Chap 80
Setelah memeriksa kandungan, Tasya di ajak Niko untuk makan siang bersama. yang awalnya Tasya menolak namun Niko terus memaksa nya dengan alasan demi kebaikan anak dalam kandungan nya.
Tasya pun akhirny setuju dan ikut Niko ke restoran yang dia mau.
Sesampainya di restoran Niko mengajak Tasya untuk duduk di salah satu bangku yang tak jauh dari mereka berdiri.
Tasya memesan kwitiaw goreng dengan udang goreng sedangkan Niko ia hanya pesan nasi goreng dan teh hijau panas.
“Mas” panggil Tasya
“Iya” Niko yang awalnya mau membuka HP nya karena ada yang mengirim pesan ia urungkan demi meladeni Tasya.
“Gimana kamu tau soal aku periksa kandungan hari ini?”
“Aku selalu tau apa yang kamu lakuin sya”
“Kamu mata mata in aku lagi ya?” Tasya mulai mengintrogasi Niko, tapi Niko yang awalnya mulai lengah ia pun cepat menjawab pertanyaan agar wanita nya itu tak marah.
“Aku hanya tak mau kamu terluka sya”
“Kan kamu tau aku tak suka mas, kamu nggak bisa dong tiba tiba ngelakuin hal yang tak aku suka”
“Iya iya maaf, tapi mas mohon ya kamu terima. Mereka tak akan dekat dekat sama kamu kok hanya menjaga kamu dari jauh”
“Tapi aku tak suka mas”
“Demi kamu dan dedek bayi sya”
“Mereka akan aman kok”
“Ya sudah besok aku tarik merek dan tak akan mengikuti kamu lagi. Tapi ada satu syarat”
“Syarat? Kamu aneh deh mas ka-
“Yang ini kamu tidak bisa menolak sya”
“Emang kenapa?”
“Iya ini telak, mau atau tidak kamu aku akan tetap lakukan. Bahkan aku maksa”
“Apa sih mas”
“Tiap kamu periksa kandungan harus aku yang mendampingi”
“Tap-
“Tidak ada penolakan Tasya”
“Iya iya mas iya” Tasya pasrah, dan makanan mereka tiba.
Tasya langsung melahap nya tanpa menunggu makan dari Niko tampaknya ia emang sedang lapar.
Mana yang harus ia isi bukan hanya untuknya tapi demi dua anak kembar nya juga kan.
Niko tersenyum sumringah melihat Tasya makan dengan lahap.
“Mau nambah sya?”
“Kamu mau bilang aku rakus ya?”
“Bukan gitu”
“Nggak kok mas aku cukup segini”
“Beneran?”
“Iya”
“Setau aku kamu kalau makan dua porsi dari ini deh”
“Kan kan mulai.. kamu suka banget deh mas ngajak berantem”
“Lah ngajak duluan siapa”
“Kamu lah”
“Yaudah iya mas yang salah sekarang makan lagi y ibuk hamil”
Tasya hany membalasny dengan berdehem lalu kembali menyuapkan kembali makanan ny ke dalam mulut.
Saat mereka sedang sibuk makan tiba tiba ada orang yang menggebrak meja mereka. Sontak saja membuat Tasya dan Niko terkejut bukan main.
Pria bertubuh jakun namun rambutnya sudah mendominasi putih itu mulai memukul wajah Niko dengan kuat, Tasya yang berada disana ingin menyelamatkan Niko namun ditahan oleh Niko dan membawanya di belakang nya.
“Kamu siapa?” Tanya Niko sesaat ia berhasil menangkap tangan pria itu
“Dimana anak ku!!” Bentak nya tak kalah kuat dari Niko
“Anak mu?”
“Ia putri ku, putri ku yang kau hancurkan masa depan nya kau hamilkan dan setelah melahirkan kau ceraikan dia sekarang kau apakan lagi dia? Belum puaskah kau menyakitinya? Kembalikan putri ku!! Aku akan merawatnya!! “ bentak Pria namun diseang itu tubuhny luruh di lantai.
Tasya yang merasa tak tega ingin membantu peia itu namun di tahan oleh Niko.
“Kumohon kembalikan putri ku.. hanya dia yang aku punya sekarang ...” ucap pria itu di kala sedihnya, air mata ny sudah tak sanggup ia tahan keluar begitu saja
“Dia tak bersamaku” ucap Niko
“3 hari yang lalu aku lihat dia pergi bersama pengawal mu, jangan berbohong lagi”
“Aku sama sekali tak tau. Dan pergilah” ucap Niko lalu menarik tangan Tasya untuk keluar.
“Mas..” ucap Tasya
“Diam dan percayalah sama mas”
Tasya manggut manggut
“Kau dengar Niko sampai kapan pun aku tak akan menerima mu kembali bahkan jika kau bersujud di depan ku!! Ingat kau!! Penyesalan selalu datang terakhir dan jangan sampai kau menyesal” ucap pak tua itu lalu segera pergi
Niko tak peduli ia membawa masuk Tasya ke dalam mobil nya dan ia mengendarai mobilnya seperti biasa.
Tasya sebenarnya ingin bertanya soal yang barusan terjadi namun bibirnya terlalu kebas untuk bertanya jadinya ia hanya mengalihkan tatapan nya ke arah jendela kamar.
Tak lama Tasya di antar oleh Niko sampai ke rumah nya.
“Tidur yang nyeyak ya, jangan begadang tak baik untuk kesehatan mu dan dedek dedek bayi dalam perut mu” peringat Niko
“Iya” jawab Tasya lalu ia segera kelur dari mobil Niko.
Sebelum pergi Niko membuka jendela mobilnya.
“Aku pamit, jangan berulah ya anak anak papa” ucap Niko sambil menatap perut buncit Tasya
Tasya membalasnya dengan senyuman lalu setelah itu Niko meninggalkan perkarangan rumah Tasya.
Tasya yang sedari tadi tak tenang ia langsung menelpon Yoga, asisten Niko.
Tak lama telpon nya berdering akhirnya Yoga mengangkatny.
“Ada apa?” Tanya proa itu yang terdengar seperti baru bangun todur.
“Kakak tau pria tua tubuhnya tinggi tapi rambut nya sudah putih semua”
“Kenapa dengan nya?”
“Tadi dia mendatangi aku dan mas Niko saat kami makan”
“Ha !! Apa lo serius”
“Iya”
“Yaudah gue tutup”
“Ehh tapi kan aku belum nanya” kesal Tasya sebab panggilan Telpon nya sudah di matikan terlebih dahulu oleh Yoga, padahal tujuan ia menelpon belum juga di sebutin.
Dengan perasaan kesal Tasya masuk kedalam rumah nya, dan dia langsung di sambut oleh bik Mirna.
“Bik mirna, ngangetin aja deh” ucap Tasya semabri mengelus elus d**a nya
“Bukan nya itu tuan, nya?”
“Iya bik, kenapa?”
“Masih jalan sama tuan, nyonya?”
“Tadi cuma nemanin periksa”
“Jadi tuan sudah tau?”
“Iya bik, Susah banget nutupin ini darinya”
“Apa tuan mintak yang lain nya?”
“Nggak kok bik, mas Niko cuma minta dia yang nemani Tasya kalau lagi periksa”
“Cuma itu?”
“Iya bik”
“Syukurlah”
“Bibik kenapa nggak suka banget sama mas Niko, kan seharusnya marah Tasya bukan bibik”
“Nyonya mau marah atau gimana tetap aja baik dan nerima tuan, makanya bibik harus terus ngingetin nyonya agar tidak menyesal kemudian”
“Ya ampun makasih banyak ya bik”
“Sama sama nya”
>>>>>>>>>
To be Continue