Suara denting gelas dan tawa lepas dari pria-pria berjas mewah mencairkan udara malam itu. Di sebuah lounge kelas menengah, musik pelan mengalun, asap rokok menari-nari di udara, dan para perempuan berpakaian minim mondar-mandir menyambut pelanggan. Di sudut ruangan, duduk seorang perempuan bergaun merah marun dengan belahan d**a yang terlalu rendah untuk sekadar berpura-pura sopan. Dhira. Wajahnya cantik, tubuhnya masih memikat, tapi matanya lelah—terlalu lelah untuk ukuran wanita muda. Seseorang menarik kursi di depannya. Dhira mendongak, dan matanya membelalak. "Dirga?" Pria itu tersenyum. Tidak seperti biasanya. Dasi longgar, kemeja kumal, dan wajah tirus. Bukan Dirga yang dulu menyetir mobil sport dan menyembunyikannya dari dunia sebagai selingkuhan kelas dua. "Hei. Masih ingat d

