Malam semakin larut. Denting jarum jam terdengar begitu kerasnya, seolah memang sengaja menemani malam gulita. Sejak dua jam lalu membaringkan badan di tempat tidur, mata tak bisa diajak kerjasama. Ingin rasanya terlelap, melepas semua beban di d**a namun nyatanya sia-sia. Sesak itu semakin lama semakin begitu terasa. Kupikir, keputusanku untuk memilih tinggal di sini bersama ummi dan tak melanjutkan study di Kairo adalah keputusan yang tepat. Aku bisa dekat dengan ummi lagi dan yang paling penting bisa mencuri kembali hati Rania. Dia yang pada akhirnya harus terpaksa menerima lamaran Azka, daripada menanggung malu atas talakku di malam pertama itu. Ya ... kupikir memang seperti itu. Ada sebuah keterpaksaan di sana. Karena tak mungkin secepat itu Rania menambatkan hatinya untuk laki-lak

