DUA PULUH TUJUH

1588 Kata
Buto Ijo keluar dari sarangnya di dalam hutan. Tubuhnya sudah tidak biru seperti yang terakhir kali ia ingat. Raksasa itu senang karena kembali ke warna aslinya yang alami, hijau, ia kini serasa kembali menyatu dengan alam, membuat senyum merekah di pipinya yang lebar. Namun, tersenyum untuk Buto Ijo malah membuat wajahnya makin menyeramkan dari sebelumnya karena taring panjang yang ada di mulutnya makin terlihat. Aku disembuhkan oleh manusia yang merawatku. Batin Buto. Buto Ijo tahu, ia punya dua kehidupan. Ia tahu bahwa di suatu tempat, ia adalah makhluk super rupawan yang bisa dicintai dengan mudah. Tidak seperti bentuknya yang ada saat ini. Tinggi sekitar 20 kaki, berwarna hijau, gondrong compang-camping dan menyeramkan. Di sana, Buto Ijo tahu kalau ia memiliki keluarga, tidak tinggal sendirian di hutan seperti di sini. Memulai harinya, Buto Ijo mencari hewan kecil untuk dimakan. Ya, ia selalu memakan hewan, hanya sekali dalam masa hidupnya ia memakan manusia, yaitu Mail. Salah satu pemuda warga dusun yang sudah mengkhianatinya. Meracun makanannya. Mengikatnya di pohon dan membakar rambutnya. Buto Ijo benci Mail! Selama ini, Buto Ijo tidak pernah secara terang-terangan menggangu manusia. Ia hanya sekadar menakut-nakuti manusia agar tidak masuk terlalu jauh ke hutan dan melewati portal rahasia yang ia jaga. Tapi, Buto Ijo tidak berniat menakut-nakuti sebenarnya. Ia hanya ingin ada teman yang bisa diajak becanda dan bercerita. Seperti Mbok Yem. Buto Ijo senang ketika mengobrol dengan Mbok Yem, makanya... dulu ketika ia mendengar keluhan Mbok Yem yang ingin sekali punya anak, Buto Ijo mengabulkannya. Karena ia tahu, ia memiliki kekuatan untuk memunculkan sesuatu yang di sebut keajaiban. “Sejak gue telen si Mail, keknya ni hutan makin sepi aje.” Ucap Buto sambil berjalan di antara pepohonan, mencari mangsa untuk mengganjal perutnya yang lapar. Menangkap seekor musang, Buto Ijo memakannya begitu saja, ada sekitar 3 ekor musang yang sudah ia makan. Cukup untuk sarapan pagi yang bergizi. Perut sudah kenyang, maka hati Buto Ijo pun jadi senang. Ia duduk di lantai hutan yang dipenuhi oleh daun-daun yang gugur. Suasana hutan pagi ini sangat tenang. Burung-burung berkicau di kejauhan sana karena kalau deket nanti dijadiin cemilan sama Buto. Di sisi hutan lain, ia mendengar gemericik air sungai yang mengalir sampai ke dusun Serbahese. Menikmati keheningan pagi ini, telinga Buto Ijo tiba-tiba menangkap suara tangisan manusia. “Hadeh, mengada ulah lagi nih paling human!” Gerutunya. (Bikin masalah) Ia bangkit dari duduknya, lalu berjalan pelan-pelan menuju sumber suara tangisan yang makin lama terdengar makin kencang. Buto Ijo berhenti, ia menunduk dan menemukan seorang anak laki-laki sedang duduk bersandar pada pohon, kakinya ditekuk sedangkan kepalanya diletakkan di kedua lututnya. Ia menangis kencang sekali sampai tak sadar akan kedatangan Buto Ijo. “Hay manusia!” Sapa Buto, suaranya sengaja ia pelankan tapi tetap saja, menggema di dalam hutan yang kosong ini. “Astaga-dragon, Buto Ijo!” Wajah si anak ini langsung pucat. Tangisnya tiba-tiba reda. “Jangan makan akikah Buto!” “Gue udah sarapan! Lagian gue kaga doyan terong presto kaya elu.” Seru Buto Ijo. Anak laki-laki ini ternyata Ijal, ia berlari ke hutan untuk menangis sepuas yang ia bisa tanpa didengar orang, tapi... ia malah di dengar oleh Buto Ijo. “Oh bagus deh kalo kamu gak suka sama eykeu!” Ucap Ijal tenang. Kini ia duduk bersandar dengan kaki berselonjoran di lantai hutan. “Lu ngomong kenape melambai gitu?” Tanya Buto Ijo, ia senang jika ada lawan bicara, jadi ia pun duduk, berjarak sekitar 5 meter dari Ijal. “Aku tu sebenernya begini, cuma kalo di kampung, aku harus sok macho. Yaa... Kadang sih kelepasan. Bukan kadang, sering malah.... tapi....” “Tapi ape? Lu kalo cerita jangan setengah-setengah!” “Iyah, gini loh Buto Ijo. Jadi... kamu tau kan si Elizabeth hilang?” Tanya Ijal. “Eh bentar, lo percaya kalo Elizabeth ilang?” Buto Ijo balik bertanya. “Emmm, ya aku sih yaa ngikutin warga Dusun percaya kalau dia di makan sampeyan, tapi.... si Mbok Yem bilang sama aku kalo kamu tu aslinya baik.” Jelas Ijal. “Mbok Yem bilang gituu?” Tanya Buto tak percaya. Ia tersenyum dalam hati, soalnya kalo senyum beneran takut Ijal lari terbirit-b***t, mengingat anak ini rada melambai. “Iyah... nah ini cerita aku jadi back to the topik! Jadi sejak Elizabeth hilang, aku tu disuruh Mamih dan Father aku buat temenin Mbok Yem, tapi Mail bilang sama aku kalau gak usah, dia yang bakal jaga Mbok Yem. Eh tapi kan kamu bikin si Mail jadi kudapan, nah yaudah aku jadi temenin Mbok Yem di gubugnya.” Ucap Ijal, menjelaskan permasalahannya sedikit. “Lo kaga takut gue makan? Secara gituh, si Mail aja gue telen.” “Emmm, Mail kadang emang suka nyebelin, jadi... ya udah lah ya, ndak apa.” Ijal santai sekali membahas temannya menjadi santapan Buto Ijo. “Ya udah, terus?” “Jadi... kan aku tu ya nemenin Mbok Yem ya? Eh Mbok Yem tuh baik binggow ternyata, aku dibolehin dandan, bole pake bajunya Elizabeth, sama bole pake selendang sutra. Poko'e mbok Yem memerdekakan aku banget lah. Jadi ya aku hepi banget dong ya tinggal sama si Mbok. Etapi.... yaolo, Mamih aku teh meuni tega pisan sama aku. Tadi aku dijemput disuru ikutan akademi militer, atuh pan aku tu gak pantes kan ya gituan? Aku mah pantesnya ikut master-sep, soalnya aku jago masak.” Ijal bercerita dengan semangat, Buto Ijo sendiri gabut dengerin ceritanya karena gak penting-penting amat. “Sedih kan?” “Jadi gara-gara itu lo nangis?” Tanya Buto santai. “Iyaah, sedih banget lah aku. Makanya aku menangish.” “Yeuh, yaudah, puk-puk-puk ya!” Buto Ijo jadi males menanggapi Ijal, karena di dalam hatinya tiba-tiba ada perasaan mengganjal yang sulit dijelaskan. “Buto.... kamu mau bikin aku hepi gak?” “Heu? Apaan tuh?” “Kamu duduk manis ya, boleh gak aku dandanin muka kamu?” Tanya Ijal, bikin Buto Ijo bengong. Raksasa macem dia dandan? Ijal sudah gila sepertinya. “Gak!” Seru Buto Ijo tegas menolak. Ia tak mau ambil resiko ada manusia yang terlalu dekat dengannya. Terakhir kali, ia percaya kalau ia bisa berteman dengan Mail, tapi hasilnya ia malah dikhianati. “Ih kamu mah begicuuu.” Ijal mulai merajuk tapi Buto Ijo tetap pada pendiriannya. Mendiamkan Ijal yang sedang cemberut, Buto Ijo bersandar pada pohon, dan tiba-tiba saja, ia seperti mendapatkan sebuah pengelihatan. 'Gue perlu dapat tambahan kekuatan!' 'Lo jangan pergi tanpa gue ya Dim!' 'Tiga hari, tunggu gue tiga hari dan Elizabeth akan kita selamatkan!' Buto Ijo terjatuh ketika mendengar suara-suara itu di telinga-nya, terlebih ketika ia memejamkan mata, ia dapat melihat sosoknya di dunia seberang, sedang mengobrol dengan seorang manusia. Dan... Elizabeth? Jadi.... jadi Elizabeth ada di dunia seberang? Bagimana bisa? Kapan Elizabeth memasuki portalnya? Semua pertanyaan itu berkecamuk di kepala Buto Ijo. Elizabeth, si anak timun yang ia berikan pada Mbok Yem kini terjebak di dunia seberang. Dan apa tadi? Jika suara yang ia dengar itu benar, berarti ia dalam misi untuk menyelamatkan Elizabeth. Apa yang terjadi pada Elizabeth di dunia sana? Apakah ia dalam bahaya? Buto Ijo mendadak diserang panik, dia bingung harus bagaimana. Bisa kah ia berkata pada Ijal kalau benar Elizabeth masih hidup. Ia tidak ditemukan di mana-mana karena ia tidak ada di dunia ini. Tapi.... mereka pasti akan curiga dengan keberadaan Elizabeth. Buto Ijo bingung, bagaimana caranya ia kembali ke sarangnya, ia tidak bisa meninggalkan Ijal di sini, bisa jadi Ijal akan membuntutinya dan masuk ke dalam portal juga. Tapi, Buto Ijo harus bergegas, ia tidak bisa duduk santai di hutan mendengarkan curhatan si Terong Presto sedangkan di seberang sana Elizabeth sedang dalam bahaya. “Eh manusia, lo balik gih sana.” Buto Ijo akhirnya mengusir Ijal. “Ihh? Gitu banget kamu.” “Iya, udah sana gak usah cengeng, gak usah nangis, kan perempuan kan kudu strong juga!” “Ja-jadi menurut kamuh aku ni perempuan nih?” Ijal tersenyum, sepertinya tipuan Buto Ijo berhasil. “Iya lah, kamu lemah gemulai begitu kek batang sayur bayem diangetin.” “Tapi, aku bete sama keluarga aku, aku gak mau ikutan akademi militer.” Ucap Ijal masih ngambek. “Ya udah, jangan pulang ke keluarga lu, pulang aja sana ke Mbok Yem. Toh tadi lu sendiri yang bilang Mbok Yem baik dan menerima lo apa adanya.” Buto terus membujuk agar Ijal pergi meninggalkan hutan. “Emm, iya sih bener ugha, tapi... kasian mbok Yem, udah tua masa harus nanggung aku juga. Kan walaupun aku langsing dan memiliki tubuh proposional, aku makannya mah banyak.” Ijal curhatnya makin ngaco, Buto Ijo sebal bukan main. “Ya udah, lo tunggu sini.” Buto Ijo bangkit, ia bergerak ke sisi bagian lain dari hutan, mencari hewan buruan dan untung saja, tak butuh waktu lama, Buto menangkap seekor kancil. Tanpa basa-basi, ia langsung memberikan kancil itu pada Ijal yang diam di tempatnya, tak berubah barang satu senti. “Nih, lo kasih ke mbok Yem, suruh dia masak. Kalau ada kaya gini kan enak. Lo gak nyusahin Mbok Yem lagi.” Ujar Buto Ijo. “Ihhh bener yaa berarti kata si Mbok Yem, kamu tu beneran baik! Yaudah ni aku bawa balik ya?” “Iyaa, udah sana!” “Matur sembah suwun, Buto Ijo!” Ucap Ijal, ia bahkan sedikit membungkukan badan sebagai salam hormat pada Buto Ijo. Dengan seluruh tenaga yang ia miliki, Ijal pun menarik kancil yang sudah mati itu ke arah luar hutan, menuju pondok Mbok Yem lebih tepatnya. Sendiri di hutan, setelah memastikan Ijal benar-benar pergi, Buto Ijo pun berjalan pelan ke sarangnya. Sudah siap untuk misi menyelamatkan Elizabeth yang terjebak di entah berantah~ ******* TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN