Sudah hampir satu jam Dion menunggu Alice. Dia duduk di pinggir ranjangnya. Sembari memegang tangan Alice. Kedua mata itu terus menatap mata Alice yang masih terpejam. "Alice.. Bangunlah!" ucap Dion. Dia terus berusaha membangunkan Alice. Tapi tetap saja Alice belum juga sadar. Tubuhnya semakin demam tinggi. "Pelayan, tolong telpon dokter sekarang. Aku tidak mau jika dia mati disini. Akan menambah benakku nantinya." ucap Dion kesal. Bukanya dia merasa simpati dan kasihan dengannya. Alice membuat dirinya semakin marah. Apalagi sekarang beban pikirannya tidak hanya Alice. Dia juga melihat lagi keadaan Alice yang bahkan semakin buruk. "Wanita ini terlalu lugu atau terlalu bodoh. Kenapa dia melakukan ini. Apa jika mengakhiri hidupnya bisa menghilangkan masalah dalam dirinya. Pikirannya t

