Jalan Berdua

1032 Kata
"Kamu cantik sekali hari ini." Alfi tersenyum, tangannya memegang helm pink yang sepertinya masih baru, lalu dengan lembut dipasangkan helm itu ke kepala Dania. Ia mengancingkan kan kancingan helm dengan hati-hati, lagi-lagi sambil tersenyum. Sedangkan Dania, yang saat itu sedang memandang Alfi langsung menunduk salah tingkah. Wajahnya bersemu merah. Kadang, sekuat apapun pertahanan seorang wanita, akan luluh juga jika diberi perhatian dan diistimewakan. "Apa sih mas, jangan buat aku malu." "Wanita seperti kamu berhak bahagia, Dania." Alfi mengelus lembut pipi Dania yang menimbulkan detak jantung berkecepatan tinggi. Ya, Dania benar-benar merasa di atas awan. Merasa menjadi wanita tercantik karena mendapat pujian yang bertubi-tubi. "Bagaimana kalau Ratih sampai tahu?" "Asal kita bisa menjaga, Ratih tidak akan tahu. Aku tidak tahu mengapa, aku hanya nyaman saja saat berada di samping kamu, Dania." Mata Dania dan Alfi saling bertatap. Ada gejolak didalam d**a masing-masing. Mereka bukannya tidak tahu bahwa itu salah, hanya saja mereka tidak bisa menahan gejolak itu. Rerumputan depan rumah Dania menjadi saksi, dua orang yang sedang menjalin Cinta terlarang. *** "Silahkan duduk, Dan." Alfi menarik kursi dan mempersilahkan Dania untuk duduk. Mereka berada di salah satu restoran yang cukup mewah di Surabaya. Restoran yang tentu saja tidak pernah dikunjungi oleh Dania, karena sebelumnya Dia nggak pernah pergi kemana-mana. "Terimakasih, Mas." Masih deg-degan, Dania akhirnya duduk. Sungguh, hari ini dia merasa menjadi seorang princess. Setelah Dania duduk, Alif segera duduk di kursi yang berhadapan dengan Dania. Mereka segera memesan makanan. "Dan, kamu mau apa?" ucap Alfi lembut sambil membaca buku menu. Dania yang saat itu juga memegang buku menu, tampak bingung memilih. "Ayam penyet saja, Mas sama teh hangat." "Ayam penyet sama teh hangat? Itu saja? Nggak mau yang lain?" Alfi terlihat mengerutkan keningnya. "Iya, habisnya cuma itu yang sering aku makan." "Kalau memang itu yang sering kamu makan, seharusnya Sekarang saatnya untuk memilih menu yang lain yang belum pernah kamu makan." "Aku nggak suka coba-coba mas. Yang pasti-pasti saja," ucap Dania sambil tersenyum. Namun, setelah mengucapkan itu, Dania seperti baru menyadari sesuatu. Ya, selama ini dia memang tidak suka mencoba hal yang baru, dia tidak suka mencoba hal-hal yang tidak pasti. Namun, kenapa sekarang dia mencoba untuk bermain-main dengan api? Dania menunduk, lalu menghela nafas panjang dan membuangnya pelan-pelan. 'Biarkan waktu yang akan menjawab bagaimana hubungan ini nantinya, yang jelas saat ini aku tidak bisa menahan perasaanku sendiri," ucap Dania dalam hati. Alfi tersenyum, menyadari betapa polosnya perempuan yang ada dihadapannya itu. di sebuah restoran di mana tersedia bermacam-macam makanan, wanita polos itu malah memilih ayam bakar dan teh hangat saja? Diam-diam, dia merasa beruntung karena bisa dekat dengan wanita polos seperti Dania. "Ya sudah mbak, ayam penyet 2, dan teh hangat 2, tambah home Made gelato 2 ya?" ucap Alfi akhirnya, si mbak pelayan mencatat pesanan lalu segera pergi ke belakang. "Dan, Kamu senang nggak kita jalan berdua?" Alfi mencoba memastikan apakah perasaannya berbalas atau tidak. Dania tersenyum, lalu mendongakkan kepalanya dan menatap Alfi. "Kalau aku tidak senang, tentu saja aku tidak akan mau diajak Mas Alfi ke sini. Hidupku sudah habis di dalam kamar selama bertahun-tahun. Jadi, aku merasa senang karena akhirnya aku bisa menikmati dunia luar." "Besok kita bisa keluar lagi? Entah kenapa aku suka saja ngobrol sama kamu. Besok kita akan pergi ke tempat wisata. Mungkin ini saatnya kamu mengenal dunia luar, masa nulis terus setiap hari, nggak bosen?" Sebenarnya Alfi sudah merasa prihatin dengan wanita yang mulai mencuri hatinya itu. Dia tidak tahu masalah apa yang dihadapi, yang dia tahu hanyalah perempuan yang insecure terhadap dirinya sendiri. Padahal menurut Alfi, Dania yang istriable, begitulah kata anak muda jaman sekarang. Dania tersenyum, Jantungnya berdetak dengan kencang tak beraturan ketika Alfi mengajaknya keluar lagi besok. Ini pertama kalinya setelah bertahun-tahun lalu, dia kembali merasakan menjadi wanita yang istimewa. Dia tidak menyangka, hatinya akan terpaut semudah ini. Namun, 1 hal yang membuat Dania miris, Kenapa harus suami dari sahabatnya yang bisa membuat hatinya terpaut? Tanpa dia sadari, air mukanya berubah. Dania kembali menunduk. Antara bahagia dan rasa bersalah bercampur jadi satu. "Dan, Kamu kenapa tiba-tiba terlihat sedih begitu?" "Aku merasa menjadi wanita yang jahat, Mas." Alfi tersenyum, lalu menyentuh tangan kanan Dania yang ada di atas meja. "Dan, ayo angkat kepalanya. Tatap mataku!" Alfi menatap Dania yang menunduk dihadapannya. "Aku tahu, apa yang kita lakukan ini memang salah. Tapi satu yang harus kamu tahu, aku sedang mencoba untuk mengubah mu menjadi wanita yang tidak insecure lagi. Aku tidak menginginkan kamu seperti wanita lain, kamu tetaplah menjadi dirimu sendiri. Namun, melihat dunia luar itu juga penting. Mungkin dengan tetap berada di kamar saja, kamu memang sudah mendapat penghasilan. Tapi kamu buta akan dunia luar, kamu bahkan tidak mengenal bahwa banyak makanan yang bisa kamu kecap yang jauh lebih enak dari sekedar ayam penyet. Aku hanya ingin kamu bahagia, Dania. Dan Aku akan berusaha menjadi penyebab kebahagiaan kamu." Mata kedua makhluk yang sedang dirundung asmara itu saling bertatap. gejolak di dalam d**a mereka berdua jauh lebih besar dari kesadaran bahwa ada hati yang pasti terluka ketika mengetahui hubungan mereka. Dania meleleh mendengar kata-kata lembut Alfi. Ucapan Alfi benar-benar bisa membuat hati Dania kobat-kobit. "Terimakasih, Mas." Dania tersenyum malu-malu. Saat itu, pelayan datang mengantarkan pesanan mereka. Alfi buru-buru menarik tangannya dari tangan Dania. Mereka berdua saling tersenyum tersipu, khas orang jatuh cinta. Setelah mereka berdua mengucapkan terima kasih, pelayan itu segera pergi. "Coba gelatonya, enak banget ini." Alfi menyendokkan satu sendok kecil gellato, dan mencicipinya. "Gelato itu es krim?" tanya Tania dengan polosnya. Alfi tertawa. Hari gini wanita 33 tahun itu tidak tahu apa gelato? Membosankan itukah kehidupannya? "Kamu baru tahu?" "Aku sering mendengar, Mas. Tapi baru kali ini bisa menatap langsung yang namanya Gelato." "Coba aja. Kalau kamu suka, aku akan membelikan kamu gelato tiap hari." Dania tersenyum lagi. Entah untuk yang keberapa. Mendengar ucapan seperti itu saja sudah bisa membuat wajahnya bersemu merah. Sungguh, wanita itu kini sedang dirundung asmara. Dania segera menyendok gellato yang ada di hadapannya. Lalu menyuapkan sedikit ke mulutnya. Matanya langsung terbelalak sambil tersenyum. "Enak sekali, Mas. Rasanya seperti es krim." Dania girang persis anak TK yang sedang mencicipi es krim untuk yang pertama kali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN