Chap 78

1054 Kata
Tasya’s POV “Kita harus adil dengan keuntungan” “Saya rasa sudah cukup pak, mereka tidak hanya dapat fee lebih dari keuntung namun juga meningkatkan keeksisan nya” jelas buk Lidya. Yang diucapkan buk Lidya sedikit menyentil hatiku. Aku rasa caffee ku sudah terkenal sendiri tanpa perlu ikut event dengan mereka. Aku menghembuskan nafas perlahan dan sepertinya mas Niko mendengarnya. Ia melirik ku. “Ada apa nona Tasya?” Ucap buk Lidya “Hm?” “Ada yang mau di bicarakan” “Tidak” ucap ku cepat, namun tidak dengan mas Niko ia menatap ku seolah tak suka dengan jawaban ku. “Baiklah besok kita mulai tanda tangan kerja sama ya nona” “Beri dia waktu 3 hari untuk berpikir” ucap mas Niko “Baik pak” jawab Buk Lidya “Maaf jika sudah saya mau izin pulang” ucap ku “Mau kemana?” Tanya mas Niko, aku membelalakan mata ku. Tak taukah dia kalau disini ada buk Lidya dan wanita disamping nya. Ia mau mereka tau jika kami adalah mantan suami istri, membayangkan mereka tau aja aku sudah takut. Aku diam dan tak menjawab. Buk Lidya dan nona disebelah Niko saling melirik satu sama lain, mungkin mereka bingung dengan keadaan sekarang. Rasanya aku ingin cepat pulang saja. Dan untungnya Handphone aku tiba tiba berdering dan disana tertera nomor Rega. “Permisi saya mau angkat telpon” ucap ku “Angkat disini” ujar mas Niko datar dengan tatapan nya masih dengan koran ditangan nya. “Maaf pak tapi akan canggung, saya angkat di luar saja” ucap ku lagi lalu segera keluar takut ditahan oleh pria itu lagi. Dan untungnya mas Niko tak menahan ku, aku mengangkat telpon dari Rega di kursi tunggu di depan ruangan buk Lidya. “Halo ga?” Ucap ku “Dimana sya?” “Lagi di kantor H” “Ngapain? Kamu mau ngelamar kerja? Kenapa nggak bilang sama aku, jangan sekarang sya kamu lupa kalau lagi hamil, kamu benar benar ya sy- aku segera memotong pembicaraan nya sebelum ia merocos lebih panjang “Ssstt aku bukan mau cari kerja, perusahaan H ngajak aku kerja sama” “Kerja sama apa?!” “Nanti aku ceritain” “Kamu kapan pulang dari sana?” “Sebentar lagi mungkin, nanti kalau sudah aku kabarin” “Oke aku jalan kesana” “Jangan sekar- Belum selesai aku bicara tiba tiba HP ku diambil oleh orang saat aku berbalik ternyata mas Niko yang ada dengan Hp ku ditangan nya. “Kenapa dimatiin mas?” Tanya ku yang sungguh kesal dengan kelakuan nya. “Kamu telponan sama si buaya itu?” “Buaya siapa?” “Itu dokter..” “Rega?” “IYA” “Iya mas aku telponan sama dia, emang kenapa ada yang salah?” Mas Niko diam, dan saat itu aku ambil HP dari tangan nya. “Ehh...” “Jangan seperti ini lagi mas, aku nggak suka” ucapku lalu kembali masuk ke dalam ruangan buk Lidya. Saat aku masuk aku sungguh terkejut karena buk Lidya dan nona tadi sedang berada di dekat dengan pintu. Dan sepertinya mereka menguping pembicaraan aku dengan mas Niko, tampak dari wajah mereka yang pucat pasi. Aku tak memperdulikan mereka yang tampak bingung, aku masuk lalu mengambil tas ku dan kembali keluar. Mas Niko menahan tangan ku. “Mau kemana?” “Aku mau pulang mas” “Aku antar” “Nggak” ucap ku cepat “Kalau kamu nggak nurut anak itu aku ambil”ancam nya “Apa apaan si mas, siapa yang bilang anak ini anak kamu” tantang aku “Ohhh kamu mau kita tes DNA anak itu” “Ahh sudahlah aku pusing ngomong sama kamu” ucap ku lalu meninggalkan mas Niko Saat aku berjalan keluar kantor mas Niko menarik tangan ku kembali. “Mas... lepas !!” Perintah sambil melotot kan mataku “Ikut aku” ucap nya lalu menggendong tubuh ku layak nya bridal style, aku memberontak di gendongan nya namun apa daya tubuhny lebih kuat dari ku. Ia membawaku masuk ke dalam mobil nya begitu juga dia. “MAS AKU NGGAK MAU IKUT KAMU” ucapku sedikit membentak Dia tak menjawab malah melajukan mobilnya “AKU MAU TURUN MAS..” teriak ku Mas Niko tetap sama ia tak menjawab ku. Karena merasa di diamkan aku membuang wajah ku ke arah luar jendela. Hati ku begitu sakit saat didiamkan begini dan air mata ku mengalir begitu saja, benar kata orang orang ketika hamil tu sensitif banget dan itu juga yang aku rasain sekarang. Tak lama mobil yang di kendarai mas Niko sampai di rumah sakit yang buasa ia membawa ku kemari dulu. Yang membuat ku bertanya tanya Mau ngapain mas Niko membawa ku kesini dan jangan jangan dia mau ... “Mau ngapain kita kesini mas?” Tanya ku namun sebelum itu aku menyeka air mata ku terlebih dahulu sebelum dia tau jika aku sejak tadi menangis “Ikut aja” “Aku nggak mau” “Kapan kamu mau dengar kata kata ku ?!! Dari tadi nggak terus” “Aku nggak perlu mengikuti mu lagi bukan?” “Sekarang harus” “Alasan ny?” “Karena anak dalam kandungan mu” “APA” “Mas aku sudah bil- belum selesai aku bicara ia sudah menyambar bibirku aja, aku memberontak minta lepas namun dia tetap saja tak melepasku. Air mataku kembali luruh lagi rasanya sakit sekali. Padahal hanya sebuah ciuman tapi aku rasa ia mengkhianati ku. Mas Niko melepas ciuman nya, lalu menatap ku dalam. “Kenapa nangis?” Ucap nya sambil menyeka air mataku “Jangan cium aku sebelum dapat persetujuan dari aku, mas aku mohon kita bukan lagi seperti yang dulu” ucap ku yang masih tersedu sedu Dia menatap ku lalu mencium mata ku yang terus mengeluarkan air mata. Aku menarik wajah ku. “Aku tak akan mengulangi lagi” ***** “Ku mohon lepaskan aku...” teriak wanita yang masih di ikat tangan nya di kursi Namun orang orang yang mengawasi nya tk peduli sama sekali apa yang di perbuat oleh wanita itu. Seolah ia hanya patung “Lepaskan aku... kalian jahat banget.. apa kalian tak punya anak dirumah ha!! Aku punya anak, anak ku masih 3 bulan dia membutuhkan aku!!” Teriak wanita itu kembali >>>>> To be Continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN