Bab 7

975 Kata
Pagi itu, langit masih sedikit murung. Sisa hujan semalam membuat udara dingin menusuk kulit. Jalanan di depan rumah Celine basah, memantulkan cahaya pucat matahari yang baru menembus gumpalan awan kelabu. Burung-burung sesekali berkicau, tapi suara itu terasa jauh, tertutup oleh detak jantung Celine yang tiba-tiba melonjak. Ia baru saja mengunci pintu rumah, tas kerja sudah tersampir rapi di bahu kiri. Sepatu hak pendeknya mengetuk pelan lantai teras saat ia menoleh. Dan di sana, di depan pagar, berdiri sosok yang tak pernah ia duga akan ia lihat lagi di pagi sesibuk ini—Emeril. Pria itu berdiri tegak, mengenakan kemeja biru muda yang tergulung rapi di siku, celana panjang abu-abu yang terlihat baru disetrika, dan senyuman... senyuman yang dulu pernah membuat hati Celine bergetar, kini justru membuat perutnya terasa mual bercampur gugup. Tapi bukan hanya penampilannya yang membuat Celine terpaku. Tangannya penuh. Di tangan kanan, ia membawa kantong kertas besar yang tampaknya berisi berbagai bahan makanan. Di tangan kiri, ia menenteng sebuah kotak kue dengan pita merah. Di lengannya, tersampir tas kain berwarna cokelat yang sepertinya berisi sesuatu yang berat. “Em—” suara Celine tercekat, nyaris tak keluar. Emeril langsung menyahut, suaranya lembut tapi jelas, seolah ia sudah mempersiapkan kalimat ini sejak semalam. “Cel, aku datang kemari nggak mau ngajak kamu ribut. Tapi aku mau bawakan keperluan kamu.” Celine mengerjap, napasnya tercekat. “Emeril, aku… aku nggak minta apa-apa.” “Aku tahu,” potong Emeril cepat, lalu menatapnya dalam-dalam. Ada sesuatu di matanya—campuran penyesalan, kerinduan, dan tekad. “Tapi izinkan aku melakukannya, Cel. Aku tahu… aku bukan siapa-siapa lagi buat kamu. Tapi… biarkan aku setidaknya jadi seseorang yang peduli.” Celine menunduk, mencoba mengatur napas. Ia bisa merasakan ombak emosi yang berusaha ia tekan. “Em, aku mau berangkat kerja. Kita nggak bisa—” “Cel…” Emeril melangkah maju, mendekat. Hanya ada pagar besi kecil yang memisahkan mereka. “Aku nggak akan mengganggu. Aku cuma mau titip ini. Makanan. Bahan masakan. Beberapa vitamin yang kamu suka. Dan…” ia tersenyum samar, “kue stroberi kesukaan kamu.” Hati Celine terasa diremas. Ia tahu ini tak seharusnya membuatnya goyah, tapi perhatian Emeril… selalu punya celah untuk menyusup. “Kenapa kamu ngelakuin ini?” Emeril menelan ludah, lalu tertawa kecil, getir. “Karena aku… nggak tahu lagi cara lain buat ada di hidup kamu. Kalau aku nggak bisa nemenin kamu, setidaknya aku bisa pastiin kamu nggak lupa makan.” Celine menghela napas panjang. Angin pagi menyapu anak rambutnya, membuatnya ingin cepat-cepat masuk mobil dan melupakan semua ini. Tapi tatapan Emeril—tatapan yang dulu selalu membungkusnya dengan rasa aman—terlalu sulit diabaikan. “Em, kita udah jelas… kita udah selesai,” ucap Celine lirih, mencoba memberi garis tegas. “Kamu nggak perlu repot-repot.” “Tapi aku nggak pernah selesai sama kamu, Cel,” balas Emeril pelan, namun tegas. “Mungkin kamu udah nutup pintu. Tapi aku masih berdiri di depan pintu itu. Nunggu.” Kata-kata itu seperti peluru. Celine ingin menepis, ingin marah, ingin mengatakan bahwa semua ini tidak ada artinya. Tapi hatinya… tetap saja bergetar. Ia benci kelemahannya sendiri. “Kalau aku terima barang-barang ini… kamu nggak akan datang lagi?” tanya Celine, mencoba menetapkan syarat. Emeril tersenyum miring, memamerkan tatapan nakal yang dulu sering ia tunjukkan setiap kali ingin membantah. “Kalau aku janji begitu… aku bohong. Karena aku pasti akan tetap datang, entah gimana caranya.” Celine memejamkan mata, mengumpulkan kesabaran. “Emeril…” “Cel, aku nggak minta kita balikan sekarang. Aku cuma minta kamu… nggak nutup semua jalan buat aku.” Suaranya nyaris berbisik, tapi sarat perasaan. “Aku tahu aku salah. Banyak salah. Tapi aku mau benerin. Meskipun butuh waktu.” Beberapa detik berlalu dalam hening. Suara klakson dari jalanan kecil di ujung gang membuat Celine tersadar ia hampir terlambat. Ia menatap jam di pergelangan tangannya, lalu menatap Emeril lagi. “Taruh di meja teras. Aku nggak janji akan pakai atau makan,” kata Celine akhirnya. Emeril mengangguk, meski ada secercah senyum di sudut bibirnya—senyum tipis kemenangan kecil. Ia melangkah masuk melalui pagar yang Celine buka setengah hati, lalu menaruh kantong, kotak kue, dan tas kain itu di meja rotan kecil. Sebelum pergi, ia berdiri sebentar, menatap Celine. “Jaga diri kamu, Cel.” Celine tak membalas. Ia hanya menunduk, pura-pura memeriksa kunci mobil. Saat ia menoleh lagi, Emeril sudah berjalan menjauh, punggungnya tegap, namun gerakannya lambat—seperti ia sengaja memberi Celine waktu untuk memanggilnya. Tapi Celine tidak melakukannya. Sepanjang perjalanan ke kantor, pikiran Celine kacau. Setiap lampu merah terasa seperti jeda yang memaksa otaknya kembali memutar adegan tadi. Ingatan tentang masa lalu bersama Emeril. Namun ia juga bingung karena Edward suaminya semalaman tidak pulang sama sekali. Ia bahkan mencoba mengabaikan pria itu, tapi matanya dan hatinya malah melirik ke arah ponselnya yang masih tenang tanpa ada panggilan masuk dari Edward. Dan entah kenapa, di balik rasa marah dan kecewanya, ada bagian kecil dari dirinya yang merasa hangat. Bagian yang berbisik, “Dia masih peduli.” Namun Celine menepis cepat. Peduli tidak sama dengan pantas. Dan ia tak mau jatuh ke lubang yang sama. Sore hari, ketika Celine pulang, barang-barang yang Emeril bawa masih ada di meja teras. Kotak kue itu masih tertutup rapi. Tapi aroma manis stroberi entah kenapa menggoda, menusuk ke hidungnya begitu ia lewat. Ia mencoba mengabaikan, tapi matanya tertumbuk pada secarik kertas kecil yang terlipat di bawah pita kotak kue. Perlahan, ia meraihnya. Tulisan tangan Emeril, tegas tapi sedikit miring, “Cel, aku nggak minta kamu maafin aku sekarang. Aku cuma mau kamu tahu, aku masih di sini. Dan aku nggak akan kemana-mana.” Celine terdiam lama. Surat itu ia abaikan. Ia malah menoleh ke segala ruangan rumah yang terasa hampa. Bahkan, ia tadi sempat ke rumah sakit, menjenguk ibunya, namun sampai ia pulang juga, ia tidak menemukan keberadaan suaminya Edward.. Dimana Edward pergi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN