Salju membasahi kota Hokkaido, semilir angin membuat beberapa orang yang melintas lebih merapatkan mantel musim dinginnya. Sedangkan gadis yang sejak tadi duduk termenung di ruang tunggu stasiun menatap layar ponselnya yang sejak tadi ia genggam. Beberapa panggilan masuk dan tak sedikit pesan masuk, memenuhi notifikasi layar ponselnya namun tak ada satu pun yang ia tanggapi.
Kak Galuh : Kemana kamu? Mama pergi ke apartemen kamu dan kamu tidak ada! Kamu harusnya membujuk Winar agar tidak membatalkan pernikahan bagaimana bisa kamu melepaskan seorang lelaki seperti Winar!
Mama: kamu mau cari lelaki seperti apalagi Fira! Kurang apa Winar? Dia sudah mapan, dari keluarga berada!
Mama : Angkat teleponnya! Mengapa Winar batalin nikah dengan kamu?
Gadis itu menatap layar ponselnya dengan tatapan sedu, bingung dan putus asa. Dia mengusap kasar wajahnya setiap pesan itu masuk, membacanya saja membuat dadanya terasa sesak. Terlebih ia tak kuasa menahan air matanya kala mengingat bagaimana lelaki itu datang dan mengatakan bahwa dia tidak bisa menikah dengannya.
Hancur, remuk dan Safira tidak bisa menggambarkan lagi bagaimana perasaannya saat ini. Bahkan udara dingin yang sejak tadi mengelilinginya tak bisa membuat pikiran Safira teralihkan. Seakan gadis itu lupa, bahwa dia sudah menginjakkan negara dengan julukan Matahari Terbit itu.
Safira menarik napasnya panjang, dia tidak akan pergi ke Jepang jauh-jauh hanya untuk mati kedinginan. Jari jemarinya sibuk dengan sebuah aplikasi yang baru saja ia unduh, kemudian mengangguk mengerti entah apa yang sedang ia baca. Dia memilih mematikan ponselnya daripada harus merasa gila karena deretan pesan dan panggilan masuk dari keluarganya yang justru semakin memperkeruh suasana hatinya.
Salju turun semakin lebat, hidung berubah merah karena tak kuasa dengan semilir angin yang membuat tulang terasa ngilu dan hidung berair. Perjalanan dari stasiun Tokyo ke Sapporo lumayan menyita waktu sehingga sampai petang, matahari sudah terbenam Safira belum mendapatkan penginapan. Lebih tepatnya gadis itu baru terpikirkan untuk mencari, lihat betapa santainya dia.
Setelah berjalan beberapa menit Safira sampai di hotel yang ia tuju, tanpa pikir panjang ia mengeratkan mantelnya dan memasuki hotel menuju bagian resepsionis. Pegawai itu menyambut dengan senyuman ramah.
“Apa ada kamar yang kosong?” Tanya Safira dengan senyumannya, membalas keramahan sang pegawai resepsionis.
“Maaf sayang sekali! Kamar kita sudah penuh! Anda bisa kembali lagi besok lusa!” Jawab wanita yang memakai tag name huruf Hiragana.
Safira membelalakkan matanya, dia masih ingat dengan jelas bahwa di hotel ini masih tersisa satu kamar lagi, bahkan baru beberapa menit yang lalu ia mematikan ponselnya.
“Benarkah? Aku tadi mengeceknya masih kosong.” Ucap Safira tidak percaya, secara tidak langsung meminta resepsionis untuk mengeceknya kembali.
“Iya, sudah dipesan orang beberapa menit yang lalu.” Sanggah Resepsionis itu, system tidak mungkin bermasalah pada saat ini.
“Apa tidak bisa dibatalkan? Bagaimana pun, aku yang datang lebih dulu kesini.” Bujuk Safira mulai keras kepala, untungnya wanita jepang itu tampak dengan sabar melayaninya.
“Maaf! Walaupun kamu datang lebih dulu, tapi seseorang telah memesannya lebih dulu. Aku tidak bisa memberikannya kepada anda, itu sama saja menyalahi aturan.” Terang wanita itu dengan senyuman ramahnya, menjelaskan prosedur yang ada.
Safira juga tahu, dia memang salah! Lalu bagaimana dengan nasibnya, salju semakin lebat dan hari mulai gelap, sedangkan Safira masih belum menemukan penginapan yang lain. Kesalahannya, gadis itu tidak mencari beberapa penginapan untuk dijadikan opsi sebagai Cadangan jika penginapan yang ia tuju telah dipesan orang lain. Salah Safira juga karena dia tidak memesannya lebih dulu lewat aplikasi, justru memilih datang langsung seakan lupa Sapporo adalah destinasi utama di kota Jepang pada bulan Desember.
“Kalau begitu terimakasih!” Ucap Safira berlalu dengan wajah murungnya, pegawai hotel tampak merasa kasihan namun dia tidak bisa membantu karena prosedur pekerjaan.
Baru beberapa langkah, ia munuju pintu keluar seorang lelaki masuk dengan menenteng sebuah koper. Wajahnya tampak orang asia, dia menuju resepsionis dan sedang menunjukkan sesuatu di balik layar ponselnya. Safira yakin jika dialah yang memesan kamar yang Safira inginkan lebih dulu.
“Permisi! Bisa bicara sebentar?” Tanya Safira menghentikkan langkah lelaki berkaki jenjang itu, Safira menggunakan Bahasa Indonesia karena dia tidak sengaja melihat nama yang tertera pada kartu identitas lelaki itu, rupanya dia juga orang Indonesia.
“Ya?” Tanya lelaki itu sopan, Safira justru canggung begitu lelaki itu menunggunya untuk melanjutkan ucapannya.
“Bisa nggak kalau kamarnya aku aja yang sewa. Aku bakal Ganti duakali lipat kalau perlu.” Ucap Safira dengan mata berbinar, seolah tawarannya kepada lelaki asing itu akan diterima dengan mudah.
Alih-alih menjawab, lelaki itu justru menatapnya dari atas kepala sampai ujung kaki tampak dia bingung, wajahnya datar seolah tawaran Safira sama sekali tidak menggiurkan baginya sekali pun dibayar dua kali lipat.
“Kamu orang Indonesia?” Tanya lelaki itu, Safira mengangguk tampak jelas di matanya ada secercah harapan.
“Kenapa kamu tidak memesannya kalau memang kamu sangat membutuhkan?” Tanya lelaki itu membuat Safira diam, dia tidak bisa menjawab karena memang itulah kesalahan fatal seorang Safira.
“Ayolah! Jawab aku! bisakah kamu menolongku? Kamu kan orang Indonesia juga. Biarkan aku saja yang menginap di hotel ini, kalau tidak aku harus kembali ke Tokyo sekarang.” terang Safira memohon, sedangkan lelaki itu menatapnya lagi seperti berusaha membaca sebenarnya apa yang sedang dilakukan oleh Safira.
“Kamu bisa mencari kamar lain! Lagipula masih banyak penginapan di sekitar sini.” Ucap lelaki itu, rupanya dia tidak ingin memberikan kamar yang ia pesan. Lagipula mengapa dia harus kesusahan untuk masalah yang bukan masalahnya sendiri.
“Kamu tidak kasihan hah? Lihat salju lebat sekali dan ini sudah malam. Aku mohon, untuk satu malam saja biarkan aku menginap di kamar itu.” Pinta Safira sambil memelas, namun lelaki itu mengibaskan tangannya menolak.
Memilih melenggang pergi meninggalkan Safira yang terpaku, lelaki itu mengabaikannya. Safira tidak terlalu terkejut karena sejak awal respon lelaki itu begitu dingin, tampak tidak ada rasa simpati di matanya. Benar, memang masih banyak penginapan di sekitar sini namun satu hal yang Safira sadari dia tidak membawa kredit card miliknya.
Membayar dua kali lipat hanyalah strateginya agar bisa membuat lelaki itu mengalah, nyatanya lelaki itu tidak tergiur sama sekali. Dia sangat ingat, bahwa kartu debitnya tertinggal di apartemen karena dia tidak biasa membawa kartu debit tabungannya itu.
Safira menghela napas, menatap langit yang samar-samar tak terlihat karena salju terus turun sangat lebat hingga napas pun terasa begitu dingin. Gadis itu memilih menggerai rambutnya dan melilitkan sebuah syal di lehernya untuk mengurangi rasa dingin yang benar-benar membuat langkahnya terasa begitu berat.
“Hei!” Seseorang memanggil dari belakang, Safira menoleh dengan wajah keputusasaan yang kini berganti dengan wajahnya yang tersenyum begitu lelaki asia tadi kini datang menghampirinya.
“Akhirnya! Apa kamu berubah pikiran? Aku berjanji akan membayar dua…”
“Aku bisa memberikan tumpangan untukmu!” Seru lelaki itu memotong ucapan Safira, tidak akan membiarkan gadis asing itu salah paham.
“Hah?” Tanya Safira tidak mengerti.
“Kalau kamu mau, kamu bisa menginap di kamarku! Kita bisa berbagi ruangan!”
***