Bab 3

1336 Kata
"Sekarang hubunganmu dan Hali sudah jelas jadi kapan kalian mau ketemu sama orang tua Hali?" tanya Imah, Ibu Marisa. Wanita itu tahu akan hubungannya dengan anak mantan majikan. Dia sangat ingin melihat putri sematawayangnya menikah dengan orang yang ia cintai dan orang beruntung tersebut adalah Hali. Tidak seperti Della-Ibu Hali, Imah sangat mendukung hubungan Marisa bersama Hali. Meski merasa tidak enak hati tapi Imah menginginkan Marisa bahagia. Setidaknya hanya itu yang bisa dilakukan sekarang. Akhir-akhir ini dia sering sakit dan tidak berdaya. Imah merasa waktunya tidak akan lama lagi untuk hidup. Mungkin karena semua dosa-dosanya di masa lalu hingga Imah merasakan penderitaan di masa tua. Imah sama sekali tidak mengeluh bahkan menerima dengan lapang d**a. Imah sadar apa yang ia lakukan tidak bisa dimaafkan dengan mudah tapi di sisi lain perasaan malu untuk sekedar meminta maaf tak bisa dibendung oleh wanita itu. Masalah akan menimpa hubungan Marisa dan Hali karena dia tapi Imah berjanji tidak akan lari lagi. Demi bahagianya Marisa, dia harus mengubur perasaan malu. Di dalam apartemen yang kecil mereka berdua hidup amat sederhana. Kendati Marisa memiliki seorang pacar nan kaya, tak pernah terlintas sekalipun di benaknya untuk memanfaatkan Hali. Dia sungguh mencintai Hali dan tak mau kekasihnya tidak merasa nyaman. Sampai sekarang Marisa terus memegang teguh prinsipnya itu. Soal pendapatan, Marisa memiliki dua pekerjaan dengan shift yang berbeda. Rumah mereka memanglah sederhana namun tidak mengapa. Selagi bisa ditinggali dengan nyaman, Marisa dan Imah akan tetap bertahan sampai memiliki uang untuk mendapat rumah yang lebih bagus. Mungkin akan lebih sedikit lama mendapatkan rumah bagus mengingat sebentar lagi Marisa akan menikah. Tabungan rumah nanti beralih fungsi membayar pernikahan. "Hali akan mencari waktu yang pas. Ibu tahu, kan dia sangat sibuk." Marisa menjawab. "Ya Ibu tahu kok, Ibu cuma ingin memastikan kalau dia memang serius." "Dia serius Ibu, ini buktinya." Marisa memperlihatkan cincin yang berada di jari manis. "Tapi aku tidak mengerti Ibu, kenapa Ibu Hali membenci kita? Dulu saat Ibu bekerja di rumah mereka, aku disayangi layaknya putri mereka tapi sekarang jangankan bertemu menitip salam saja mereka tak mau." Imah tertunduk lesu. Sepertinya ini akan menjadi masalah yang sangat rumit. "Pemikiran, perasaan orang berbeda-beda tiap harinya. Mungkin ada beberapa hal yang membuat Ibu Hali kurang suka dengan kita," "Tapi apa alasannya." Kalut dengan pertanyaan yang tak bisa ia jawab, suara ketukan pintu membuyarkan lamunan mereka. Marisa segera membuka pintu ketika ketukannya menjadi lebih besar lagi. Dia sungguh tak sabaran. Pintu terbuka menampakkan sosok Della. "Tante," ucap Marisa terkejut. Sama dengan putrinya, Imah juga sangatlah terkejut akan kehadiran Ibu Hali. "Aku langsung ke point utama saja, berikan cincin yang Hali kasih ke kamu." Marisa termangu. Sungguh bukan sesuatu yang ingin Marisa dengar. "Kenapa diam saja? Berikan cincinnya cepat!" paksa Della lagi. Tampaknya ia sangat serius. "Kau pikir aku mau berikan restu sama anak dari w************n seperti kamu!" Marisa yang awalnya diam saja langsung tersulut emosi. Dia segera melepas cincin pemberian Hali. "Tante bisa menghina saya tapi jangan pernah menghina Ibu saya!" "Memang begitu kenyataannya kok." Della lalu mengalihkan perhatiannya pada Imah. "Kau tak bilang pada anakmu ya soal kejadian waktu itu?" Imah diam tak menanggapi malah ia menundukkan kepalanya sedih. "Kenapa kau memasang ekpresi begitu hah?! Jangan berpura-pura kau korban di sini! Kau pelaku utamanya. Andai saja kau tak melakukan hal itu mungkin aku mau memberikan restu pada mereka." Della mencoba masuk tetapi Marisa segera menahannya, memaksa Della untuk membuat jarak dari rumah mereka. "Jangan pernah datang ke sini lagi! Aku tak mau melihatmu dan katakan pada Hali pertunangannya batal!" Marisa menutup pintu tak sabaran menimbulkan suara yang memekakan telinga. Wanita muda itu tak percaya jika masalahnya akan serunyam ini. Tak ada kesempatan untuk dia dan Hali bersatu jika Della tak memaafkan Ibunya. "Maafkan Ibu ya nak," lirih Imah tiba-tiba. Marisa berbalik memandang Imah. "Ini semua karena kesalahan Ibu. Kalau saja Ibu tak buat kesalahan mungkin saja kalian-" "Aku juga salah Bu," potong Marisa. "Aku terlalu berharap banyak jika hubunganku dan Hali akan diterima." Marisa mendekat ke arah Ibunya, tangannya menggenggam hangat jemari Imah mencoba menenangkan wanita itu. "Biarlah hubunganku dan Hali kandas dari pada Ibu selalu dicerca sama Tante, kesehatan Ibu jauh lebih penting. Kalau pun jodoh pasti kita akan bertemu." Imah tak kuasa menahan tangis. Dia yang jahat ini kenapa diberkahi seorang putri yang sangat baik. Imah merasa malu sekali. ❤❤❤❤ Della akhirnya sampai di perusahaan. Buru-buru ia menuju kantor tempat Hali berada. Tidak banyak basi ia masuk menemukan Hali sibuk dengan sekretaris menyiapkan sebuah file. "Ibu kok datang ke sini? Ada masalah apa?" tanya Hali ia hanya melihat sebentar ke arah wanita itu karena sibuk akan pekerjaan. Della segera mengeluarkan cincin lamaran dan meletakkan tepat di depan Hali. "Pertunangannya batal. Jangan pernah hubungi Marisa lagi." Hali sontak menghentikan aktivitasnya. Matanya terus menatap cincin yang tergeletak di atas meja. "Tidak mungkin, Ibu pasti yang membuat dia memberikan cincinnya, kan? Kenapa Ibu melakukan semua ini?" "Dia yang memberikannya sama Ibu. Kalau tidak percaya tanyakan pada dirinya sendiri." Della pergi begitu saja. Memang tujuannya hanya memberikan Hali cincin. Hali tak bisa berbuat apa-apa selain kembali mengerjakan tugasnya. Rencana istirahat makan siang barulah ia menuju tempat Marisa bekerja. Meski demikian Hali tetap merasa terganggu pikirannya karena cincin tersebut. ❤❤❤❤ Pukul 12.00, Hali segera menuju cafe tempat Marisa bekerja. Ia sabar menunggu sampai Marisa mau bertemu bahkan sudah meminta beberapa orang untuk memanggil Marisa. Namun gadis itu tak kunjung menemuinya. Pada akhirnya, Hali tak memiliki pilihan selain menghubungi manajer. Barulah Marisa mau menemui Hali di ruang belakang. Tempat istirahat para karyawan. Marisa bahkan enggan menatap Hali saat mereka bertemu. Hali tidak banyak omong, dia segera memperlihatkan cincin lamaran. "Ibuku yang memberikan ini padaku, katanya kamu tak mau melanjutkan pertunangan kita. Ada apa? Ibuku berbuat ulah lagi?" tanya Hali. "Sudahlah Hali, aku menyerah dengan hubungan kita. Aku tak mau hanya karena kita keras kepala, Ibuku jadi korban. Tadi pagi Ibumu datang dan menghina Ibuku, kau tahu bagaimana kondisi Ibu yang sering sakit-sakitan beberapa bulan ini tapi dengan tanpa belas kasihan, Ibumu mengatai Ibuku w************n. Aku tak terima akan semua ucapan Ibumu!" marah Marisa. "Ok, aku akan minta maaf bahkan aku akan meminta Ibuku-" "Itu tidak perlu Hali." Marisa memotong cepat. "Aku hanya ingin hidup tenang bersama Ibuku. Aku juga mau minta maaf kalau ada kesalahan dari keluarga kami terhadap keluargamu jadi tolong jangan hubungi aku lagi!" Marisa kemudian bangkit dari kursi keluar dari ruangan menyisakan Hali yang tertekan. Halaman belakang menjadi tujuan Marisa. Di sana ia menangis, tak kuasa menahan sebak air mata yang tertahan. Marisa pun merasa berat tapi demi Ibunya dia akan merelakan apapun termasuk Hali. Semoga keputusannya benar. ❤❤❤❤ Setelah pulang dari tempat kerja Marisa, Hali sangatlah tidak bersemangat. Dia mencoba berkonsentrasi kepada pekerjaan, tapi selalu saja teringat ucapan Marisa. Hubungan yang awalnya mesra kini berantakan hanya karena perkataan Ibunya. Sampai larut malam, Hali memilih berlama-lama di kantor. "Kenapa anda masih ada di sini?" Suara pria berusia 30-an menginterupsi. Hali memandang pria itu tanpa minat. "Aku hanya ingin sendirian saja." Hali membalas malas. "Kalau anda seperti ini pastilah ada masalah, benar tidak?" Hali tersenyum kecut. "Kau memang sekretarisku yang paling andal. Walau hanya dua tahun kita bekerja pekerjaanmu sangatlah bagus sayang sekali ini hari terakhirmu. Padahal aku belum mengenalmu dengan baik." "Tidak apa-apa Tuan, saya mengerti kita sangat sibuk dengan pekerjaan. Saya datang ke sini sebab anda tidak datang ke acara perpisahan. Saya sudah pamit dengan semua orang kecuali anda." Sekretaris bertutur panjang. "Maaf ya aku benar-benar lelah," ucap Hali. "Anda tak perlu minta maaf." Sekretarisnya kemudian memberikan sebuah file dan ayam kecap kesukaan Hali. "Ini adalah file sekretaris baru. Dia beberapa kali datang untuk beradaptasi di sini. Saya sudah mengajarkan beberapa hal dan saya rasa dia bisa menjadi sekretaris yang baik untuk anda." "Lalu yang ini?" tanya Hali sambil menunjuk ayam kecap. Sekretaris tersenyum. "Itu untuk makan malam anda. Kalau begitu saya permisi dulu Tuan, senang bisa bekerja dengan anda dan semoga kita bisa bertemu lagi," pamit Sekretaris. "Terima kasih. Jaga diri anda baik-baik." Sekretaris kemudian keluar dari ruangan Hali menyisakan pria itu sendirian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN