Muhammad Azka Ramadhan. Anak yang selalu kupandang sebelah mata karena kekurang mampuannya di banyak hal, anak yang selalu membuatku kecewa dengan nilai-nilai rendahnya, anak yang tak pernah membuatku bangga karena deretan piala kejuaraan, anak yang jarang sekali memberikan kado istimewa untuk abah dan uminya. Ah Azka ... anak yang bahkan pernah terbesit di benakku untuk menitipkannya ke panti asuhan. Kini, dia sudah bisa membuatku bangga dengan pencapaian yang dia punya. Meski kutahu ada jejak Rania di sana, namun setidaknya dia mampu membuktikan janjinya untuk bisa mandiri tanpa merepotkan orang tua. Azka kini sudah membukakan kedua mata dan hatiku, anak yang sering kali kuacuhkan itu mampu membuat banyak orang kagum akan keberhasilannya, termasuk Ernita. Rumah sederhana itu sebagai b

