Malam itu udara kota terasa lebih hidup dari biasanya. Dari kejauhan, suara riuh tawa anak-anak bercampur dengan dentuman musik dangdut panggung kecil terdengar samar. Langit hitam pekat bertabur bintang, dan dari jalan utama sudah tampak kilau lampu warna-warni yang berkelap-kelip—pasar malam baru saja dibuka di lapangan dekat alun-alun kota. Celine tidak benar-benar punya rencana untuk keluar malam itu. Setelah beberapa hari sibuk mengurus Bu Ratna dan menjaga rumah, ia hanya ingin berbaring dan menikmati ketenangan. Namun Edward, dengan wajah penuh antusias, tiba-tiba mengajaknya. “Cel, ayo kita keluar sebentar,” ucap Edward sambil menutup laptop kerjanya. “Aku dengar ada pasar malam di dekat alun-alun. Udah lama kan kita nggak jalan berdua?” Celine yang tengah melipat pakaian di ran

