Suara tawa Rafael memenuhi ruangan Presiden Direktur. Seorang wanita paruh baya sedang bercanda dengan bayi kecil itu, terkadang menggelitiknya sampai tertawa terpingkal-pingkal. Seluruh interaksi yang terjadi berada dalam pengamatan Nathan dan Angeline. "Bagaimana?" tanya Nathan. "Dia bagus. Rafa juga kelihatan nyaman dengannya." Angeline mengerucutkan bibir. Dia sedikit cemburu melihat putranya tertawa dalam pelukan orang lain. Nathan menangkap ekspresi aneh tersebut dan berkata, "Kita pertimbangkan dulu. Aku akan suruh dia pulang." Angeline mengangguk setuju. Beberapa waktu kemudian ruangan kembali sepi. Rafael telah kembali berada dalam gendongan Angeline. Bayi itu menyusu dengan mata terpejam, tampaknya lelah karena terlalu banyak tertawa. Angeline bersenandung lembut yang membua

