TIGA PULUH

1411 Kata
Elizabeth, Dimas, Ganjar, Hendra, Tio, Baskoro, Aldi, dan Lukman masih terperangkap di hanggar rahasia milik Pak Chandra Wiguna. Malah kali ini, mereka makin terkepung oleh penjaga yang jumlahnya sudah tak terhitung. “What should we do?!” Seru Baskoro panik. Yaa, kalau seperti ini jadinya pilihan mereka adalah mengalahkan semua lawan itu dengan tangan kosong, atau menyerah dan tertangkap. “Kita lawan mereka satu-satu,” Ucap Ganjar. Suaranya masih terdengar optimis seolah dia dan anak buahnya ini bisa mengalahkan lusinan orang di depan sana. “How?” Tanya Hendra, agak panik sama seperti Baskoro karena para penjaga kian mendekat. “By killing them one by one and protecting each other!” Lalu Ganjar membuat barisan yang sangat rapat, Elizabeth ditempatkan di belakang mereka, tetap rapat juga agar tidak lepas dari pengawasan. “Kita abisin siapapun yang mendekat. Oke? Selalu jaga orang yang ada di samping kanan kalian!” Ucap Ganjar. Semua pun berseru termasuk Dimas yang berada di tengah formasi ini, ikut terbakar semangatnya oleh optimisme tinggi yang ditularkan Ganjar. Penjaga berbaju hitam di sana makin mendekat selangkah demi selangkah, sementara ke-tujuh orang ini juga siap untuk menghajar musuh yang ada di depannya. Begitu para musuh mendekat, seperti instruksi Ganjar mereka langsung berduel dengan siapapun yang ada di hadapan mereka. Melindungi semua anggota yang ada di samping, tak cuma kanan tapi juga kiri, serta yang paling utama, melindungi Elizabeth yang ada di belakang mereka. “Duhhh Gusti, ini ngapa pada jadi tawuran gini sih oy? Ah Om-om pada gak cinta perdamaian apa gimana dah?” Seru Elizabeth, gak tepat waktu banget ini bocah satu kalau mau komen. Rencana Ganjar berhasil, mereka selalu melumpuhkan lawan yang mendekat. Membuat para penjaga akhirnya menyerbu mereka secara bersamaan membuat semuanya makin lelah karena terlalu banyak lawan yang harus dihabisi. “Ini kenapa pada jadi kaya anak STM sih? Ya Gusti, segala tawuran ihh, gak suka aku tu!” Di belakang mereka Elizabeth yang memeluk timun ketakutan karena melihat Hendra nyaris jatuh karena dikroyok 5 orang sekaligus. “Om, om Dimas!” Seru Elizabeth, ia sudah tak tahan dengan k*******n yang ada di depan matanya ini. “Nanti Liz, aku lagi sibuk!” Seru Dimas yang sedang menghajar tiga orang secara bersamaan. “Ini loh, pegangin timun aku tolong, tanganku kesemutan.” Pinta Elizabeth dengan nada manja. Tapi tentu saja Dimas mengabaikannya karena timun itu tidak penting dibanding keselamatan para anggota timnya dan Elizabeth yang kini tengah mereka lindungi. “Simpen aja di lantai.” Sahut Lukman menjawab permintaan Elizabeth. Akhirnya Elizabeth menuruti ucapan Lukman, ia meletakkan timun raksasa miliknya di lantai, kemudian merogoh selipan d**a-nya untuk mengambil bungkusan dari Mbok Yem. Di bungkusan itu, hanya tersisa duri dan terasi. Elizabeth bingung pakai yang mana duluan, tapi mengingat situasi di depannya, kayaknya terasi amat sangat tidak tepat. Tapi duri? Buat apa duri? Apakah berguna untuk melawan musuh yang ada di depan sana? “Tapi keknya duri lebih oke sih, bisa buat tojos jakunnya si om-om jahat itu.” Elizabeth memutuskan sendiri pilihannya. Diambilnya duri dari bungkusan tersebut lalu menggengam erat terasi yang tersisa. “Om, pegang ini!” Elizabeth memberi duri pada masing-masing orang di depannya yang tampak kebingungan dengan barang pemberian Elizabeth. Ya, siapa yang gak kaget lagi rusuh gebukin orang eh dikasih duri kecil yang sepertinya dipotek dari tangkai mawar? “Buat apa ini Liz?” Tanya Dimas. “Ya aku juga gak tau, tapi dari pada Om-om sekalian pada gak pegang s*****a kan? Mending itu kan Om?” “Ini harus dilempar lagi?” Tanya Ganjar sambil meninju satu penjaga yang langsung pingsan saat itu juga. “Emmm, coba 4 orang dulu yang lempar, biar tau gitu itu duri ngapain.” Ucap Elizabeth, pinter juga dia kadang-kadang yaaa. “Oke, Aldi, Baskoro, Hendra sama gue, hitungan ke-tiga kita lempar duri ini.” Ucap Dimas dan diiya-kan oleh semua orang yang namanya ia sebut itu. “Satu... Dua..... Tiga!!” Seru Dimas dan mereka melemparkan duri pemberian Elizabeth itu. Lagi, secara ajaib kali ini muncul hutan bambu di tengah mereka, membuat jarak antara mereka dan penjaga yang masih menyerang. Hutan bambu ajaib itu menghalang para penjaga untuk mendekat. Sehingga dengan mudah, mereka menghabisi penjaga yang ada di hadapannya. “Good, ini bisa jadi perisai buat kita sekaligus filter, biar kita gak melawan terlalu banyak sekaligus.” Ucap Ganjar lalu melemparkan duri miliknya, diikuti oleh Lukman dan Tio. Hutan bambu di hadapan mereka makin rimbun karena tambahan duri dari ke-tiganya. Dan benar saja, pasukan lawan harus bersusah payah menembus hutan bambu untuk melawan mereka. Dengan adanya hutan bambu ini, mereka sangat mudah melawan para musuh. Sehingga kini di samping kiri mereka sudah tertumpuk banyak mayat yang sudah mereka kalahkan. Berkat s*****a Elizabeth mereka bisa mengatasi lawan, jumlah pasukan musuh yang sangat banyak pun terasa imbang karena Dimas dan kawan-kawan tak perlu melawan mereka sekaligus, serta beberapa dari mereka bisa bergantian mengalahkan lawan yang berhasil menembus hutan bambu tersebut. Dimas sudah tidak sepenuhnya bertarung, ia mundur sedikit untuk memastikan Elizabeth baik-baik saja. “Liz, kamu gak apa-apa, kan?” Tanya Dimas, nada suaranya terdengar tulus dan ia sangat khawatir dengan kondisi Elizabeth yang sudah tidak dilihatnya selama lima hari ini. “Aku sehat Om, cuma ya agak laper aja.” Jawab Elizabeth sambil sedikit mengangguk. Ia sudah tidak ketakutan seperti tadi lagi. Mungkin karena sudah berkurang musuh yang menyerang mereka. “Yaudah, abis ini kita cari makan ya? Kamu mau makan apa?” Dimas mengambil alih timun raksasa yang digendong Elizabeth, tahu kalau gadis itu keberatan menggendong buah tersebut. “Mamam makanan Oyeya Om, aku tu ya ampun, pengin banget makan itu. Teteh Pati Sia sama Om Dandy bohongin aku, katanya aku mau diajak mamam Oyeya taunya aku malah dikurung di sini.” Mendengar itu, Dimas makin murka, ia tak habis pikir Patricia yang ia sangat percaya mampu mengkhianatinya. Pun Dandy yang sudah sangat dekat dengannya. Keduanya bisa dibilang sangat Dimas sayangi. Apakah kebaikan Dimas selama ini sangat kurang untuk mereka? “Yaudah, sekarang kita fokus keluar dari sini dulu yaa.” Dimas sedikit memeluk Elizabeth, menenangkan gadis itu. Elizabeth mengangguk. Dimas lalu melerai pelukannya. Kemudian menatap mata Elizabeth dalam-dalam, dan entah kenapa perasaan di dalam dadanya itu seperti bertumbuh lebih dari sebelumnya. Dimas sangat yakin kalau ia menyukai Elizabeth, bahkan mungkin mencintainya. Tapi... sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaan pada gadis itu. Mungkin... Elizabeth juga belum mengerti apa artinya cinta. For God's sake, she's only seventeen! Batin Dimas. “Boss, kayaknya... kalau gini gak kelar-kelar deh.” Ucap Ganjar, mengintrupsi tatapan intim Dimas ke Elizabeth. “Hehh? Kenapa?” Tanya Dimas, ia langsung memalingkan tatapannya. Memandang Ganjar dengan tatapan biasa. “Ya... ngapain kita di sini? Mau ngabisin semua anak buah Pak Chandra? Kayaknya engga. Mending kita kabur gak sih?” Usul Ganjar. “Lha iya... kenapa gak dari tadi, ayok!” Seru Dimas. Ia dan Elizabeth berlari di barisan terdepan, diikuti oleh enam orang di belakangnya dan mungkin beberapa penjaga yang berhasil melewati hutan bambu. Berlari melewati koridor sempit ini, Dimas langsung berbelok kanan di tikungan pertama, ia sudah hafal denah tempat ini. Kesalahan tadi hanya terjadi karena mereka berjalan mundur. Dan Dimas tak akan melakukan kesalahan yang sama. Ketika mereka lari sudah cukup jauh, hanya tinggal satu tikungan lagi menuju ruang utama hanggar ini yang akan membawa mereka ke 'ruang tamu' dan pintu keluar, mereka kembali dihadang oleh penjaga. Langkah Dimas langsung terhenti, ia menahan Elizabeth untuk tidak melanjutkan larinya. Kemudian, masuk secara dramatis, Pak Dani berjalan santai, lalu berhenti di tengah-tengah para penjaga, senyum jahat mengembang di wajahnya. “Kalian gak akan bisa lolos dari sini!” Serunya. “Pak Dani! Stop this, let us pass, Pak Dani tahu saya ataupun Boss Bayu gak bikin salah, dan Elizabeth gak bisa jadi korbannya!” Seru Dimas. Ia tidak ingin semuanya berakhir buruk. Tak ingin ada nyawa yang melayang lagi agar mereka bisa lolos. Dan lagi, Ganjar dan anak buahnya sudah sangat kelelahan. “Gak bikin salah kamu bilang? Hah? Sembarangan aja! Kamu pikir pembatalan perjanjian secara sepihak ini bukan bentuk kesalahan? You've made a mistake and this is how you pay for it!” “Kami sudah minta maaf, sudah membayarkan pinalti, apa lagi Pak Dani?” “Perjanjian kita Elizabeth, bukan permintaan maaf ataupun uang! Anda tahu itu Dimas.” Ucap Pak Dani dengan nada final. Ia lalu melenggang pergi, berbalik ke entah ruangannya berada. Dimas mengatur napas. Bersiap-siap dengan pertarungan selanjutnya, sambil berfikir.... bagaimana ia, Elizabeth dan yang lainnya bisa keluar hidup-hidup dari tempat ini? ****** TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN