DUA PULUH EMPAT

2020 Kata
“Aku pengin ih makan kaya yang di TV itu, Teteh.” Elizabeth menunjuk aneka jenis makanan Korea yang ada di layar datar di hadapan mereka. “Bener kamu mau?” Tanya Patricia. “Iya mau, bisa kan? Ada kan? Laper ihh jadinya.” “Laper apaan? Lo tadi makan banyak banget ya, sompret!” “Hehehe laper lagi maksudnya aku, Teh.” Ujar Elizabeth dengan tampang polos. “Yaudah sebentar, gue telepon dulu nih si Ganjar.” Patricia bangkit dari sofa, berjalan ke arah balkon dan melakukan panggilan dari ponselnya. Menghubungi Ganjar, bodyguard yang ditunjuk khusus oleh Bayu untuk menjaga Elizabeth dan Patricia. “Hallo?” Sapa Ganjar di kejauhan sana. “Jar? Si bocah pengin makanan Korea, lu pesenin dong!” Punya Patricia. “Makanan Korea apaan dah?? Gak bisa order online aja lu? Udah malem begini. Nanti gue yang ambil dah ke lobby!” Seru Ganjar. “Yeee, kalo order online udah tutup, kalo lo ke sana masih bisa, cepet gih!” “Kaga mau makan sate padang aja tu bocah? Sate padang ada nih, tinggal nyeberang. Bilang gih ke dia, lokal pride gitu!” “Yeee kontlo, si Elijambret maunya kokorea-an.” Ujar Patricia tegas. “Ya udah lah, kalo begitu mah. Tunggu ya?” Ujar Ganjar, pasrah. Daripada dilaporin ke Boss, mending beliin aja deh si Elizabeth makanan Korea. “Oke! Gue tunggu yaa!” Panggilan pun terputus. Tidak langsung masuk ke dalam, Patricia menikmati dulu semilir angin malam yang lewat. Merasakan udara yang lumayan segar, tidak sumpek seperti di bawah sana. Masih memainkan ponselnya, Patricia mengirimkan sebuah pesan singkat. Patricia: Mobil dah siap? 3 menit lagi gue turun ke bawah Tak berapa lama, pesan text balasannya masuk ke ponsel Patricia, dan ia langsung membacanya. Dandy: Stand by! Parkiran B30 Mobil hitam Patricia tersenyum membaca itu dan ia pun masuk ke dalam, kembali menemani Elizabeth. “Udah, teteh?” Tanya Elizabeth begitu Patricia bergabung dengannya. “Ganjar sakit perut, katanya kita aja beli sendiri. Yuk?” Ajak Patricia, mencoba membawa Elizabeth keluar dari apartemen ini. “Boleh?” Tanya Elizabeth memastikan. “Ya boleh dong, kan Ganjar yang izinin.” “Ohh gitu, yaudah yuk! Ayuk!” Elizabeth semangat. Dia juga sudah bosan terkurung di apartment ini. Dia ingin keluar, melihat indahnya dunia. Elizabeth dan Patricia pun keluar dari apartment, masuk ke lift dan Patricia langsung menekan tombol yang diberi tanda huruf B. “Bagus yaaa, naik lip, masuk doang bisa langsung ada di tempat lain. Keren! Kaya air terjun pelangi akuh!” Seru Elizabeth riang, namun Patricia tidak menanggapi ucapannya. Sesampainya mereka di lantai yang dimaksud. Patricia menggengam tangan Elizabeth. Soalnya bocil ini takut karena basement apartment ini lumayan gelap. Lagipula, Patricia ingin memastikan Elizabeth tidak kabur. Berjalan bergandengan, mata Patricia berkeliaran mencari tanda B30. Setelah keliling sesuai urutan letak parkir, sampailah mereka di pilar basement yang di-cat kombinasi huruf dan angka yaitu B30. “Sini Eliss, masuk sini.” Ajak Patricia. “Eh kita naik ini.... apa teh ini namanya, aku lupa euy? Emmmm boil, kita naik bo-il!” Seru Elizabeth senang. Keduanya masuk ke bangku penumpang belakang, dalam mobil tersebut sudah ada Dandy yang menunggu. Patricia dan Dandy saling melempar senyum mereka Elizabeth kegirangan memakai seat-belt. “Eh? Ada si om... aku lupa om namanya siapa.” Ujar Elizabeth. “Udah, gak penting nama gue siapa.” Ujar Dandy. “Om mau anterin kita beli makanan yoyea?” Tanya Elizabeth. “Yoyea? Makanan apaan tuh?” “Korea maksudnya.” Patricia mengkoreksi ucapan Elizabeth yang masih banyak salahnya. “Yaudah, berangkat ya?” Tanya Dandy. “Iya Om! Ayo kita berangkat!” Seru Elizabeth riang, ia sama sekali tak sadar bahwa saat ini ia sedang diculik oleh dua karyawan Bayu yang berkhianat. Mobil keluar dari parkiran, tepat saat itu, ekor mata Patricia melihat mobilnya Ganjar masuk ke parkiran basement. Patricia sedikit lega karena dia bisa membawa Elizabeth bahkan tanpa k*******n. Dari awal, Patricia tidak menyukai Elizabeth. Terlihat sekali kalau anak ini akan mencuri perhatian semua lelaki yang ada di sekitarnya. Dan benar saja. Hari pertama ia di sini saja, Boss Bayu sudah meminta Elizabeth dibawa ke tempatnya. Selain itu, Dimas. Dimas yang sudah Patricia sukai sedari dulu dengan senang hati menyibukan diri dengan mengurus Elizabeth. Patricia tidak suka itu semua! Jadi... bila ada kesempatan menyingkirkan Elizabeth. Membawanya ke om-om ganas berhidung belang, Patricia rela melakukannya. Upah satu miliyar yang dijanjikan hanya akan dianggap bonus olehnya. Yang penting, Elizabeth menyingkir dari hadapannya. Dandy yang menyetir lain lagi, ia sebenarnya setia pada Bayu dan Dimas, namun keadaan memaksanya untuk begini. Istrinya Dandy, selama satu tahun terakhir ini selalu kalap ketika belanja, bahkan sering berhutang seolah semua uang yang Dandy beri tidak lah cukup. Sampai akhirnya Maria, istrinya Dandy berhutang pada pak Dani sekian puluh juta. Tak hanya itu, Maria juga kecanduan obat-obatan terlarang. Ketika ditagih Maria tidak bisa membayar hingga akhirnya Maria ditangkap, ia ditahan agar Dandy bisa melunasi hutangnya. Tabungan Dandy sudah kosong, semua sudah dikuras Maria. Hingga akhirnya Pak Dani menghubunginya kalau ia butuh bantuan Dandy dan Maria akan dibebaskan jika Dandy berhasil, plus.... Dandy akan mendapat imbalan uang satu miliyar setelahnya. Kendaraan yang mereka tumpangi terus melaju, Dandy mengemudikan mobil ke arah yang ditentukan Pak Dani. “Kok kita gak sampe-sampe sih?” Elizabeth mulai jenuh ada di dalam mobil terus, bisa dibilang, perutnya mual. “Kamu tahu gak? Korea tuh jauh, makanya sabar ya!” Ucap Patricia sok menenangkan. “Tapi... aku pusing Teteh, terus.... perut aku juga gak enak.” “Oh s**t, jangan sampe dia muntah di mobil gue!” Seru Dandy, ia melirik ke belakang lewat kaca spion tengah, dan terlihat Elizabeth yang sudah lumayan pucat. “Terus gimana?” Tanya Patricia. “Lo cari kantong kresek nih di belakang jok, ada kayaknya, suruh dia pegang, jangan muntah di sini!” Menuruti perkataan Dandy, Patricia segera mencari kantong kresek di belakang jok mobil seperti yang diperintahkan, dan untungnya tak butuh waktu lama, sebuah kantong kresek hitam ditemukan oleh Patricia. “Elis, kamu pegang ini, kalau kamu mau muntah kamu buang ke sini, oke?!” Patricia memberikan kantong kresek tersebut pada Elizabeth. Elizabeth menerimanya, tapi bingung. “Muntah tuh apa?” Tanya Elizabeth. “Kalo kamu mau keluarin makanan kamu dari mulut, itu namanya muntah.” “Ohhh, iya iya, ini kayaknya aku mau muntah biar perut aku kosong terus aku bisa makan makanan Korea ya?” Ujar Elizabeth. Patricia hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia sebenarnya sudah muak dengan segala tingkah Elizabeth yang menurutnya menyebalkan. “Pokoknya kalau mau muntah buang ke sini, oke?” Ucap Patricia tegas. “Iya teteh, siap!” Sahut Elizabeth. Sepanjang sisa perjalanan Elizabeth menahan mual di perutnya karena jalanan yang dilalui mobil tidak lah mulus, tetapi penuh dengan bebatuan. Elizabeth memegang erat kresek yang diberikan, jaga-jaga kalau ia sudah tidak kuat menahan muntahnya. Akhirnya, mobil pun berhenti. Elizabeth semangat melihat keluar, mengira sudah sampai di kedai makanan Korea namun ia kecewa karena di luar sangat gelap, ia bahkan tidak bisa melihat apapun. “Ini... ini di mana?” Tanya Elizabeth takut. “Iya ini di mana? Lo jangan macem-macem, Dandy!” Seru Patricia. Sebab yang ia tahu, mereka akan dibawa ke salah satu vila milik Pak Chandra Wiguna. Tapi, tempat ini tidak tampak seperti villa. “Perubahan rencana, Pat. Santai aja sih!” Ucap Dandy. Ia lalu turun dari mobil, suasana tiba-tiba jadi mencekam karena penerangan yang ada hanya dari lampu mobil, dan terlihat sekali kalau tempat ini sangat gelap. Tidak ada setitik lampu yang menyala. Di luar, Dandy membuka ponselnya, menghubungi Pak Dani untuk penyerahan sandera yang ia minta. “Hallo?” Pak Dani langsung menjawab panggilan Dandy. “Saya sudah berada di lokasi, Pak.” Ujar Dandy. “Oke, sebentar!” Panggilan tersebut dimatikan, dan detik berikutnya terlihat lampu menyala menunjukan bahwa mereka berada di sebuah bangunan super besar. Dan tiba-tiba, pintu yang terbuat dari baja di depan mobil Dandy terbuka lebar. Tanpa banyak basa-basi, Dandy kembali masuk ke mobilnya, lalu melajukan mobilnya pelan-pelan melalui gerbang yang terbuka itu. “Ini di mana sih, Dan?” Tanya Patricia, ia juga sedikit ngeri dengan kegelapan dan kesunyian yang mencekam ini. “Iya ih, ini di mana Om? Aku berasa kaya masuk hutan lagi ihh!” “Diem kalian!” Bentak Dandy. Keduanya terdiam. Mobil sudah memasuki bangunan besar yang serupa benteng ini. Di bagian dalam bangunan, ternyata tidak segelap di luar. Sengaja agar tidak ada yang mencurigai aktivitas apapun di dalam bangunan ini. Jadi tampak dari luar seolah-olah daerah ini adalah lahan kosong. Ketika mobil berhenti, Dandy menyuruh Patricia dan Elizabeth turun. Ketiganya disambut oleh Pak Dani yang tersenyum senang. Di samping itu, ia juga mengagumi kecantikan Elizabeth. “Pantas saja si b******k Bayu menyembunyikan dia, harusnya kamu bisa bernilai lebih, manis!” Ucap Pak Dani sambil membelai dagu Elizabeth, membuatnya bergidik ngeri. Elizabeth ketakutan. “Teh? Ini tuh berarti kita gak jadi makan Korea ya?” Momen yang tidak pas sekali untuk bertanya seperti itu. “Berisik! Diem kamu!” Omel Patricia. “Mana istri saya Pak?” Tanya Dandy kepada Pak Dani. “Oh iya, sebentar! Dia sedang dibawa ke sini. Ayok kita masuk dulu!” Ajak Pak Dani. Patricia dan Dandy saling bertatapan sebelum akhirnya mereka membuntuti Pak Dani. Elizabeth yang menggandeng tangan Patricia juga ikut masuk ke bagian dalam bangunan. Mereka memasuki ruang tamu super luas, dengan karpet turki megah membentang ke seluruh penjuru ruangan. Belum lagi sofa panjang yang berhiaskan bantal-bantal yang terlihat empuk. Ruangan ini sangat megah, pajangan dindingnya saja ada lukisan yang mewah, belum lagi jam antik yang sudah terlihat tua. Lalu, meja yang terbuat dari potongan melintang sebuah pohon berukuran besar, berukir dan mengkilap sekali. “Gede banget kendinya! Bisa tuh, aku ngumpet di situ!” Elizabeth menunjuk pajangan guci antik yang terbuat dari porselin. “Jangan macem-macem! Itu guci mahalnya pasti seharga diri kamu tuh, mesti!” Ucap Patricia. “Iya teteh, aku ndak macem-macem.” “Silahkan, duduk!” Ujar Pak Dani dan ketiganya menunduk. Dandy memperhatikan sekitar, dari posisi duduknya, ia dapat melihat bagian ruangan lain dari bagunan besar ini, dan Dandy tahu tempat apa ini. Pabrik pengolahan narkotikka ilegal milik Pak Chandra Wiguna. Dandy bingung, kenapa mereka diarahkan ke sini? Bukankah tempat ini sangat rahasia? Yang Dandy tahu, tidak ada orang di luar jaringan Pak Chandra yang mengetahui tempat ini. Tak berapa lama, seorang wanita memasuki ruangan, kedua tangannya dipegangi oleh dua orang penjaga yang memakai pakaian serba hitam. “Maria!!” Seru Dandy, ia lega sekali melihat istrinya masih hidup. Tapi, tubuh Maria lebih kurus dari yang terakhir kali Dandy ingat. Siapaun yang ada di sini, dia pasti sudah mencekoki Maria dengan obat-obatan terlarang. “So, kita barter bearti ya?” Ujar Pak Dani. “Iya Pak,” Sahut Dandy, ada perasaan bersalah di dalam hatinya. Tapi bagaimana pun, ia pasti lebih mengutamakan istrinya dibanding anak polos yang tidak jelas asalnya itu. “Barter? Barter apa nih? Aku suka loh dulu barter pas masih di kampung!” Elizabeth ikut menimbrung dalam percakapan. “Kamu Liss, dituker sama Maria.” Ujar Dandy pelan. “Eh? Kok aku?” Elizabeth terkejut. Dalam pengetahuannya yang dibarter itu makanan, hewan ataupun barang, ia tak pernah tahu kalau manusia bisa juga dibarter. “Bawa dia!” Seru Pak Dani. Lalu, kedua penjaga yang tadi memegangi Maria, kini mengekang Elizabeth, membawa gadis itu keluar dari ruangan. “Kok Mas-nya sama teteh Pati Sia jahatin aku sih? Kok kaya gini? Emang aku jahatin kalian apa ya?” Terdengar tangisan Elizabeth sebelum akhirnya suaranya pun menjauh dan sosoknya tidak terlihat lagi. “Sesuai janji, saya akan mengirimkan satu miliyar ke rekening kalian masing-masing. Sekarang kalian boleh pergi!” Ujar Pak Dani yang tampak puas bisa menyelesaikan tugas dari Boss-nya. Merangkul Maria, Dandy berbalik dan berjalan keluar. Ia senang istrinya kembali, namun di satu sisi, ia juga sedih karena harus mengkhianati Bayu, dan Dimas. Apalagi Dimas, yang selama ini sudah sangat baik padanya. Patricia membuntuti Dandy, berjalan pelan-pelan. Ia tersenyum puas karena berhasil menyingkirkan Elizabeth. Ditambah, ia mendapat uang yang jumlahnya cukup besar untuk kabur dan memulai hidup. Tapi.... bagaimana aku memulai hidup padahal selama ini aku hidup untuk Dimas? Tanya Patricia dalam hati. ****** TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN