Terluka

1037 Kata
Kinan berlari tanpa memperdulikan teman-temannya. Ia terus berlari menuju ke tempat yang bisa membuatnya sedikit tenang. Kebetulan tak jauh dari Mall yang ia kunjungi, terdapat taman yang luas. Kinan berhenti di sebuah pohon yang cukup rindang. Ia menyandarkan dirinya, sembari menumpahkan air mata yang sembari tadi di tahan. "Tega kamu mas." Ucapnya, sembari terisak. "Apa salahku, sampe kamu tega kayak gini. Dengan semua pengorbanan yang telah aku lakukan buat kamu, ternyata kamu tega ngehianatin aku."Berbagai umpatan ia keluarkan, untuk melegakan perasaanya saat ini. Ia terus menangis menumpahkan semuanya sendiri. Teman-teman Kinara pun bingung, kemana mereka harus mencari Kinara. "Duh, Ara kemana si ? Cepet banget deh tu anak larinya." ucap Sandra yang masih ngos-ngosan. "Iya nih, cepet bener ngilangnya." Ucap Melia. Karena kebingungan, mereka pun memilih untuk pulang terlebih dahulu. Menjelang malam, Kinan pun baru sampai di rumahnya. "Kamu dari mana saja to Ra. Kok sore baru pulang." Tanya Bu Asih, ibunda Kinara. "Em, maaf ma, tadi mampir dulu ke taman." Jawab Kinara, sembari menunduk. "Kamu habis nangis, kenapa nak?" ucap Bu Asih, khawatir. "Eh, enggak kok ma. Ara tadi kelilipan debu. Ya udah, Ara masuk dulu ya ma." Pamitnya. Bu Asih pun heran dengan sikap anak perempuannya itu. Ia bertanya-tanya, apakah hal yang terjadi dengan putrinya itu. Di dalam kamarnya, Kinara langsung merebahkan dirinya diatas kasur. Patah hati membuatnya merasa sangat lelah, dan tidak bersemangat untuk melakukan apa-apa. Malam harinya, Indra pun datang ke rumah Kinara. "Assalamualaikum." Ucap Indra, sembari mengetuk pintu. "Waalaikum salam, eh ada Indra." Jawab Bu Asih, membuka pintu. "Iya Bu. Apa kabar Bu?" Tanya Indra berbasa-basi. "Alhamdulillah baik kok, sudah lama gak main ya. Mari masuk." Bu Asih mempersilahkan. Indra memang sudah dekat dengan keluarga Kinara. Karena ia sering mengantar jemput Kinara, atau hanya sekedar berkunjung. "Sebentar ya, ibu panggilkan Ara." ucap Bu Asih, kemudian pergi menuju kamar Kinara "Tok tok tok." Ketukan pintu. "Ra, itu ada Indra di depan." Panggil Bu Asih, namun tidak ada jawaban. Ia pun kembali mengetuk pintu kamar putrinya itu, namun masih tetap sama. Ia memutuskan untuk masuk. Dilihatnya Kinara sedang tertidur pulas, dengan mata yang terlihat sembab. Bu Asih, dengan lembut membangunkan Kinara. "Ra, bangun nak" ucapnya lembut, sembari menepuk pipi putri nya. Kinara nampak tertusik dengan tidurnya, ia pun perlahan mulai mengerjabkan mata. " Eh, mama. Jam berapa sekarang ma? Aku ketiduran." ucap Kinara. "Sudah jam delapan ini. Sana cuci muka, itu di depan ada Indra nyariin kamu." Ucap Bu Asih. Kinara pun enggan untuk bertemu dengan Indra, namun ia juga harus meminta penjelasan darinya. "Hem, ya udah ma. Suruh dia nunggu. " Ucapnya malas. Bu Asih pun menyadari, dengan apa yang terjadi diantara Kinara dengan Indra. Tak lama, Kinara pun keluar menemui Indra. "Ra." ucap Indra. "Hem." Kinara cuek. "Aku bisa jelasin semuanya Ra! Ucap Indra, gusar. " Ya sudah jelasin!" Jawab Kinara ketus. Dan mengalirlah cerita demi cerita, bagaimana kisah Indra dan Clarissa bertemu, sampai mereka bisa bertunangan. Tentu saja, hal itu membuat goresan luka Kinara semakin melebar. Kinara pun hanya bisa terdiam, mendengarkan penjelasan dari Indra. Ia tak ingin berkata apa-apa, karena jujur saja saat ini ia sedang tidak baik-baik saja. Ia berharap itu semua hanya mimpi, namun ternyata semua memang nyata di hadapannya. "Maafin mas Ra." ucap Indra memohon. "Kamu boleh marah, silahkan maki aku Ra, silahkan pukul aku. Tapi tolong jangan diam Ra. Mas minta maaf, mas memang salah." Ucap Indra memohon. Inilah yang selama ini ia takutkan. Ia sadar bahwa apa yang telah ia lakukan itu memang sangat melukai perasaan kekasihnya itu. Namun, ia tidak dapat menghindar dari kesalahan-kesalahan yang telah ia lakukan. "Sudahlah, lebih baik sekarang mas pulang." Usir Kinara. "Enggak Ra, mas gak akan pergi sebelum kamu maafin mas." ucap Indra masih memohon. "Gak ada yang perlu di maafin mas. Gak ada yang salah. Semua sudah terjadi." Ucap Kinara datar. "Mas benar-benar minta maaf Ra, mas akan lakuin apa saja, supaya kamu bisa maafin mas Ra." Kinara pun sudah muak dengan semua ucapan yang keluar dari mulut Indra. Akhirnya ia sudah tak tahan lagi untuk memendam semua. "Memberikan maaf itu mudah mas, cuma untuk membangun kepercayaan lagi, aku rasa itu tidak akan bisa. Kaca yang hancur, tidak akan bisa kembali seperti semula. Semua yang telah kita lewati selama ini sudah tidak ada artinya lagi mas. Semuanya hancur, dan kamulah penyebab kehancuran itu." Ungkap Kinara. "Aku sakit mas, sakit. Pantas saja, jika akhir-akhir ini kamu selalu saja mengabaikan aku. Ternyata, sudah ada yang lain. Apa salahku mas? Kurangkah semua pengorbanan yang sudah aku lakukan untukmu. Tidakkah kamu ingat dengan mimpi yang udah kita rangkai mas?" Kinara berkata sembari terisak. Indra sangat sedih, melihat Kinara yang rapuh seperti ini. Jujur saja ia menyesal, namun semua telah terjadi. Hanya kata maaf, yang bisa ia ucapkan saat ini. "Pulanglah mas, Percumah kamu berada disini. semua tidak akan merubah kenyataan. Pergilah, tinggalkan aku. " Ucap Kinara, kemudian ia masuk ke kamarnya. Indra pun hanya terdiam menatap punggung Kinara yang kian menjauh. Ia pun pergi meninggalkan kediaman Kinara. Dan lagi, Kinara menangis tersedu-sedu. Hatinya terluka, ia sangat tidak menyangka dengan semua yang terjadi saat ini. Ia memandang foto kebersamaan dirinya dengan Indra. "Aku benci kamu mas!" Ucapnya. Indra pun memilih untuk menenangkan dirinya. Jujur saja, ia sangat mencintai Kinara. Selama ini, Kinara lah yang selalu setia menemaninya. Ia sangat menyesali semua perbuatannya. Ia berharap jika bisa kembali bersama Kinara. Namun semua tidak akan mungkin terjadi. Ia sadar, luka yang ia torehkan sangatlah perih. "Maafin aku Kinara." ucap Indra, sembari memandangi foto Kinara di galeri ponselnya. "Kenapa semuanya terasa rumit. Aku tidak ingin kehilanganmu Kinara. Aku mencintaimu". Ucap Indra. Ia berfikir, bagaimana caranya agar Kinara bisa memaafkannya. Ia masih sangat ingin bisa bersama Kinara, namun bagaimana dengan Clarissa. Indra tidak bisa meninggalkan Clarissa begitu saja. Posisinya bisa saja terancam, karena Clarissa lah yang membuat dirinya bisa menduduki jabatan saat ini. Saat ini Indra bekerja sebagai Manager di salah satu cabang Usaha minimarket milik keluarga Clarissa. Keluarga Clarissa memiliki beberapa usaha, selain memiliki usaha di minimarket, keluarga Clarissa juga memiliki beberapa ruko yang berada di alun-alun kota. Tentu saja, tidak mudah untuk mendapatkan posisi itu saat ini. Berkat bantuan dari Clarissa, ia bisa menduduki jabatan tinggi tersebut. "Ah andai saja, Aku bisa memiliki keduanya." Indra pun hanya bisa mengahyalkan sesuatu yang tidak akan mungkin terjadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN