Menjadi pasien di rumah sakit sedikit banyak membuat aku menyadari beberapa hal. Percayalah, ada hal lain yang lebih menjemukan dari pada sendirian, yaitu tak bisa melakukan apa pun untuk mengusir bosan. Setidaknya walau terkadang aku menghabiskan waktuku seorang diri, namun di luar sana banyak hal menyenangkan yang bisa aku lakukan. Dan aku benar-benar hampir mati menahan kesal ketika akhirnya Kiandra kembali datang. Ia tampak menggoda wajahku yang kuyakin pasti menekuk seribu lipatan kala itu. Aku tak menghiraukannya melainkan lebih tertarik dengan bungkusan yang ia bawa.
Ia merapikan beberapa pakaianku di lemari sebelum akhirnya ia mengeluarkan beberapa makanan yang ia bawa. Tanpa kuminta ia menyediakan beberapa buah untukku. Pertama, ia mencuci beberapa buah tersebut untuk kemudian ia memotongnya. Selanjutnya, aku hanya melongo ketika ia mengulurkan tangannya.
“Oh, Kiandra,” kataku mengelak. “Aku tak perlu disuap. Aku bahkan sebenarnya tidak benar-benar dalam keadaan sakit.”
Kiandra terkikik pelan. Ia semakin menyodorkan potongan apel merah itu ke mulutnya. Jadi, dengan tampang kesal akhirnya kubuka juga mulutku.
“Tuh, pinter, deh.”
Aku mendelik seketika dan ia menahan tawanya dengan tampang lucunya.
Akhinya, aku benar-benar menjadi pasien karena ulahnya itu. Bahkan untuk makan malam pun ia kembali memaksa untuk menyuapku. Aku sudah berusaha menolak mati-matian, tapi ia bergeming. Atau bahkan bisa kukatakan bahwa ia setengah memohon padaku agar bisa menyuapku makan. Ia juga memastikan aku meminum beberapa pil dan vitamin yang diantarkan oleh seorang perawat malam harinya. Aku menjulurkan lidahku dan ia meletakkan pil dan vitamin itu di sana. Kemudian, ia membantuku untuk meneguk airku.
“Apa kau pernah bercita-cita jadi perawat?” gurauku seraya kembali merebahkan tubuhku.
Kiandra menyelimutiku. “Apakah aku cocok jadi perawat?”
“Kurasa.”
Ia tersenyum dan memadamkan lampu. “Kalau begitu, anggap saja aku perawat pribadimu,” ujarnya. “Selamat tidur.”
Dan aku memejamkan mataku. Aku hanya berharap agar dokter secepatnya dapat memberitahu Kiandra bahwa keadaanku baik-baik saja. Aku benar-benar tidak menyukai kenyataan dimana aku harus bermalam di rumah sakit dengan status sebagai pasien.
Saat kupikir menjadi pasien adalah kenyataan buruk, maka kurasa aku harus memikirkannya kembali. Faktanya, ada hal lain yang lebih buruk dibandingkan menjadi pasien. Yaitu, mendapat kunjungan dari orang yang paling kubenci sedunia. Aku tak tahu ia tahu dari mana kalau aku sekarang berada di rumah sakit. Apa Kiandra yang memberitahunya? Tapi, Kiandra bahkan tak pernah bertemu dengannya. Maka pagi itu yang semula kulalui dengan tentram berubah seketika saat kulihat tubuhnya masuk dan langsung menghampiriku dengan sepaket buah serta bunga.
Aku mendengus dan langsung membuang mukaku.
“Mama dengar kau sakit, Rick.”
Aku tak menggubris perkataan itu. Sedang dengan ekor mataku dapat kulihat Kiandra yang mematung dengan tatapan bingung.
“Kau pasti Kiandra.”
Sekarang malah kudengar ia bicara dengan Kiandra dan itu langsung menarik perhatianku.
Kulihat Kiandra yang sedang mencium punggung tangan Mama dan ketika Mama akan mencium kedua pipinya, aku bangkit tanpa mempedulikan jarum infus di tanganku dan kutarik Kiandra hingga ia membentur dadaku. Satu tanganku langsung menahannya.
“Enrick..”
Aku tak peduli dengan suara penuh keterkejutan dari Kiandra. Aku hanya memandang lurus ke depan tanpa kedip sekali pun.
“Jangan sentuh Kiandra,” desisku dengan penuh penekanan.
Mama tampak tergugu beberapa saat ketika akhirnya kulihat ia kembali dapat menguasai dirinya sendiri. Ia menghembuskan napas panjang seolah ada banyak tekanan di dadanya yang perlu untuk dilepaskan. Tapi, aku tahu. Ia tak pernah punya itu.
“Dia...,” lirih Mama sambil mengusap satu tangannya dengan tangannya yang lain, “...menantu Mama.”
“Apa kau datang di hari pernikahanku?” tanyaku dengan nada datar. “Jangan menganggap dia menantumu kalau kau saja tak datang di pernikahanku.” Aku semakin mencengkeram lengan atas Kiandra ketika kurasa ia berusaha untuk melepaskan tubuhnya dari rengkuhanku. “Dia menantu Kakek. Dan kurasa kau juga sempat lupa kalau kau pernah punya seorang anak.”
Kukira pasti aku sudah tak punya hati lagi sekarang. Bahkan ketika kulihat mata Mama mulai tampak berkaca-kaca, aku bergeming. Semua terasa hambar sekarang. Tak ada emosi sedikit pun yang kurasa di dadaku. Ia mungkin bisa menangis dan mengaku menyesal, tapi penyesalan tak pernah mampu mengubah apa pun. Jadi, untuk apa kau menyesal?
“Maafkan Mama, Rick.”
Kali ini aku yang menghela napas panjang. “Katakan maafmu seandainya maaf bisa mengubah semua yang sudah terjadi. Dan aku akan dengan senang hati memaafkan semuanya!”
Aku sekarang hanya berharap bahwa seandainya aku menderita amnesia, itu pasti akan menjadi jauh lebih baik untukku.
“Kau tak bisa pergi sesuka hatimu dan lantas datang hanya bermodal satu kata maaf.” Dadaku semakin naik turun karena emosi yang kurasa makin meledak. “Kau tak mungkin lupa untuk semua yang telah kau lakukan, kan?” Aku tersenyum sinis melihat wajahnya yang sekarang membasah. “Apa kau pernah menangis karena telah meninggalkan kami? Pernah!?”
Mama mengusap air matanya. Namun, semua percuma. Ketika ia mengusapnya maka ia hanya memberi jalan bagi guliran lainnya untuk kembali membasahi pipinya.
“Mama menangisi semua itu, Rick.”
Aku berdecak mengejek. Dia masih bisa menyebut dirinya Mama. Wah!
“Tak ada hari yang Mama lalui tanpa memikirkanmu, Rick. Mama tak mungkin melupakanmu, anak Mama satu-satunya.”
Kulihat ia berusaha mendekat, namun aku menjauh. Dan kubawa serta Kiandra tetap dalam rengkuhanku.
“Kalau kau pernah memikirkanku sekali saja,” lirihku dengan nada berat. Yah, aku tahu kau tak pernah memikirkanku, “...setidaknya kau tak mungkin meninggalkanku.” Mataku menatap tajam padanya. “Kau ingat? Kau meninggalkanku bahkan di saat aku belum tahu apa itu makna meninggalkan. Aku bahkan masih terlalu kecil.” Aku tak mungkin menangis lagi untuk wanita ini, kan? Tapi, tetap saja. Ada perasaan menghangat di kedua mataku. “Kau pergi, kau datang, dan kau pergi lagi. Semua kau lakukan sesuka hati! Dan apa aku bisa percaya saat kau bilang kau memikirkanku?”
Isakan Mama sekarang terlihat nyata ketika semua kalimat itu kukatakan. Aku tak mungkin selamanya menahan sesak itu sendiri. Ia perlu tahu bahwa selamanya aku akan tetap mengingat hal buruk yang ia lakukan padaku.
“Kau datang hanya untuk mempertontonkan keributanmu dengan Papa. Dan ketika aku mendekatimu, kau malah menampikku seolah aku adalah bakteri menjijikkan. Untuk semua kemiripan antara aku dan Papa, kau justru memilih membuangku dari pada menyayangiku.” Kueratkan rengkuhanku pada Kiandra. Saat ini aku merasa bahwa ia setidaknya mampu membuatku tetap berdiri.
“Mama tahu itu semua salah. Dan Mama minta maaf, Sayang.”
Kupejamkan mataku. Terlalu menyesakkan ketika kata itu terdengar di telingaku.
“Kau tahu bagaimana kehidupan kami. Kau tahu mengapa kami bisa bersama. Tapi, di antara kami tak pernah ada cinta,” ujarnya dengan nada terisak. “Mama tak bisa terus menerus menerima perlakuan Papamu. Ia menghabiskan waktu di luar tanpa tahu ada Mama di rumah yang menunggunya. Ia membuat Mama tak punya alasan untuk tetap tinggal.”
“Apa aku bukan alasan?” tanyaku perih. “Apa aku tak cukup menjadi alasan untuk membuatmu bertahan?”
Mama terkesiap.
Dan aku bergeming.
“Aku tak cukup untuk menjadi alasanmu, bukan? Apa aku anak yang tak diharapkan untuk lahir?” Aku tertawa perih. Tak ada lagi sakit yang kurasa saat ini. “Kutanya padamu. Untuk terakhir kalinya. Ketika kau lihat betapa rusaknya hidupku, bahkan dimulai saat usiaku masih terlalu muda, apa kau pernah berpikir untuk kembali padaku?” Aku menggeleng. “Bukan kembali pada Papa. Setidaknya, apa pernah terbersit di benakmu untuk kembali padaku?” Kuhembuskan napas panjang. Dan kulihat Mama mengangguk. “Tapi, kau tak pernah datang. Kau bilang kau menunggu Papa dan apa kau tahu kalau aku juga pernah menunggumu? Dan kau tak datang.”
Tangis Mama semakin meledak. Dan di satu sisi, aku merasa bahagia karenanya. Seharusnya memang seperti ini. Jangan aku saja yang merasa pedih dengan ini semua.
“Jadi, masa penantianku untukmu sudah berakhir di sini. Kumohon sekarang jangan saling mengusik kehidupan masing-masing. Kau punya keluarga yang kau harapkan. Dan aku...,” kuteguk ludahku dengan berat, “...aku punya keluargaku sendiri.”
“Enrick...”
“Dan kuingatkan satu hal. Jangan sentuh Kiandra. Jangan kau pikir untuk menularkan penyakitmu padanya.”
Dan lantas, entah karena kata-kataku yang sudah terlalu kasar padanya atau justru karena ia sudah terlalu mengerti bahwa semua tak akan berubah, maka seraya menutup mulutnya ia akhirnya berlari meninggalkan kamarku.
Untuk beberapa saat aku masih terdiam di tempatku berdiri. Aku akhirnya kembali mengusir wanita itu untuk yang ke sekian kalinya. Aku berhasil, namun tiap kali semua terjadi kurasa sesuatu yang menganga justru semakin melebar. Aku berhasil mengusirnya, tapi di satu sisi ia juga berhasil membuat lukaku terbuka lagi.
Lamunanku tergugah ketika kurasakan Kiandra meraih tanganku. Baru kusadari saat itu bahwa punggung tanganku meneteskan darahnya ketika jarum infus tercabut paksa dari sana. Dan beberapa tetesannya telah mengotori lantai mengkilap di sana.
“Aku akan memanggil perawat!” Kiandra berkata dengan suara sarat dengan kecemasan. Tapi, aku tak melepas rengkuhanku. “Kau berdarah.”
Aku bergeming. Kubawa ia duduk di sisi ranjang dan karena sesuatu yang terasa begitu menyesakkan di dalam dadaku, kubawa tubuhnya ke dalam pelukanku. Kutenggelamkan wajahku yang masih terasa panas ke lekuk lehernya dan kuhirup dalam aroma rambutnya. Kurasakan tepukan lembut berulang kali di punggungku, bergantian dengan usapan di sana. Sejenak kupejamkan mataku. Dan entah sadar atau tidak, kubawa tubuhnya untuk semakin mengerat dalam pelukanku. Bahkan karena eratnya pelukan itu, dapat kurasakan dan kudengar degup jantung Kiandra. Ataukah itu milikku?
&
Tengah malam itu, ketika setengah kesadaranku tertarik kembali ke alam nyata setelah disandera beberapa jam oleh obat penenang, sedikit kurasa seseorang yang memperbaiki letak selimutku. Sungguh aku ingin membuka lebar mataku, tapi kelopak mataku tak terlalu bersahabat. Jadi, dengan pasrah kubiarkan retinaku berusaha menangkap wajah itu dari celah kecil yang diberikannya.
Kiandra.
Oh, aku baru ingat bahwa dia memang turut menginap untuk menemaniku di sini. Dan aku tak heran mendapatinya yang tengah menjagaku, sekali pun itu di saat aku tertidur. Terkadang aku merasa tak enak untuk semua kebaikan yang sudah ia lakukan padaku sedang aku terlalu kaku untuk membalas semua itu.
Seluruh saraf di tubuhku seakan menegang tiba-tiba tatkala kurasakan satu tangan Kiandra yang mengusap pelan wajahku. Seakan ia tak ingin ujung jari halusnya itu mengganggu tidurku.
Apa ini hembusan napasnya?
Kurasakan terpaan hangat yang membelai wajahku ketika ia menundukkan wajahnya. Kulihat ia yang sedang menatapku lekat dengan senyum di wajahnya. Dan sekarang, baru kusadari, wanita ini memang cantik.
Beberapa saat ia hanya menatapku, membuatku penasaran apa yang ada di dalam benaknya ketika ia menatapku. Atau, apakah malam kemarin ia juga menghabiskan waktu tengah malamnya dengan mengamati wajah tidurku? Oh, rasanya sekarang aku hampir tak bisa lagi berpura-pura tidur. Mendadak perutku geli dengan kemungkinan itu. Apa yang ia dapatkan dari melihat wajah orang yang tengah tertidur?
Ya, aku memang tak akan bisa tahu apa yang ada di benak Kiandra saat ini. Karena ketika hal itu terjadi justru ada satu pertanyaan lain yang mendadak menyentilku di sudut sana. Mengapa aku memilih diam seolah aku menikmati perlakuannya padaku?
Anggap aku kasar dan kaku untuk semua urusan yang lumrah bagi makhluk sosial lainnya, tapi yang aku herankan adalah mengapa justru di saat ini semua itu seolah menghilang? Mengapa aku membiarkan ia menyentuh wajahku ketika kuingat dulu aku pernah mengatakan bahwa ia tak akan pernah mampu untuk mengusikku? Jadi, untuk alasan apa aku berusaha setengah mati agar ia tak tahu bahwa saat ini aku sebenarnya sudah terbangun? Apakah aku sudah terlalu begitu penasaran tentang apa yang sebenarnya ia nikmati dari menatap wajahku?
Mungkin semua hanyalah ketakutanku semata. Ketakutanku yang tak kutahu karena apa. Tapi, semua semakin menjelas ketika kurasakan sentuhan tangannya di satu sisi wajahku. Seakan tubuhku sudah mengetahui hal apa yang akan terjadi selanjutnya, ia sontak menegang dengan sendirinya.
Aku tak yakin saat itu Kiandra tak curiga kalau aku hanya berpura-pura tidur dengan kenyataan di mana jantungku yang berdegup semakin tak menentu. Bahkan kurasa gendang telingaku saat itu pun bisa pecah karena besarnya bunyi debarku. Aku ingin mengenyahkan perasaan itu, tapi ketika semua sarafku bersiaga maka aku sudah sedikit mengetahui apa yang sedang terjadi padaku. Terutama ketika tanpa ada niat sedikit pun untuk menghentikannya, kubiarkan ia semakin menunduk ke arahku. Apa ini balasannya untuk malam itu?
Dan satu perasaan itu seketika menyelimuti seluruh sisi tubuhku. Kurasakan bibir lembutnya jatuh di atas milikku. Napas hangatnya begitu terasa di wajahku. Kulihat matanya terpejam seolah ia sedang meresapi momen tersebut. Beberapa saat aku harus berusaha mati-matian agar tidak merusak akting payahku yang sedang tidur. Tapi, semua memang tak semudah itu. Tak pernah mudah ketika ada perasaan yang bermain di sana. Aku tahu itu salah, tapi ternyata kali ini aku tak berdaya.
Kesiap kaget sempat kudengar ketika akhirnya kuputuskan untuk membalas kecupan lembut itu. Kurengkuh tubuhnya agar ia tak pergi dariku dan kutahan tekuknya agar tak menarik bibir lembutnya dari milikku. Dan selanjutnya, semua terjadi sebagaimana alam yang telah memutuskannya. Kupejamkan mataku saat bibirku menuntut haknya terhadap Kiandra. Dan dengan senang hati kulumat kedua belah bibirnya. Semua terasa begitu nyata ketika Kiandra semakin menyambut sentuhanku. Sekarang dapat kurasakan kedua tangannya di pipiku.
Aku bisa merasakan gemetar tangan Kiandra yang perlahan turun mengusap dadaku dengan lembut. Seolah itu adalah simfoni pengiring untuk semua desahan yang lolos dari bibirnya. Aku menyukainya... Terutama ketika di sela-sela itu kudengar ia dengan lirih menyebut namaku. Perlahan, dalam kecupan-kecupan kami yang semakin mendalam, aku tersenyum menikmatinya. Maka tak ada alasan lain yang terbersit di benakku untuk tidak meneruskan itu semua. Setidaknya tak ada untuk malam itu. Mungkin di esok pagi aku baru akan menyadari kesalahan yang telah kulakukan. Namun, malam ini telah berkata.
Ya. Aku menyukai saat di mana ia menyentuhku.
&
bersambung ....