Pagi berikutnya datang dengan sunyi. Bukan sunyi yang menenangkan, melainkan sunyi yang membuat d**a terasa sesak. Celine membuka matanya, menatap langit-langit kamar yang putih kusam. Semalam ia tidak benar-benar tidur. Pikirannya berkelana terlalu jauh, mengulang-ulang percakapan singkat dengan Edward di mobil, terutama satu kalimat itu: "Karena kamu sekarang tanggung jawabku."
Entah mengapa, kata-kata itu terus mengganggu pikirannya.
Ia bangkit perlahan, mengenakan sweater tipis, lalu berjalan keluar kamar. Ruang tamu kosong. Tak ada tanda-tanda Edward di rumah itu. Celine menatap sekeliling. Kunci mobil tidak ada di gantungan dekat pintu, berarti Edward sudah pergi.
Ia menghela napas panjang. Rasanya aneh—rumah itu bahkan lebih terasa seperti rumah ketika Edward tidak ada.
Jam masih menunjukkan pukul delapan ketika Celine memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Ia tidak bisa tenang jika tidak melihat ibunya. Ia memanggil ojek online dan tak lama kemudian sampai di rumah sakit.
Lorong itu sama seperti kemarin, dingin, berbau obat, dan menyesakkan. Celine berjalan cepat menuju kamar ibunya.
“Bu,” panggilnya lembut sambil masuk.
Ibunya sedang duduk di tempat tidur, dibantu seorang perawat untuk sarapan. Melihat putrinya datang, mata perempuan itu berbinar. “Celine…”
Celine mendekat, menggenggam tangan ibunya. “Aku bawakan roti kesukaan ibu,” katanya sambil mengeluarkan kantong kecil dari tasnya.
Senyum ibunya melebar. “Kamu perhatian sekali.”
Celine menahan tangis. Ia ingin mengatakan bahwa semua ini—pernikahan mendadaknya, kehidupannya yang berubah drastis—semata-mata demi ibunya. Tapi ia memilih diam.
“Suamimu mana?” tanya sang ibu, tiba-tiba.
Celine tertegun sejenak. “Dia… ada urusan.”
Senyum ibunya mengembang samar. “Kelihatannya dia baik.”
Celine mengalihkan pandangan. “Ya… mungkin.”
Siang menjelang ketika Celine memutuskan untuk pulang. Di parkiran rumah sakit, ia terhenti. Edward berdiri di dekat mobil sedan hitam itu.
Celine mengerutkan kening. “Kamu… ngapain di sini?”
Edward menoleh, senyumnya tipis. “Aku tahu kamu pasti ke sini lagi. Jadi aku datang.”
“Kamu nggak bilang mau ke rumah sakit,” Celine menegur, meski suaranya lemah.
“Kalau aku bilang, kamu pasti melarang.”
Celine terdiam. Ia membenci kenyataan bahwa Edward benar.
Dalam perjalanan pulang, suasana di mobil lagi-lagi hening. Namun kali ini berbeda. Ada banyak hal yang ingin Celine tanyakan, tapi lidahnya terasa kelu.
Ia menatap Edward dari sudut mata. Pria itu mengemudi dengan ekspresi datar, namun tatapannya tajam, fokus ke jalan.
Tiba-tiba ponsel Edward yang terhubung ke mobil berdering. Layar di dashboard menampilkan nama: “Mr. Leonard – Finance.”
Celine mengerutkan dahi. Finance? Bukankah Edward hanya seorang dosen paruh waktu?
Edward cepat-cepat menekan tombol untuk menolak panggilan itu. Namun bagi Celine, kejanggalan itu tidak bisa diabaikan.
“Kamu kerja apa, sebenarnya?” tanyanya tiba-tiba.
Edward melirik sebentar. “Kenapa nanya begitu?”
“Kemarin kamu bilang dosen paruh waktu. Tapi… kayaknya nggak sesederhana itu.”
Edward terdiam cukup lama sebelum menjawab. “Aku kerja di beberapa tempat. Freelance.”
Jawaban itu terlalu kabur.
“Finance?” desak Celine.
Edward menoleh sebentar, lalu tersenyum samar. “Kamu cepat tanggap juga.”
“Tolong jangan bercanda.”
Edward kembali fokus ke jalan. “Nanti kalau waktunya tepat, aku akan cerita.”
Kalimat itu justru membuat Celine semakin yakin jika Edward menyembunyikan sesuatu.
Sore itu, setelah sampai di rumah, Edward langsung masuk ke kamar kerjanya. Sebuah ruangan kecil di sudut rumah yang selama ini selalu terkunci.
Celine berdiri di depan pintu ruangan itu cukup lama, mendengarkan suara samar dari dalam—ketikan cepat di keyboard, beberapa kali suara panggilan video.
Penasarannya semakin menggunung.
Malamnya, Edward pergi keluar dengan alasan “ada urusan pekerjaan.” Celine menunggu sampai ia yakin Edward sudah cukup jauh, lalu mengambil inisiatif.
Ia memutar kenop pintu kamar kerja Edward. Tidak terkunci.
Ruangan itu lebih rapi dari yang ia bayangkan. Sebuah meja besar dengan laptop mahal di atasnya, beberapa tumpukan berkas dengan label yang asing bagi Celine: “Sinclair Group,” “Alastair Holdings,” dan logo-logo perusahaan internasional yang bahkan tak pernah ia dengar sebelumnya.
Celine menatap semuanya dengan jantung berdegup kencang. Ini bukan berkas dosen paruh waktu. Ini… milik seseorang dengan posisi besar.
Ia mendekat ke meja, menggeser beberapa kertas, hingga matanya tertumbuk pada sebuah kartu nama berlapis emas.
Edward Alastair Sinclair – CEO, Sinclair Corporation.
Darah Celine seperti berhenti mengalir.
Suara pintu depan terbuka membuatnya panik. Ia buru-buru meletakkan kartu nama itu ke tempat semula dan keluar dari ruangan sebelum Edward melihatnya.
Edward muncul tak lama kemudian, menatap Celine dengan ekspresi datar seperti biasa. “Belum tidur?”
Celine menggeleng. “Baru mau.”
Edward mengangguk, melepas jasnya, lalu berjalan menuju kamarnya.
Namun Celine tidak bisa memalingkan pandangan dari punggungnya.
Pria itu… bukan sekadar dosen paruh waktu. Ia seorang CEO. Pewaris sebuah konglomerasi besar.
Dan selama ini, ia hidup sederhana… berpura-pura menjadi orang biasa.
Malam itu, Celine tidak bisa tidur sama sekali.
Banyak pertanyaan berputar di kepalanya. Mengapa Edward menyembunyikan identitas aslinya? Apa tujuannya? Apa semua ini—pernikahan mereka, hidup sederhana ini—hanya bagian dari permainan besar yang ia bahkan tidak mengerti?
Namun satu hal yang paling membuat dadanya berdebar sangat kencang.
Kalau Edward benar-benar seorang milyarder… maka dunia yang ia masuki jauh lebih berbahaya daripada yang ia bayangkan.