dua orang pria. Pria yang belum pasti mencintai dirinya. Namun ia sudah berharap lebih kepada keduanya. Rasa kantuk sudah menjalar ke permukaan mata Maura, ia tidak punya pilihan lain. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk memejamkan matanya beberapa saat, dan kemungkinan besar akan ia buka setelah sampai di apartemennya. Drrrt ... drrt ... drrtt ... Ponsel Maura bergetar menandakan ada seseorang yang sedang meneleponnya. Sudah beberapa jam yang lalu ia mengabaikan panggilan tersebut namun orang itu tidak menyerah sebelum Maura mengangkat teleponnya. Hingga akhirnya, Maura kehilangan kesabarannya sebab pria itu tak kunjung berhenti mengganggunya. Maura mengangkat panggilan telepon tersebut tanpa melihat caller ID terlebih dahulu. "Halo ini siapa? Gue lagi malas bicara! Gak punya otak lo ya, gue mau tidur!!" pekik Maura. "Gue minta maaf Ra," balas Ervin. Pasti dia enggak lihat caller ID dulu deh. Batin Ervin dari tempat yang lain. Tuut ... tuut ... Maura langsung mematikan panggilan tersebut. Setelahnya ia memasukkan ponselnya ke dalam tas dan menutupnya secara kasar. Isakan tangisnya kini kian menderu, matanya semakin sembab, hidungnya juga semakin merah seperti sedang terkena flu, bibirnya bergetar hebat. Maura tidak percaya dengan dirinya yang seperti ini-seorang Maura yang lemah. Tanpa sadar kini Maura sudah tertidur. * Maura berangkat bekerja dengan keadaan yang masih sakit. Matanya kini kian membengkak, dan badannya semakin panas. Hari ini Maura tidak ingin pergi bekerja ke Hotel Piramidaya tetapi ia ingin menemui Alice. Ia ingin memutuskan kontrak dengan pihak Ervin, jika itu tidak diperbolehkan oleh Alice maka ia rela dipecat dari pekerjaannya. Saat Maura membuka pintu apartemennya ia menemukan sebuket bunga mawar dan secarik kertas bewarna biru muda yang tergeletak di atas keset lantai. Ia mengambil bunga tersebut dan menghirupnya penuh penghayatan. Karena penasaran dengan isi kertas itu, Maura mengambilnya dan mulai membaca perkalimat yang ditulis oleh seseorang yang tidak ia kenal. Pagi, setangkai mawar yang masih segar mewakili aktivitas kamu yang padat. Mawar memang sangat indah, sama seperti yang sedang membaca kertas ini, sama indahnya dengan mawar. - EK.30.P Maura menautkan kedua alisnya. Ia masih mencerna kalimat pertama dari kertas tersebut, Maura seperti pernah mendengar kalimat itu tetapi ia tidak tahu kapan. Ia lupa. Dan yang semakin membuatnya bingung, orang tersebut meninggalkan sebuah tanda pengirim tetapi tanda itu sama sekali tidak Maura pahami. Dia berjalan menuju lift sambil membawa sebuket bunga mawar tersebut. Dan ternyata tidak sampai di situ, karena Maura kembali mendapatkan bunga saat ia sedang berada di dalam lift. Bunga yang ditempel pada dinding lift dan dengan secarik kertas yang juga ditempel. Maura mengambil bunga tersebut seraya membaca secarik kertas itu. Teruntuk kamu, namanya yang hampir sama dengan mawar. - EK.30.P Siapa sih? Sweet banget deh. Batin Maura. Pintu lift sudah terbuka. Maura melanjutkan langkahnya hendak menuju basement, tetapi lagi-lagi ia mendapatkan kejutan. Ada seorang anak kecil memberinya setangkai bunga mawar tetapi setelah Maura menerima bunga tersebut, justru anak kecil itu langsung menghilang entah pergi kemana. Maura kembali melihat ada secarik kertas lagi, ia membuka lipatan kertas itu dan mulai membacanya perlahan-lahan hingga akhirnya tanpa Maura sadari, ia telah senyam-senyum sendiri. Kamu kalo senyum seperti saat ini tambah cantik deh. Senyum terus dong biar cantiknya awet. - EK.30.P EK30P siapasih? Batin Maura. Saking penasaran, Maura langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh lobi apartemen. Mencari sosok yang ia curigai tetapi tidak ketemu. Namun semua orang yang sedang berada di lobi memberikan senyuman kepada Maura. Ada sesuatu yang aneh sedang terjadi. * Setelah sampai di kantor Alice's Design-tempat Maura bekerja-lagi-lagi ia kembali mendapatkan kejutan dari seorang Resepsionis. Mungkinkah hari ini ada sesuatu yang spesial yang terjadi pada dirinya, atau hanya sekedar ada orang iseng yang mencoba membuatnya terbang ke atas awan lalu dihempaskan kembali ke dasar bumi. "Mba Maura," pekik Hana-Resepsionis. Maura menoleh ke arah sumber suara dan melihat Hana yang sedang melambai kepadanya. Maura mendatangi Hana sembari membalas senyuman yang dilontarkan Hana. "Ada apa, Hana?" "Ada bunga mawar untuk Mba," sambung Hana seraya menyerahkan sebuket bunga lagi. Maura kembali tersenyum setelah melihat bunga tersebut. Dan kali ini juga ada kertas bewarna yang sama dengan kertas-kertas sebelumnya. Maura tidak habis pikir, di zaman era globalisasi seperti saat ini ternyata masih ada orang yang udik-dengan cara memberi kejutan beberapa tangkai bunga mawar. Kalau kamu kesusahan membawa bunga-bunga ini, aku sudah nyiapkan sebuah vas bunga di atas meja kerja kamu. Semoga suka. - EK.30.P Senyuman Maura semakin melebar, ia langsung berlari ke ruangan kerjanya-tanpa mempedulikan orang-orang yang sedang menatapnya aneh. Dan betul saja, setelah sampai di ruangannya, ternyata sudah ada sebuah vas bunga bermotif Teedy Bear di atas meja kerjanya. Maura mengambil vas tersebut dan menemukan secarik kertas kembali di atas mejanya. Kertas yang berbeda, bukan warnanya, tetapi isi kertas tersebut. Maura Kenesia, maafin aku yah ... aku tidak memiliki maksud untuk membuat kamu marah besar seperti ini. Karena itu semua aku lakukan demi kamu, demi kehormatan kamu, tetapi kamu menganggap aku yang salah atas masalah itu. Aku tidak ingin melihatmu menangis seperti semalam, aku ingin melihat kamu terus tersenyum seperti tadi. Bahagia banget bisa lihat kamu tersenyum seperti tadi. - EK.30.P Senyuman di bibir Maura kini kian memudar, tidak ada senyuman mengembang seperti tadi. Maura menautkan kedua alisnya, ia masih bingung maksud dari secarik kertas tersebut. Menurutnya, terlalu banyak kata-kata yang membuatnya bingung, terutama tanda pengenal itu-yang terkesan seperti teka-teki yang harus Maura selesaikan. Maura meletakkan sebuket bunga mawar yang berada di dekapnnya ke dalam vas. Setelahnya, Maura duduk sambil menatap kosong ke arah bunga itu, dan ia juga sedikit memilin salah satu kelopak bunga tersebut. "Sebenarnya siapasih sosok di balik mawar ini. Kenapa dia harus minta maaf sama gue?" ujar Maura pelan. "Gue sosok dibalik bunga mawar tersebut. Gue yang ngelakuin hal bodoh kayak gitu," sambung suara serak khas pria. Pria yang kini sudah berdiri diambang pintu. Maura menaikan dagunya dan menoleh ke arah sumber suara. "Ervin?" tanya Maura pelan-tepatnya hanya ia yang dapat mendengar. "Gue ngelakuin hal bodoh kayak gini karena gue enggak mau lihat lo marah maupun sedih kayak semalam. Gue minta maaf atas perlakuan agresif gue," pinta Ervin yang kini semakin mendekat ke arah Maura. "Jadi semua bunga ini punya lo?" tanya Maura sambil tertawa getir. "Awalnya gue senang, tapi setelah tau pemilik bunga ini gue jadi eneg. Makan ni bunga lo!!" pekik Maura seraya mencampakan vas beserta bunga mawar tersebut ke arah Ervin. Vas itu terjatuh ke lantai hingga pecah berkeping-keping. Ruangan Maura terdengar sangat nyaring, akibat suara pecahan yang terjadi kini dalam waktu satu menit ruangan Maura sudah ramai didatangi beberapa karyawan kerja. Alice yang mendengar suara keributan juga ikut nimbrung di ruangan itu. "Maaf Pak atas perlakuan Maura, saya atas nama pemilik perusahaan minta maaf," sahut Alice yang datang secara tiba-tiba. Lalu ia menghampiri Maura dan menatap wanita itu dengan tatapan memohon agar Maura tidak membuat masalah apapun dengan rekan bisnisnya yang satu ini. "Enggak usah minta maaf Mba, untuk apa minta maaf sama pria yang lebih mementingkan diri sendiri!" timpal Maura tidak kalah lantang. Maura langsung mendapatkan tatapan sengit dari Alice namun dibalas Maura dengan seulas senyuman. Setelahnya Maura menghapus airmatanya-agar tetap terlihat tegar. "Lagian saya juga mau mutusin kontrak dengan dia, Mba!" tunjuk Maura lancang kepada Ervin. "Maura enggak bisa gitu dong. Kontrak tetap kontrak, kamu tidak bisa keluar tanggung jawab gitu aja, sudah ada perjanjian tertulis," balas Alice. "Kalo kontrak enggak bisa dilanggar, yaudah kalo gitu saya aja yang berhenti kerja!" "Kalo lo berani berhenti bekerja, gue bakal ngelaporin lo ke jalur hukum, atas tuduhan telah melanggar kontrak yang ada, dan gue bakal minta ganti rugi ke elo sebesar tiga ratus juta! Paham lo?" timpal Ervin yang kini sudah berdiri di hadapan Maura. Tangisan Maura semakin menjadi, suasana kantor kini semakin ricuh. Alice sendiri tidak sanggup lagi melihat adegan ini dan ia memutuskan untuk keluar dari ruangan Maura-menuju ruangannya. Daripada ia berada di situ dan mendengar pernyataan Ervin yang seperti tadi, rasanya lebih baik Alice bunuh diri daripada perusahaan yang telah ia bangun dari awal akan hancur seketika karena kelakuan pegawainya yang ceroboh. "Lo memang nggak punya otak Vin. Gue hidup sebatang kara dan lo minta ganti rugi tiga ratus juta? Lo gila! Gue nyesal pernah kenal sama lo!" Maura menetralisirkan pernapasannya. "Cowok kayak lo itu cuma pingin dimengerti tapi enggak mau mengerti! Egois lo!" Ervin menghapus airmata Maura, menyingkirkan helaian rambut yang menutupi sebagian wajahnya. "Gue minta maaf, Ra ... gue enggak bermaksud buat lo nangis kek gini." "Lo itu agresif! Lo enggak mikir terlebih dahulu sebelum bertindak! Lo itu egois, overprotective! Gue benci sama lo Vin, benci," pekik Maura yang diikuti dengan isakan tangisnya yang semakin menjadi-jadi. Maura terus memukul d**a bidang Ervin dengan sekuat mungkin namun tidak ada tanggapan dari sang empunya. Ervin juga tidak membalas makian Maura tetapi ia langsung mendekap tubuh Maura, membuat wanita itu termangu seperti orang bodoh. Semburat merah di wajah Maura tak bisa dihindari, dan kini ia membalas pelukan Ervin-bahkan sangat erat. "Lo jahat Vin," gumam Maura pelan. "Gue cuma enggak mau lihat lo sedih kayak gini, maaf ya...." Maura menganggukan kepalanya, dan menenggelamkan wajahnya ke d**a bidang Ervin. Maura kangen dengan aroma parfum ini, bahkan di saat-saat seperti ini Maura masih sempat mengendus ketiak Ervin. "Kok lo ngendus-ngendus ketiak gue?" tanya Ervin polos sambil terkekeh. "Awas lho, entar gue horny." "Em ... anu, em ... eng-enggak kok, siapa yang ngendus. Pede banget lo!" balas Maura gelagapan. Ia melepaskan pelukannya dari Ervin lalu membetulkan posisi pakaiannya yang sedikit kusut. Setelahnya, Maura kembali memasang tampangnya yang cuek dan angkuh-merasa tidak bersalah atas perbuatannya. "Udah semuanya bubar, lanjutkan pekerjaan kalian!" pekik Ervin. Semua pegawai langsung bubar, hingga hanya menyisakan Ervin dan Maura saja yang berada di ruangan tersebut. Cukup lama Ervin memandangi Maura hingga membuat wanita itu salah tingkah. Dan kini Ervin malah membuat suasana menjadi tegang, sebab ia menghapus sisa airmata yang membasahi pipi Maura-dengan ibu jarinya. Tanpa Ervin sadari ia telah mendaratkan bibirnya tepat di dahi Maura. Lantas, wanita itu langsung mengangkat wajahnya dan menatap Ervin bingung, namun tatapan Maura hanya dibalas sebuah senyuman. Jantungnya kembali berdegup lebih kencang, predaran darahnya seolah mengalir semakin cepat menuju puncak kepala. Entah kenapa, justru Maura membalas senyuman itu, seolah ia setuju dengan ciuman tersebut. "Lo lapar? Temenin gue makan yuk," bujuk Ervin yang masih mengelus rambut Maura. "Ta-tapi, pekerjaan gue belum selesai." "Enggak ada tapi-tapian! Lo itu harus makan. Badan lo panas Maura, dan gue yakin semalam lo belum ada makan apapun. Sekarang ikut gue." Ervin langsung menarik tangan Maura tanpa menunggu jawaban dari wanita tersebut. Maura mencoba menyamakan langkahnya dengan Ervin. Tangan mereka saling menggenggam satu sama lain, dan sepasang mata kini menatap mereka sinis, kemungkinan besar cemburu dengan Maura yang berhasil menggaet hati Ervin. Namun dari sorot mata Ervin seolah ia menunjukan kalau dirinya bangga bisa menggandeng Maura di hadapan orang banyak. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN