Kemarahan Linah

1404 Kata
Lagi, Lita tidak menjawab dengan ucapan dan hanya mampu menggeleng karena tidak bisa menahan tangisnya. Ia langsung menghamburkan diri ke pelukan kakaknya. “Lita hamil, Kak ...." Tentu ucapan Lita dapat didengar jelas meskipun diiringi tangisan hingga membuat Leon terpaku. Bahkan ia tidak bisa menggerakkan kedua tangannya walau hanya untuk sekedar membalas pelukan adiknya. “Siapa pria itu?” Bukan Leon yang bertanya, tetapi Linah—ibu mereka yang sejak tadi sudah berdiri di depan pintu kamar mandi karena mendengar suara Lita saat muntah. “Ibu?!” pekik keduanya dengan wajah panik. “Siapa pria itu?!” bentak Linah dengan mata yang sudah memerah menahan amarah. Leon melepas pelukannya pada Lita lalu menghampiri ibunya untuk membujuk agar bisa bertanya dengan lebih tenang. “Bu, jangan marahi Lita. Kita tanyakan baik-baik agar dia bisa menjawab tanpa ketakutan." Tetapi Linah sudah tidak bisa lembut lagi karena musibah yang dibuat anak kesayangannya itu. Ia langsung melangkah masuk lalu menjambak rambut Lita yang hanya bisa menunduk kemudian menyeretnya keluar dari kamar mandi. “Ampun, Bu, ampuuun …,” pinta Lita dengan tangis kencang karena sakit di kepalanya. Satu tangan Linah langsung memukuli punggung Lita karena emosi yang sudah tidak tertahan lagi tanpa melepaskan rambut anaknya. “Kurang apa ibu dalam mendidik sampai kamu balas seperti?! Kurang baik apa ibu sebagai orang tua hingga kamu bisa memberi ibu malu?! Apa ada cara Bapak dan Ibu yang salah dalam mendidik kamu?!” omelnya. “Ampuuun, Bu …” ucap Lita sambil bersujud di kaki ibunya tanpa berusaha menghindar dari belasan pukulan di punggungnya. “Bu, jangan seperti ini, kasihan Lita,” pinta Leon sambil berusahan menahan tangan Linah agar berhenti memukul. “Untuk apa kasihan pada anak ini. Dia saja tidak kasihan pada ibu yang harus menanggung malu karena perbuatnnya,” balas Linah tanpa berhenti memukul Lita yang sedang memeluk kakinya. “Maaf, Bu …,” isak Lita. “Bu, sudah, Bu,” pinta Leon lagi. Linah memang berhenti memukul, tetapi bukan untuk mengakhiri kemarahannya, melainkan untuk mengambil alat karena tanganya sudah lelah memukul. Ia sedikit menghentakkan kakinya agar terlepas dari pelukan Lita, lalu berjalan untuk mengambil mengambil sapu lantai, bahkan ia mengabaikan nafas sesaknya karena rasa kecewa yang teramat sangat. Leon langsung mendekati ibunya agar tidak memukul Lita lagi. “Jangan, Bu!” cegahnya sambil menarik sapu lantai yang sudah dalam genggaman ibunya. “Lepas, Leon, biarkan ibu didik anak itu dengan kekerasan. Selama ini kita sudah terlalu lembut padanya sampai dia bisa meleparkan kotoran ke wajah kita seperti ini,” balas Linah dengan nafas tersengal. “Jangan pakai kekerasan, Bu,” pinta Leon lagi dan masih berusaha merebut sapu lantai dari tangan ibunya. “Mulai sekarang ibu akan mendidik anak itu dengan kekerasan!” Linah melepas sapu lantai karena Leon terus merebutnya lalu berjalan menuju tempat berbagai macam alat masak menggantung dan langsung melempar Lita dengan wajan, panci, spatula dan apa pun yang ada di dekatnya selain cobek dan pisau. “Anak tidak tahu diuntung. Anak tidak tahu diri. Bikin malu keluarga. Pergi kamu dari sini!” maki Linah. Leon tidak mencegah ibunya lagi untuk berhenti melempar, ia malah mendekati Lita lalu memeluk untuk melindungi adiknya yang hanya bisa duduk membungkuk tanpa berusaha menghindar. Bahkan, saat papan kecil yang biasa digunakan sebagai alas memotong sayuran mengenai punggungnya dengan cukup kencang, ia tetap memeluk punggung adiknya. “Maafkan Lita, Kak,” isak Lita. Leon tidak membalas permintaan maaf Lita karena fokus pada benda-benda yang mengenai punggungnya. Hingga ia tidak merasakan ada yang dilempar lagi, lalu menoleh untuk memastikan ibunya sudah berhenti marah. Namun, tidak adanya benda yang terlempar bukan karena Linah berhenti marah, tapi karena nafas yang semakin sesak dan sakit yang teramat sangat di dadanya hingga ia tidak sanggup berdiri lagi. “Ibu!” teriak Leon saat melihat ibunya perlahan berlutut sambil memegangi dadanya. “Ibu kenapa, Bu?!” teriaknya panik karena takut sakit jantung Linah kumat lagi. Lita juga segera bangun dari posisinya untuk melihat keadaan Linah. “Ibu kenapa?” tanyanya tak kalah panik dari Leon. “Lita, telepon ambulan dengan ponsel Kakak, lalu cari obat Aspirin di tempat biasa ibu menyimpan obat!” perintah Leon. Lita lansung berlari secepat mungkin untuk menelepon dan mengambil obat sesuai perintah Leon. Sedangkan Leon langsung memberikan Resusitasi Jantung Paru (RJP) atau nafas buatan yang diselingi menekan-nekan d**a ibunya berkali-kali. “Bu, ibu pasti kuat!" ujar Leon saat ibunya masih saja sulit bernafas di tengah pertolongan yang ia berikan. “Kak, obat Aspirin ibu habis!” ujar Lita dengan kapanikan yang tidak berkurang. “Kamu sudah telepon ambulans?” “Sudah, Kak!” Leon terus menekan d**a Linah yang diselingi nafas buatan, tetapi pertolongannya itu tidak juga merubah keadaannya. Ia langsung menggendong ibunya keluar rumah untuk mencari bantuan karena takut ambulans lama datang. “Lita, buka pintu lebar-lebar!” perintah Leon saat mengangkat ibunya. Lita kembali berlari untuk membuka pintu utama rumahnya agar Leon bisa dengan mudah keluar. Karena letak rumah jauh dari jalan raya maka, Leon langsung berlari ke mobil sedan hitam yang berada tepat di depan pekarangan rumahnya. Lita tahu ke mana arah Leon berlari, ia langsung berinisiatif berlari mendahului kakaknya untuk meminta tolong pada siapa pun orang yang ada di dalam mobil. Lita mengetuk kaca mobil dengan kencang dan cepat lalu menyatukan kedua tangan di depan dadanya untuk memohon. “Tuan, Nyonya, tolong, ibu kami sakit!” pintanya karena tidak tahu siapa yang ada di dalam mobil. Dua orang yang ada di dalam mobil tentu tidak akan membuka kaca apalagi pintu untuk menolong, karena tujuan Sang Majikan datang ke sini hanya untuk melihat kesusahan mereka. Semalam, setelah mengikuti Lita pulang dan tidak terjadi apa-apa di dalam rumah, Adrian menyuruh Hans kembali ke hotel lalu pagi ini baru lima menit ia tiba di tempat, sudah langsung disuguhkan pemandangan yang menyejukkan hatinya. Lita mendekatkan wajahnya untuk melihat bagian dalam mobil, khawatir ia dan kakaknya hanya menunggu mobil tanpa pemilik karena tidak mendapat jawaban. Andrian langsung menoleh ke arah berlawanan untuk menyembunyikan wajahnya karena ia yakin jika Lita melihat, dia tidak hanya meminta tolong, tapi pertanggungjawaban atas kehamilannya. “Tuan, tolong kami!” pinta Lita lagi setelah mengetahui ada orang di dalam mobil sambil terus mengetuk kaca. Merasa pemilik mobil memang enggan menolong, Leon berlari ke arah lain untuk meminta tolong pada siapa pun, disusul Lita juga ikut berlari. “Kita tolong mereka atau tidak, Pak?” tanya Hans saat melihat adik-kakak itu berlari dengan panik. “Tidak perlu, biarkan itu menjadi hiburan untukku. Sudah tiga bulan lalu aku menunggu momen ini. Momen di mana pria berengsek itu menangis karena kesusahan keluarganya,” balas Adrian, angkuh. “Kak, kita ke rumah Pak Yanto, hanya dia tetangga kita yang memiliki mobil,” ujar Lita sambil berlari mendahului Leon. Leon tidak menjawab karena semakin khawatir dengan kondisi ibunya yang sudah memucat karena kekurangnya oksigen dan aliran darah yang tidak lancar ke jantung. “Ibu kuat, ya, Bu. Kita pasti mendapatkan pertolongan,” hibur Leon dengan air mata yang mulai menetes saat rasa takut hadir di tengah kepanikkan, bahkan rasa sakit dan panas di kaki karena lupa memakai alas, ia abaikan begitu saja. “Pak Yanto!!” teriak Lita di depan gerbang yang menjulang tinggi. “Tolong Lita, Pak!” Di menit itu juga sepasang suami-istri selaku pemilik rumah, keluar dengan wajah panik karena suara teriakkan Lita yang bercampur tangis. “Ada apa Lita?” tanya tuan rumah. “Pak, serangan jantung ibu kambuh lagi, Lita sudah telepon ambulans, tapi takut lama datangnya, bisa antar kami ke rumah sakit dengan mobil Bapak?” “Bisa, bisa,” balas Yanto. "Bu, ambil kunci mobil!" perintahnya pada Sang Istri sambil berlari ke mobilnya, bahkan ia tidak memikirkan pakaian yang dikenakan yang hanya mengenakan tangtop dan celana pendek sebatas lutut. "Iya, Yah!" balas nyonya rumah dengan berlari secepat mungkin. “Kak, Pak Yanto mau mengantarkan kita!” ujar Lita sambil menghampiri kakaknya. Tetapi, bukannya senang mendapat pertolongan, Leon malah berteriak memanggil ibunya yang tiba-tiba diam saja. “Ibu!!” “Ibu kenapa, Kak?” tanya Lita panik. Leon menurunkan Linah di atas ratusan krikil untuk mengecek denyut nadi guna memastikan ibunya masih bernafas. “Ibu, bangun, Bu. Kita selesaikan masalah ini sama-sama!” teriak Leon lagi saat tidak merasakan sedikit pun gerakan pada denyut nadi ibunya. “Bangun, Bu,” pintanya sambil memeluk tubuh Linah. Meskipun Leon tidak mengatakan ibunya sudah meninggal, tapi Lita tahu dari permintaan Leon. Ia ikut memeluk tubuh ibunya tak kalah erat. "Jangan pergi, Bu … Lita masih butuh ibu,” lirihnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN