Angin malam kembali membawa hawa dingin yang menusuk, tapi dinginnya tidak sebanding dengan hawa tegang yang kini menggumpal di rumah kecil Edward dan Celine. Di balik dinding sederhana itu, amarah dan gengsi dua keluarga besar bertabrakan, menjadikan ruang-ruang rumah itu saksi dari perang tanpa senjata. Hari itu, Celine bangun lebih awal dari biasanya. Ia bergegas ke dapur, menyiapkan sarapan dengan hati yang masih diliputi kecemasan. Tangan mungilnya gemetar ketika memotong bawang, matanya sembab karena semalaman tidak bisa tidur. Di sudut dapur, Reno yang masih bayi terbaring dalam boks kecil, sesekali menangis pelan. Belum lama kemudian, Elisabeth masuk dengan gaun tidur sutra berwarna emas pucat. Senyum dinginnya menyeringai, tatapannya menelusuri setiap gerakan Celine. “Sudah jam

