Leonardo mengedarkan pandangannya ke penjuru mansion, terasa sepi. Pria itu menuruni tangga dan memanggil Karin tak sabaran. "Ya Tuan?" tanya Karin dengan menundukkan kepalanya. "Florence?" "Beliau belum terlihat sejak pulang, Tuan," balas Karin sopan. "Baiklah." Leonardo mengangguk dan mempersilahkan Karin pergi. Pria bermanik biru itu mendudukkan tubuhnya tepat di sofa besar di ruang keluarga. Ia memijit pelipisnya yang menegang, rasanya semua masalah ini terlalu rumit. Ia tak bisa menerimanya begitu saja. Di tengah pikirannya yang berkecamuk, terdengar derap langkah kaki yang begitu ia kenali. Leonardo menolehkan kepalanya ke belakang, tepatnya di undakan tangga. Pria itu lantas memberikan senyum palsunya guna menyambut putri kecilnya yang terlihat seperti baru bangun. Alaizya ber

