55. PONSEL RETAK

1101 Kata

"Dimana Om? Jawab!" Baru kali ini, Ibrahim gelap mata. Baru sekali-kalinya, ia berani menarik kerah baju Kris dan menantangnya penuh murka. Ehan dan Bu Sukma bergidik ngeri. Penuh kekuatan, Ehan mencoba melepas jemari kokoh Ibrahim, yang mengekang kerah kemeja Kris. Terimakasih pada tubuh bongsor Ehan, yang kini sama tinggi dan berat dengan Ibrahim. Mereka nampak bagai lawan seimbang, meski jarak usia terpaut jauh. "Bang. Udah. Cukup! Ini Om Kris. Om kita!!" tegur Ehan penuh penegasan. Pertolongan tarikan tangan Ehan berhasil. Kaitan jemari Ibrahim mengendur. Lantas, Ibrahim mundur. Menjatuhkan tubuh di sofa ruang tengah rumah terbesar se-Pring Sewu itu. Menunduk. Siku bertumpu pada lutut. Beristighfar berkali-kali. Meremas rambut kasar. Titik air mata menggenang, memenuhi pandangan.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN