“Ngapain kamu nyari anakku?” seru Mbok Yem kesal. Di halaman belakang gubuknya sudah ada Buto Ijo yang duduk di dekat sumur, seperti bersembunyi agar tidak dilihat oleh warga lain. “Aku, aku punya pesen buat dia Mbok,” jawab Buto Ijo pelan. “Pesen apa? Bilang sini cepetan!” “Ya ndak bisa to, harus langsung ke Elizabeth, Mbok,” “Halah, paling kamu alesan. Abis itu kamu nanti culik Elizabeth lagi kan?” tuduh Mbok Yem seenak udel. “Mbok, aku nih tidak bakat berbohong, kapan coba aku bohong, kapan?” ujar Buto Ijo. Dari samping gubuk, Elizabeth yang sudah keluar dari kamarnya mengendap-endap ke belakang, mencuri dengar percakapan antara Mbok Yem dengan Buto Ijo. Dalam hatinya, Elizabeth percaya kalau Buto Ijo adalah sosok yang baik. Dia dinilai jahat hanya karena tampilannya yang menyera

