Workshop yang diikuti oleh beberapa dosen dari kampus ternama telah berakhir, di akhir acara mereka memberikan give away untuk beberapa peserta yang hadir. Salah satu dosen yang merupakan teman Rizal mendapatkannya, sebuah voucher di salah satu kedai kopi ternama di Bantul. Tentu saja, ini salah satu hadiah yang bisa dinikmati para peserta.
“Gak rugi kayaknya rector nunjuk saya supaya mewakili fakultas untuk ikut ini workshop.” Ucap Pak Anwar yang sejak tadi terus menatap voucher yang ia terima, wajahnya tampak sumringah sekali seperti ketiban rejeki nomplok padahal hanya voucher.
“Ngomong-ngomong, Zal! Adikmu itu lumayan rajin lo di kelas saya. Keliatannya minatnya tinggi untuk menjadi marketing.” Ucap Pak Anwar, pria parubaya itu selalu mengingat Raline setiap bertemu Rizal begitu juga sebaliknya. Padahal Rizal dan Raline tidak memiliki wajah yang terlalu mirip mungkin karena mereka saudara berbeda gender.
“Iya, Pak! Sepertinya begitu!” Jawab Rizal tidak ada kalimat lagi untuk menanggapi setiap pujian yang diberikan rekan kerjanya pada adiknya.
Mereka sampai di kedai coffe yang sesuai dengan berlakunya voucher workshop, Sony mempersilahkan Pak Anwar untuk masuk lebih dulu dan Rizal yang terakhir memasuki kedai. Langkahnya terhenti, pandangan matanya pun ikut berhenti pada satu arah lebih tepatnya pada gadis yang sedang melayani pembeli di meja kasir.
Ketika mata mereka bertemu, waktu seakan berhenti berputar. Tidak ada ekspresi pada wajah keduanya, mereka saling mengunci pandangan satu sama lain. Ada debaran yang kembali dirasakan oleh Rizal, mata sedu yang berhasil memikatnya saat di Jepang satu bulan yang lalu. Dan kini kinerjanya masih sama, dia dibuat membeku pada mata yang rupanya tetap terlihat sayu.
“Zal! Ayo!” Panggil Sony dan Pak Anwar yang sudah memilih tempat duduk, Rizal sampai tidak menyadari jika sejak tadi dia termangu cukup lama hanya karena seorang gadis yang wajahnya tampak familiar baginya.
“Udah pesen?” Tanya Rizal, kalimatnya memang ditunjukkan kepada Sony namun matanya masih mengawasi Gerak-gerik gadis yang sekarang terlihat berusaha menghindari kontak mata dengannya.
“Udah dari tadi Zal, kamu aja yang ngelamun kelamaan tadi di depan pintu.” Omel Pak Anwar dengan gaya khasnya seolah sedang memarahi mahasiswa yang datang terlambat pada kelasnya, Rizal yang kaget akhirnya tertawa bersama menyadari bahwa itu hanyalah sebuah candaan semata.
“Kamu kenal sama pegawai itu?” Tanya Sony membuat Rizal langsung menggeleng cepat, tidak ingin ada salah paham.
“Ya mana mungkin Rizal kenal, kenal darimana! Pawangnya aja terus ikut kemana pun Rizal pergi.” Celetuk Pak Anwar sambil tertawa renyah, Sony mengulum senyum melihat wajah Rizal yang malu.
Bukan rahasia lagi, hubungan Rizal dan Yulia memang sudah diketahui oleh rekan sesama dosen, Pak Anwar juga mengajar kekasihnya jadi bukan hal lumrah. Terkadang Yulia menunggu Rizal selesai pulang mengajar hanya untuk pulang bersama.
“Jadi kapan Zal? Ini undangannya?” Tanya Pak Anwar, memang niatnya bercanda namun Rizal hanya tersenyum dan tidak ingin menanggapinya. Sebuah pertanyaan yang sangat umum ditanyakan oleh rekan kerjanya apalagi yang usianya sudah jauh diatasnya.
“Mungkin nunggu pacarnya lulus S2 Pak!” Celetuk Sony membantu Rizal yang sejak tadi hanya bungkam dan tersenyum.
“Ya masih lama kalau itu, tugas akhirnya saja beberapa kali masih revisi sama Bu Wanda.” Jawab Pak Anwar, tidak ingin terlihat menutupi atau menjaga ucapannya.
Semua orang juga tahu beberapa mahasiswa di perguruan tinggi yang berasal dari kalangan orang berada namun tugas akhirnya tidak secepat mahasiswa lainnya. Bahkan ada yang dosen killer seperti Bu Wanda yang tahu betul mana tesis yang dikerjakan sendiri atau menggunakan jasa seperti yang dilakukan kebanyakan mahasiswa demi cepat lulus dari perguruan tinggi.
“Waduh!” Pekik Pak Anwar tiba-tiba begitu membaca sebuah pesan masuk di layar ponselnya, tak lupa tepukan jidatnya mengiringinya.
“Kenapa Pak?” tanya Rizal panik, wajah Pak Anwar terlihat begitu gelisah.
“Kalian ngobrol sendiri aja ya! Saya lupa, saya sudah janji sama istri saya langsung pulang habis workshop karena ada arisan keluarga. Jadwalnya benturan soalnya.” Terang Pak Anwar dengan wajah gelisah, membayangkan ceramah panjang sang istri karena telah lupa dengan agendanya hari ini.
Sony dan Rizal hanya ber-oh ria, Pak Anwar memang tipe suami yang sangat taat kepada istrinya. Jadi tidak heran, jika mendadak dia pulang saat acara kampus karena sebuah pesan dari istrinya. Namun meski begitu, istri Pak Anwar tidak segalak yang mereka kira. Sony dan Rizal sering main ke rumah Pak Anwar dan istrinya akan membuatkan camilan-camilan yang harusnya bisa dinikmati jika mereka pergi ke toko kue.
“Zal! Aku boleh ngomong sesuatu gak sih!” Bisik Sony begitu pelan seolah tidak ingin siapapun mendengarnya, Rizal mengangguk meskipun kerutan mendadak muncul di keningnya.
“Itu cewek bukannya yang ditampar sama Yulia pacar kamu ya?” Tanya Sony sambil matanya memberikan isyarat ke arah gadis yang dia maksud. Rizal tampak terkejut namun hanya sesaat saja, bagaimana pun sahabatnya pasti tahu terlebih setelah video insiden itu telah beredar luas.
“Aku bener kan Zal! Dari awal masuk tadi aku sih nggak ingat tapi keknya daritadi kamu ngawasin dia mulu. Jadi deh aku teringat sama reels i********: yang beberapa hari sempet trending.” Imbuh Sony, Rizal hanya menghela napas sedang Menyusun kata dalam otaknya darimana dia akan mulai untuk bercerita, toh bagaimana pun Sony juga salah satu sahabat karibnya sejak bangku kuliah sehingga sangat hapal betul Gerak-gerik Rizal, tidak akan bisa menutupi apapun.
“Tapi nggak mungkin kan kalau kamu ada hubungan sama itu cewek? Pasti kesalahpahaman kayak biasanya kan?” Tanya Sony lagi, dia sudah berbicara panjang lebar namun sahabatnya hanya menunduk dan memilih menikmati ice americano yang berada di tangannya.
“Nggak seratus persen kesalahpahaman sih Son!” Celetuk Rizal setelah menghela napas panjang, beban ini terlalu berat bukan beban masalah namun hatinya tak mampu untuk membendungnya sendirian.
“Hah? Jadi kamu ada something sama itu cewek?” Tanya Sony terkejut mendengar pengakuan Rizal, Rizal hanya mengendikkan bahunya saja. Sony sudah mendengar helaan napas panjang beberapa kali selama mereka duduk disana, terlebih Rizal terus diam-diam memperhatikan Safira dari kejauhan. Takut jika nanti akan kehilangan gadis itu- lagi.
“Awal mulanya aja deh gimana? Masa aku terus yang tanya mulu ini!” Seru Sony, sejak tadi dia berusaha memancing agar Rizal menceritakannya sendiri namun sahabatnya itu lebih memilih memendamnya.
Rizal akhirnya menceritakan awal mula keberangkatannya ke Jepang sampai kejadian-kejadian detik ini juga, bahkan pertengkarannya dengan Yulia yang sering berselisih paham akhirnya ia beberkan juga pada sang sahabat. Sedangkan Sony yang menjadi pendengar hanya bisa menanggapinya dengan mengangguk, tercengang dan terkejut dengan mata yang membulat sempurna.
Ada yang luruh dari sesak di d**a Rizal begitu ia mencurahkan segala keresahan hati yang ia tahan beberapa hari yang lalu. Rizal meneguk habis ice americano miliknya begitu selesai bicara, suasana sekitar mendadak terasa begitu gerah. Sony kini juga menatap Safira yang masih sibuk bekerja, gadis itu terlihat mengabaikan Rizal yang jelas-jelas sedang memperhatikannya.
“Kamu yakin mau ngikutin keinginan Yulia untuk tidak memiliki keturunan?” Tanya Sony pelan.
“Mana ada sih Son, orang yang tidak ingin memiliki keturunan. Kecuali orang yang menganut Child Free termasuk pacar aku sendiri.” Jawb Rizal, awalnya dia tidak mempermasalahkan Keputusan Yulia toh kala itu Rizal menganggap keinginan Yulia hanya sebuah pengaruh karena maraknya statement itu di sosial media, namun rupanya Yulia masih teguh pendirian dengan prinsip itu.
“Terus gimana? Jujur aja sih Zal! Kamu sama Yulia itu kelihatan banget kalau nyambung tapi dipaksakan. Aku juga melihat sih betapa Yulia tuh punya perasaan dalam ke kamu, tapi ya itu terlalu posesif dan nggak peduli tindakan yang dibuat jatuhnya malah obsesi banget.” Terang Sony mengungkapkan penilaiannya terhadap hubungan Rizal dengan Yulia yang selama ini hanya ia amati dari kejauhan, sekali pun Rizal sering berbagi masalah dan meminta Solusi pun Sony tidak memberikannya.
Bagaimana pun yang menjalani adalah Rizal sendiri, bukan Sony! Sehingga mungkin Rizal akan mempertimbangkannya berdasarkan logika dan perasaan sedangkan Sony hanya menggunakan logika karena dia tidak memiliki perasaan apapun pada Yulia.
“Tapi kamu juga salah sih Zal! Kamu kok bisa ngajakin itu cewek tidur satu kamar?” Tanya Sony dengan wajah mengintimidasi.
“Tapi kan kita nggak satu ranjang Son! Dia tidur di sofa, aku serius!” Bantah Rizal dengan sedikit gagap, tidak ingin sahabatnya itu berpikiran terlalu jauh tentang dirinya.
“Ya aku sih percaya ya Zal mengingat kamu yang begitu tunduk dengan prinsip kolot orang dulu, tapi tetep aja! Seorang kamu ngajakin cewek nginep bareng mana baru kenal lagi! Itu ada udah bikin muncul pertanyaan besar.” Ucapan Sony membuat Rizal berpikir kembali, dia berusaha mengingat apa yang melandasi ide gila yang ia tawarkan pada Safira kemarin.
“Aku yang jadi sahabat kamu dari dulu aja heran, apalagi Yulia? Pacar kamu itu, wajar aja dia ngreog tujuh hari tujuh malam.” Imbuh Sony terkekeh, dia selalu menyelipkan candaan agar obrolannya tidak terlalu serius.
“Aku juga gak tahu kenapa ngajakin Safira nginep di kamar aku.” gumam Rizal nyaris tak terdengar.
“Namanya cantik juga ya kayak orangnya.” Puji Sony yang tersenyum, matanya menatap kagum pada gadis yang memakai asfron kedai dengan rambut yang dikucir bak ekor kuda, tak jarang gadis itu membenarkan anak-anak rambut yang terurai sedikit mengganggu wajahnya.
“Aku cuman bilang cantik Zal! Kenapa tatapannya begitu dah!” Elak Sony begitu mendapat tatapan membunuh dari Rizal, kemudian tatapannya itu beralih menjadi senyuman sinis seolah mengejek Sony.
“Gaya kamu muji cewek lain, coba kalau ada mamanya Erika kamu berani nggak Son?” Ledek Rizal membuat Sony hanya menyengir kuda, tentu saja itu adalah sesuatu hal yang sangat sulit dilaksanakan.
Sony sudah berumah tangga, putrinya sudah menginjak usia 6 tahun. Di pernikahan Sony inilah Rizal pertama kali mengajak Yulia untuk menjadi patnernya menghadiri pesta pernikahan sahabatnya sehingga banyak rekan dosen yang kini mengenal Yulia.
“Zal, mungkin bisa jadi nanti Yulia bakal berubah pikiran ketika sudah mengandung. Dia bakal mencintai anaknya lebih dari siapapun. Anak itu anugerah hidup kamu pasti lebih berwarna setelah menerima karunia yang tidak tergantikan itu.” Ucap Sony dengan wajah serius menyakinkan bahwa memiliki keturunan tidak seburuk pikiran orang-orang tergantung bagaimana kita menyikapinya.
“Aku harap sih gitu Son.” Ucap Rizal pasrah, meskipun mustahil Yulia akan mendengarnya. Rizal tahu gadis itu mencintainya melebihi siapapun sayangnya dia tidak pernah menurunkan egonya atau bahkan mengubah prinsip hidupnya demi orang lain, termasuk Rizal.
“Ayo balik Zal! Aku harus menjemput Erika!” Ajak Sony begitu alarm di ponselnya tiba-tiba berbunyi, Rizal mengangguk.
“Kamu duluan aja deh Son! Ada yang perlu aku beresin.” Ucap Rizal pada Sony, Sony menatapnya dan mengerti maksud dari Rizal. Lelaki itu bergegas pergi duluan.
Sedangkan Rizal menghampiri meja kasir, tidak ada ucapan yang keluar dari mulutnya mendadak bibirnya terasa begitu kaku hingga dia tidak mampu berkata-kata. Matanya menatap Safira yang sibuk dengan computer di depannya, Safira tahu siapa yang tengah berdiri dihadapannya namun dia berusaha untuk tetap tenang dan professional seakan tidak mengenal Rizal.
“Bisa kita bicara sebentar?”
***