Bab 8

1370 Kata
Hari demi hari aku lewati dengan penyesuaian diri di rumah megah milik Kenan, menjadi Nona Zea yang kini hidup dalam dunia yang begitu berbeda. Semua terasa asing di awal, penuh kecanggungan dan batasan yang harus kupahami satu per satu. Namun perlahan, aku mulai menemukan ritmenya. kenan… entah sejak kapan, sikapnya yang dingin justru terasa seperti bentuk perhatian yang tak banyak bicara. Dan hari ini, untuk pertama kalinya, ia memberiku sesuatu yang benar-benar berarti— izin untuk membuka butik yang selama ini hanya berani kuimpikan. “Aku serius, Zea. Jalankan apa yang kamu mau,” ucapnya waktu itu, singkat, tapi cukup membuatku terdiam lama. Ini bukan hanya soal butik. Ini tentang kepercayaan. Tentang kesempatan. Dan mungkin… tentang harapan baru dalam hidupku. Aku menatap sketsa-sketsa desain yang selama ini hanya tersimpan rapi di dalam buku. Kini, semuanya terasa lebih nyata. Aku, Zea… akhirnya punya langkah sendiri. Pembukaan butik pertamaku berlangsung sederhana, tapi penuh kehangatan yang tak bisa kuukur dengan apapun. Sejak pagi, aku sudah berdiri di depan butik dengan perasaan campur aduk. Gugup, bahagia, dan tak percaya… semua menjadi satu. Butik yang selama ini hanya ada di angan, kini benar-benar berdiri nyata di hadapanku. Beberapa saat kemudian, satu per satu tamu mulai berdatangan. yang pertama membuat dadaku langsung sesak haru adalah kedatangan anak-anak panti, bersama ibu panti yang selama ini sudah seperti ibu kedua bagiku. Tawa mereka memenuhi ruangan butikku yang belum lama selesai ditata. “Ka Zea… cantik banget tempatnya!” seru salah satu anak sambil berlari kecil memelukku. Aku tersenyum, menahan air mata. “Ini semua juga untuk kalian,” jawabku lembut. Tak lama, sosok yang sangat aku tunggu akhirnya datang. “ZEA!!!” Aku menoleh cepat, dan di sana—Arumi berdiri dengan senyum lebar, berjalan cepat ke arahku lalu langsung memelukku erat. “Gila kamu… akhirnya beneran buka butik!” ucapnya tak percaya. Aku tertawa kecil di bahunya. “Aku juga masih nggak percaya, Rum…” Arumi menatapku dari ujung kepala sampai kaki. “Nona Zea sekarang beda ya… tapi tetap Zea yang aku kenal.” Kata-katanya sederhana, tapi cukup membuat hatiku menghangat. Acara pembukaan dimulai dengan doa sederhana. Aku sengaja tidak membuatnya mewah. Yang aku inginkan hanya satu—orang-orang yang benar-benar berarti ada di hari penting ini. Namun, di tengah kebahagiaan itu… mataku sempat mencari satu sosok. Kenan. Dia belum terlihat. Entah kenapa, ada sedikit rasa kosong yang tak bisa kujelaskan. Padahal… semua ini tidak akan terjadi tanpa dia. Aku menarik napas pelan, mencoba tetap tersenyum di depan semua orang. Hari ini adalah hariku. Dan butik ini… adalah awal dari cerita baru dalam hidupku. Pembukaan butikku yang awalnya hangat dan penuh tawa, perlahan berubah saat satu sosok datang—membawa hawa yang tak nyaman. Aku langsung mengenalinya. ibu panti itu… yang sejak dulu memang tidak pernah menyukaiku. Tatapannya menyapu butikku dari ujung ke ujung, lalu berhenti tepat padaku. Bibirnya melengkung tipis, senyum yang lebih terasa seperti sindiran. “Wah… hebat ya kamu, Zea,” ucapnya dengan nada yang jelas tidak tulus. "Baru juga hidup enak sedikit, sudah bisa buka butik sebesar ini.” Suasana mendadak hening. Beberapa anak panti yang tadi tertawa mulai saling berpandangan. Arumi di sampingku langsung mengernyit, jelas tak suka dengan nada bicara itu. aku menahan napas, mencoba tetap tenang. “Iya, Bu… ini berkat kerja keras juga,” jawabku sopan, meski hatiku mulai terasa tak nyaman. namun dia tertawa kecil. “Kerja keras?” ulangnya. “Atau… karena laki-laki kaya yang kamu nikahi?” Kata-katanya menusuk. Aku bisa merasakan beberapa tamu mulai memperhatikan. Bisik-bisik kecil mulai terdengar. Arumi langsung maju selangkah. “Bu, jaga bicara ya—” Aku menahan tangan Arumi pelan. Aku tidak mau membuat keributan di hari pentingku. Aku menatap ibu panti itu, kali ini lebih berani. “Mungkin benar hidup saya berubah, Bu,” ucapku pelan tapi tegas. “Tapi bukan berarti saya tidak berjuang. Dan bukan berarti saya pantas diremehkan.” Dia terdiam sesaat, mungkin tak menyangka aku akan membalas. Aku melanjutkan, suaraku tetap tenang meski hatiku bergetar. “Dulu… saat saya tidak punya apa-apa, saya tetap bertahan. Dan hari ini, saya hanya melanjutkan mimpi yang sudah lama saya simpan.” Anak-anak panti menatapku dengan mata berbinar. Arumi tersenyum bangga di sampingku. Ibu panti itu mendengus kecil, lalu memalingkan wajah. Namun sebelum dia sempat berkata lagi— Suara pintu butik terbuka. Semua orang menoleh. Dan di sana… Kenan berdiri. Aura dinginnya langsung memenuhi ruangan. Tatapannya tajam, menyapu situasi yang jelas tidak biasa. "Sepertinya… saya datang di waktu yang tepat,” ucapnya datar. Langkahnya mendekat, lalu berhenti di sampingku. Tanpa banyak kata, tangannya meraih tanganku—menggenggamnya erat di depan semua orang. "Saya tidak suka,” lanjutnya dingin, menatap ibu panti itu, “kalau istri saya diremehkan.” Ibu panti itu kembali mendengus, seolah tak peduli dengan kehadiran Kenan di sampingku. Tatapannya tetap tajam, penuh penilaian. "Hm… istri?” ucapnya sinis. “Tetap saja, Zea. Kamu itu cuma numpang hidup. Tanpa laki-laki itu, apa kamu bisa berdiri di sini sekarang?” Kata-katanya kembali menghantam. Beberapa tamu mulai benar-benar tidak nyaman. Anak-anak panti bahkan terlihat gelisah, sebagian menunduk. Tanganku yang masih dalam genggaman Kenan terasa sedikit menguat, seolah dia menahan sesuatu. Tapi kali ini… aku yang melangkah maju. Perlahan aku melepaskan genggaman Kenan, membuatnya sedikit menoleh padaku. Aku memberi isyarat halus—biarkan aku. Aku menatap ibu panti itu, tanpa lagi menunduk. “Iya, Bu,” ucapku tenang. “Mungkin sekarang saya memang hidup lebih baik karena suami saya.” Aku berhenti sejenak, menarik napas. “Tapi mimpi ini…” aku menoleh ke arah butikku, lalu kembali menatapnya, “sudah saya punya jauh sebelum saya mengenal dia.” Dia terdiam, tapi aku belum selesai. “Dulu saya mungkin tidak punya apa-apa. Tapi saya tidak pernah berhenti bermimpi dan berusaha. Dan hari ini… saya berdiri di sini bukan karena numpang hidup.” Suaraku mulai terdengar lebih tegas. “Tapi karena saya memilih untuk bangkit.” Aku bisa merasakan semua mata tertuju padaku. “Istri saya tidak pernah numpang hidup.” Suara Kenan tiba-tiba terdengar, dalam dan dingin. Dia melangkah maju, berdiri sejajar denganku. Dia Ibu panti itu akhirnya tak mampu berkata apa-apa lagi. Tatapannya yang tadi tajam kini berubah gelisah. Ia melirik ke sekeliling, menyadari semua orang justru memandangnya dengan ekspresi tak nyaman. Tak ada lagi yang membenarkannya. Dengan langkah cepat dan wajah yang menahan malu, ia berbalik pergi tanpa pamit. Pintu butik terbuka… lalu tertutup kembali. Dan seolah beban berat ikut terangkat bersama kepergiannya. Suasana perlahan mencair. Anak-anak panti kembali tersenyum, Arumi langsung menghampiriku sambil berbisik, “Gila… kamu keren banget tadi.” Aku hanya tersenyum kecil, masih mencoba menenangkan jantungku yang sejak tadi berdebar tak karuan. Namun belum sempat aku benar-benar tenang— Seorang wanita elegan melangkah masuk ke dalam butikku. Penampilannya sederhana, tapi berkelas. Cara ia memperhatikan setiap detail ruangan membuatku langsung sadar… dia bukan tamu biasa. Matanya berhenti pada salah satu gaun hasil desainku yang dipajang di etalase utama. Dia mendekat, menyentuh kainnya dengan hati-hati. "Ini… desain kamu?” tanyanya tanpa menoleh. Aku sedikit gugup, tapi tetap menjawab, “Iya, Bu. Semua yang ada di sini saya desain sendiri.” Wanita itu akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, namun kali ini bukan meremehkan—melainkan menilai. “Menarik,” ucapnya singkat. ia berjalan mengelilingi butik, memperhatikan satu per satu koleksi yang kupajang. Setiap langkahnya terasa seperti penilaian diam yang membuatku menahan napas. Arumi bahkan sampai ikut diam, tak berani berkomentar. Beberapa detik yang terasa lama akhirnya terlewati. Wanita itu kembali berdiri di hadapanku. “Kamu punya ciri khas,” katanya. “Potonganmu berani, tapi tetap elegan. Tidak banyak desainer baru yang berani seperti ini.” Dia tersenyum tipis. “Saya sedang mencari desainer untuk proyek besar. Show eksklusif… dan mungkin kerja sama jangka panjang.” Aku membeku. "A-apa maksud Ibu…?” "Saya tertarik dengan kamu, Zea.” Dunia seakan berhenti sejenak. Di sampingku, Kenan tetap diam, tapi aku bisa merasakan tatapannya padaku—seolah menunggu bagaimana aku akan melangkah. Kesempatan ini… Jauh lebih besar dari yang pernah aku bayangkan. Wanita itu lalu mengeluarkan kartu nama dan menyodorkannya padaku. “Hubungi saya kalau kamu siap,” ucapnya tenang. Aku menerima kartu itu dengan tangan sedikit gemetar. Hari ini… Bukan hanya tentang pembukaan butik. Tapi tentang pintu baru yang perlahan terbuka. Aku merasa… mimpiku benar-benar mulai hidup.saya beri kesempatan. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN