"Seokmin-hyung, kenapa kau begitu sulit menerima Junhyo?"
"Kau bertanya kenapa?"
"Tentu saja, karena dia ini anak s**l, dia mengambil semua posisi, dia mengambil bagian vocal dari Taemin dan Taeyul! Dia mencari perhatian pada bang manager-nim! Dia juga mengambil posisi Daeho sebagai dance terbaik! Sebentar lagi posisi rap terbaikmu mungkin juga akan diambil olehnya! Dan fans lebih suka dengannya, tentu saja, dia bisa semua, dan dia tunjukan semua, sehingga adik-adik ku tidak mendapat bagian!"
"Dan Junhyo-ah! Memangnya kau pikir siapa dirimu? Haha, kau sangat tidak tau diri, kau seperti melakukan semuanya semaumu, seenakmu, tanpa memikirkan kami!! Dasar anak pembawa s**l. Harus nya kau tidak disini!"
Ucapan Seokmin terus mengiyang di kepala Junhyo, seperti kaset yang terus berputar ulang, lagi, lagi dan lagi. Junhyo menunduk sambil bersandar di meja nakas miliknya lalu dia menyandarkan kepalanya di tepian ranjang.
"Mianhae hyung ... Mi-mianhae hyung ... Hiks," gumam Junhyo dengan suara bergetar, disertai liquid bening yang mulai membanjiri pipinya. (Mianhae : maaf).
Junhyo mengepal kuat tangannya dengan seraya menangis tanpa suara. Dia melangkah masuk ke kamar mandi setelah mengunci pintu kamarnya. "Kalian mungkin benar tentang ku hyung, aku mungkin pembawa masalah yang besar ... Aku mungkin penghalang terwujudnya cita-cita kalian hyung," ucap Junhyo sambil menatap pantulan dirinya pada cermin yang berada di atas wastafel kamar mandi. Lalu tangannya terarah mengambil botol putih kecil tanpa merk dan menuang beberapa butir obat di telapak tangan dengan jumlah yang banyak.
"Gomawo hyungdeul," ucap Junhyo menatap pantulan dirinya disertai senyuman yang penuh dengan ketulusan. Dia meneguk beberapa butir obat yang telah ia tuang dengan sekali telan. Hanya sekali. Membuatnya tercekat dan terjatuh pingsan di kamar mandi dengan mata yang sembab dan wajah yang pucat.
Kacau, benar-benar kacau.
Sementara di waktu yang bersamaan, keenam pria tengah berkumpul di ruang tamu dengan aktivitas nya masing-masing.
"Hyung, ku rasa tadi itu kau sangat keterlaluan," ucap Seojun. Seokmin lagi-lagi hanya berdecih tak perduli.
"Itu kenyataannya Seojun-ah," jawabnya dengan santai. Tanpa merasa bersalah sedikitpun. Tanpa memikirkan lagi bahwa ucapannya bisa saja menimbulkan luka. Luka yang tak bisa disembuhkan dengan apapun kecuali dengan permintaan maaf yang tulus.
Seojun menghela nafasnya kasar dan beralih melihat jam besar yang tertempel di dinding.
"... ." hening.
Benar-benar sunyi, padahal ada enam orang di ruang tamu tersebut. Tapi suasana begitu sunyi.
Bermenit-menit telah di lewati, bahkan berjam-jam, tapi tidak ada yang menyadari ketiadaan Junhyo. Rumah ini tidak kosong, tapi rasanya seperti tak ada kehidupan sama sekali.
"Seojun-hyung, bukan kah kita harus menulis lirik lagu yang baru lagi?" Taemin yang menyadari keheningan tersebut, memulai pembicaraan. Seojun hanya menoleh tanpa menjawab.
"Cih, Taemin-ah. Sudahlah tidak perlu urus dia, Seojun-ah mungkin kau lupa janji kita untuk menyingkirkan anak itu? atau kau hanya pura-pura lupa?" tanya Seokmin dengan nada sedikit menyindir. Yeonu yang mendengar itu merasa sedikit geram. Begitupun juga dengan Seojun, dia mengepalkan tangannya kuat.
"Ya mungkin dia lupa, Taemin sebaiknya kau ajak Taeyul ke halaman belakang," lanjut Seokmin. Taemin mengangguk dan segera mengajak Taeyul pergi kehalaman belakang, tempat di mana Junhyo suka menyendiri. Di tepi kolam kecil yang penuh dengan ikan dan penghias batu kecil berwarna warni.
"Apa kau tidak ingat Seojun-ah?" tanya Seokmin, kali ini dengan nada suara yang dingin disertai tatapan elang miliknya.
"Hyung bisakah kau menghormatiku sebagai seorang leader disini?" tanya Seojun balik.
"Aku kakak mu Kim Seojun!" bentak Seokmin.
"Seokmin-hyung, sudah ... Jangan bertengkar," ucap Daeho seraya menahan tubuh kekar sang kakak yang terlihat ingin memukul Seojun.
"Cih," decihnya.
"Kalian tidak bersikap dewasa, kalian terlalu kekanak-kanakan dan kau Seokmin-hyung, jika memang kau yang tertua kenapa sikapmu kekanak-kanakan?" ujar Yeonu sambil menatap sang kakak. Seokmin tertawa miris mendengarnya.
"Obat apa yang sudah di berikan Junhyo pada kalian?" tanya nya masih disertai tawa mirisnya. Tidak ada yang menjawab sama sekali.
"Kalian semua pengkhianat! Yeonu kau sudah berjanji padaku. Daeho, kau juga, kau bahkan yang paling bersemangat saat itu haha, dan kau Seojun-ah," Seokmin sedikit menjeda ucapannya. "Pengecut," sambungnya. Setelah itu dia pergi ke kamarnya, meninggalkan ketiga adiknya di ruang tamu.
"Mi-mian," ucap Seojun terbata-bata. setelah itu dia pergi ke kamarnya, tanpa mendengar jawaban dari Daeho atau pun Yeonu. Keduanya hanya menghela nafas dalam.
"Aku ke kamar," ucap Yeonu. Daeho hanya mengangguk dan kembali duduk di atas sofa.
"Janji ya ... Huft Kenapa dulu aku berjanji begitu," ucap Daeho disertai kekehan mirisnya.
"Yaa kita harus menyingkirkan nya, bagaimanapun kita cuma ada enam, bukan tujuh. Sekalipun ada tujuh sebaiknya jangan dia, masih banyak anak laki-laki yang ingin menjadi anggota grup, aku janji akan menyingkirkannya apapun yang terjadi, aku akan lakukan,"
Ucapan itu kembali terngiang di pikiran membuat kepalanya pusing. Dia memejamkan matanya dan bersandar pada bahu sofa.
Sedangkan Taemin dan Taeyul, sedang berada di halaman belakang, memandangi pemandangan indah. Langit sudah hampir gelap, malam akan segera tiba, namun tidak ada yang tahu keadaan Junhyo sekarang. Kalian semua kemana, tolong Junhyo, kenapa kalian sama sekali tidak perduli padanya?
"Taeyul," ucap Taemin.
"Ya?" sahut Taeyul.
"Bagaimana caranya menyingkirkan Junhyo?" tanya Taemin. Maniknya terus memandang langit.
Taeyul sedikit berfikir sebelum menjawab. "Mungkin siksa saja, jika dia tak tahan pasti dia akan berhenti dan pergi."
Taemin mengangguk pelan. "Tapi Junhyo tipe yang bertahan. Seokmin-hyung sering menghukumnya, tapi dia tetap bertahan," ucap Taemin.
"Sudahlah, ayok masuk sudah hampir malam, aku senang dua hari lagi kita akan konser di LA," ucap Taemin semangat.
Taemin merangkul bahu Taeyul dan mengajaknya ke dalam. Terlihat begitu tulus. Mungkin akan berbeda jika itu Junhyo.
~]][[~
Pukul 07:00 A.M
Seokmin bersiap untuk pergi membeli sesuatu di temani dengan Seojun yang akan menyetir dan sikembar Taeyul dan Taemin yang selalu mengekor. Sedangkan di rumah hanyalah ada Yeonu, Daeho dan Junhyo.
Para hyung sama sekali tidak sadar apa yang terjadi pada Junhyo. Sudah berjam-jam Junhyo tergeletak di kamar mandi. Bagaimana sekarang keadaan nya? Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang perduli.
Seojun, Seokmin, Taemin dan Taeyul berangkat pagi sekali, Seokmin bilang akan ada banyak barang yang dibeli.
Yeonu duduk di sofa, di mana tempat dia biasa duduk dan sudah menjadi tempat favoritenya.
"Yeonu-hyung, aku tidak melihat Junhyo sejak kejadian dia dimarahi oleh Seokmin-hyung," ucap Daeho.
"Kau benar aku akan cek ke kamarnya, semalampun lampu kamarnya terus mati," ucap Yeonu sambil berjalan ke arah kamar Junhyo.
Daeho mengangguk. "Suruh dia turun hyung, kita makan bersama saja, aku punya roti," ucap Daeho. Senyumnya mengembang karena senang.
Yeonu berdiri di depan pintu kamar Junhyo seraya mengetuk pintunya.
Tok
Tok
Tok
"Junhyo-ah, keluarlah ini sudah pagi, kau harus makan," ucap Yeonu. Namun tidak ada jawaban, sama seperti pertama kali Yeonu mengetuk pintu kamar Junhyo waktu itu. Perasaan Yeonu mulai khawatir.
Tok
Tok
Tok
"Junhyo, apa kau belum bangun?" tanya nya lagi. Kali ini Yeonu benar-benar khawatir, dia harus bertindak.
Tapi pintu kamar Junhyo terkunci rapat. Yeonu menendang pintu itu kuat.
Brukk
Tidak berhasil, tapi ia terus menendangnya.
Brukk
Brrukk
Daeho yang mendengar itu menjadi bingung dan segera berlari ke atas. "Hyung ada apa?" tanya Daeho kebingungan.
"Bantu aku membuka pintu ini argh!" ucap Yeonu sambil terus mendobrak pintu itu dengan punggungnya. Daeho tidak tinggal diam. Dia ikut mendobrak pintu kamar Junhyo dengan kuat, sampai akhirnya pintu itu terbuka.
Sunyi.
Tidak ada siapapun di dalam kamar.
Yeonu yang khawatir langsung membuka pintu kamar mandi Junhyo untuk meriksa. Dia membeku ketika melihat sosok sang adik yang tergeletak di lantai kamar mandi. Wajah Junhyo sudah benar-benar pucat seperti mayat.
"Ada apa hyu-" ucap Daeho terjeda ketika dia melihat Junhyo. Rasanya seperti ada yang mencekat di lehernya, dia tiba-tiba saja merasa tidak bisa bernafas.
"JUNHYO!!"
~]][[~