"Benarkan Mas, Kamu membohongi aku lagi? Aku nggak tahu ya, aku masih bisa percaya lagi sama kamu atau tidak. Kamu bener-bener jahat, Mas." Ratih berucap dengan air mata yang mulai menetes ke pipinya. Kata-kata yang diucapkan oleh Mas bola yang tadi menyisakan goresan di hati Ratih, goresan yang menimbulkan luka yang menganga, perih. Sangat perih. Klik. Sambungan telepon langsung dimatikan oleh Ratih. Dia merasa tidak perlu lagi mencari bukti atau apapun itu, karena baginya semuanya sudah jelas. Alfi langsung menepuk jidatnya. Huft … susah payah dia mencari alasan tetapi malah dihancurkan oleh ucapan si mas pelayan itu. Tetapi Alfi tetap tersenyum ramah, karena dia memang tidak tahu apa-apa. Alfi mencoba untuk menenangkan diri sejenak, dia menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskann

