06

1061 Kata
Keringat, air mata dan wajah tersiksa bergabung menjadi satu, Rico menyukai itu. “Ini masih jam 5 pagi sweety, ini belum berakhir.” “Hentikan Rico.. aku mohon, aku sudah tidak kuat.” Namun seakan tak mendengarkan Karin, Rico malah mengambil Vibrator nya tadi lalu menancapkannya ke liang Karin. “Rico.. Aku mohon..” Karin menggeleng pelan, meminta Rico menyudahi kegilaan itu. “Tidak sweety, kau harus dihukum karena membiarkan orang lain mengelus kepalamu.” Rico kembali membalik tubuh Karin menghadap padanya. Ia menekan dalam Vibrator itu tanpa menyalakannya. “Katakan kau milik siapa...” “Kauuuhhh” “Katakan yang benar sweety. “Aku milikmu Rico! Hahhhh” Karin memejamkan matanya saat Vibrator itu mengocok kewanitaannya. “Nikmatilah hingga alat itu mati, sweety.” Rico melumat sekilas bibir Karin dan meninggalkan perempuan itu yang terus berteriak dengan napas yang tak teratur. Rico beralih ke kamar mandi dan membersihkan diri. Saat keluar dari kamar mandi, ia bisa melihat Karin yang masih pada posisinya. Rico berbaring di samping Karin dan membelai tubuh berkeringat itu. “Sweety dream.” Karin terbangun ketika siang telah datang, ia yakin dirinya baru tidur beberapa jam dan sekarang ia terbangun karena tepukan Rico di pipinya. Keadaanya masih sama, terikat mengangkang hingga memperlihatkan Vibrator yang kehabisan baterai masih tertancap di kewanitaannya. “Bagaimana perasaanmu sweety?” “Tolong lepaskan ikatan ini Rico..” lirik Karin lemah. “One Kiss.” Ucapnya tepat di bibir Karin. Perempuan itu langsung meraih bibir Rico namun karena jarak bibir Rico masih cukup jauh ia perlu usaha lebih untuk meraihnya. Ketika mendapatkan bibir itu pun, Rico tak ingin susah payah menurunkan kepalanya agar ciuman itu semakin dalam. Karin membuka matanya dan menatap mata Rico saat lelaki itu tak membalasnya dan tak menurunkan kepalanya. Rico memeluk Karin dan memutar tubuh mereka hingga Karin berada di atas Rico. Dan dengan segera Karin mencium Rico namun di halangi oleh lelaki itu. “Satu ciuman dan dua kiss mark, kau bebas.” Ketika tangan Rico menyingkir, Karin langsung mencium bibir Rico ganas. Walaupun lelaki itu tak membalasnya namun semakin lama, Rico lah yang mengambil alih. Lelaki itu terus menekan kepala Karina agar ciuman mereka semakin dalam. Setelah kehabisan napas, Rico melepaskan ciuman itu membuat Karin beralih ke leher Rico. Ia ingin segera menyudahi kegiatan itu. Karin memberikan dua buah kissmark yang indah di leher Rico. “Sekarang lepaskan aku..” ucapnya pelan. “Good girl, but i want two cum.” “Kau sudah berjanji.” Protes Karin. “Ughhhh” Karin merasakan Rico mendorong tubuhnya hingga miliknya masuk ke lubang Karin. “2 c*m” Karin mulai menggerakkan pinggulnya dan Rico hanya menikmatinya di bawah. Beberapa puluh menit akhirnya Rico mendapatkan apa yang dia inginkan. Rico tersenyum dan kembali membalik tubuh Karin hingga perempuan itu berada di bawah. Dilepasnya kedua ikatan itu hingga menimbulkan bekas merah yang tak tertutupi. Rico mencium pergerakan tangan yang terlihat sedikit lecet itu. “Makan dan obati ini, aku harus pergi.” Rico meninggalkan Karin. Perempuan itu memilih tidur dari pada melakukan apa yang di suruh Rico tadi. Tubuhnya sakit terutama kewanitaannya yang sudah sangat merah, ia yakin kewanitaannya lecet karena tadi saat melakukannya ia merasa kesakitan. ::: Seperti yang pernah Karin katakan pada Rico, ia tak akan membiarkan seseorang menyentuhnya lagi. Terutama Tian. “Pergilah, jangan dekat-dekat.” Ucap Karin saat Tian menghampirinya. “Sudah kubilang pergi!” “Kau kenapa? Pms?” Tanya Tian heran. Karin pergi meninggalkan Tian hingga ia tak sengaja menyenggol bahu Bella yang sedang berjalan berlawanan arah bersama Rico. “Kau tak punya mata ya?!” Bentak Bella. “Maafkan aku.” Karin menunduk menyesal dan pergi, namun cekalan tangan perempuan itu menahannya. “Sayang, dia sangat menyebalkan.” “Lepaskan dia Bel.” Seru Tian yang berdiri tak jauh dari mereka. Melihat Tian entah kenapa emosi Rico langsung naik. “Di bela pacar, uh?” Bella menatap Karin tak suka. Setiap melihat Karin, Bella selalu teringat bahwa perempuan itu berani mencium pacarnya di kantin. Tian mendekat dan Karin berusaha melepaskan cengkraman Bella. “Dia bukan pacarku. Aku sudah memiliki pacar.” Ucapan Karin membuat langkah Tian terhenti. “Wah wah wah, lelaki buta seperti apa yang mau menjadikanmu sebagai pacarnya?” “Lepaskan dia. Tak ada gunanya kau mengganggunya.” Suara Rico akhirnya mengambil alih. Rico merangkul pinggang Bella saat perempuan itu melepaskan tangan Karin. Mereka berdua segera meninggalkan Karin dan juga Tian yang hanya saling diam. Karin memilih pergi, mengabaikan panggilan Tian. Kalian pasti berpikir kenapa Karin masih tetap bertahan dan tidak kabur saja. Jawabannya adalah karena ia berhutang nyawa pada Rico. Ya, jika tak ada lelaki itu maka Karin tak akan pernah berada di sana sekarang. Rico lah yang menyelamatkannya saat ia hampir tenggelam. Saat itu pikiran Karin sedang kacau dan ia kabur dari rumah tanpa membawa sepeserpun uang. Oleh karena itu, setelah menyelamatkannya lelaki itu menawarkan apartemennya untuk Karin tinggali karena Rico jarang menggunakannya. Namun seiring berjalannya waktu, lelaki itu selalu menetap di apartemen yang ditinggali Karin dan interaksi mereka semakin dekat hingga suatu malam, Rico mengambil harta berharganya. Dalam berhubungan badan, Rico memang memiliki caranya sendiri. Entah apakah itu hanya terjadi jika bersama Karin ataukah bersama perempuan lain. Karin sebenarnya tau jika selama ini dirinya hanyalah pelampiasan nafsu semata. Rico memiliki Bella untuk ia cintai dan juga memuaskan nafsu lelaki itu. Namun Rico tetap tak mau melepaskan Karin dan malah semakin membelenggu Karin dengan segala peraturan tak tertulis. Karin membuka sebuah pesan masuk dari kontak bernama R. Sampai saat ini ia tak berani menuliskan nama Rico karena ia takut ketahuan orang lain mengenai hubungan mereka. R: Ke taman belakang sekolah sekarang. Karin menghela napasnya dan berjalan ke belakang sekolah, walaupun ia tak tau apa yang akan dilakukan Rico padanya namun ia tetap menurut. Re: Ya Sesampainya di taman, Karin bisa melihat beberapa orang yang sedang mengobrol dan berduaan. Ia melihat Rico yang duduk di bangku sendirian sembari memainkan ponselnya. “Ada apa?” Tanya Karin saat berdiri di hadapan Rico. “Duduk.” Karin pun menurut dan duduk di sebelah Rico. Lelaki itu memasukkan ponselnya dan memiringkan kepalanya, bersiap mencium Karin namun dengan sepontan Karin menghindar. “Ini sekolah.” “Lalu?” “Bagaimana jika mereka tau?” “Memang aku peduli?” “Rico!” Rico langsung menarik tengkuk Karin dan melumat bibir manis itu. Karin memberontak namun ditahan oleh Rico.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN