Part 6

1133 Kata
-Kalila POV- Beberapa hari ini aku disibukkan dengan pekerjaanku, sehingga waktu untuk bertemu dengan calon suamiku sangat berkurang. Sepertinya Mas Teguh pun sama, disibukkan oleh pekerjaannya. Akhir-akhir ini intensitasnya menghubungiku sedikit berkurang. Jika biasanya ketika tidak bisa bertemu, dia bisa menelepon ku minimal tiga kali sehari. Pagi saat bangun tidur, siang saat istirahat dan malam sebelum tidur. Belum lagi pesan yang dikirim via w******p olehnya. Tapi sekarang, kekasihnya itu tidak ada menghubunginya sejak kemarin. Tak apalah, kupikir. Nanti setelah menikah, kami akan lebih banyak memiliki waktu untuk bersama, dari bangun tidur, hingga malam ketika akan tidur, kami akan terus bersama-sama. Hei, apa yang kupikirkan? Apakah aku sedang membayangkan tidur bersama calon suamiku? Aishhh… Lila… Kau harus sedikit bersabar. Hentikan menghayal yang tidak-tidak. Ucapku pada diriku sendiri. Siang ini aku harus menuju salah satu hotel terbesar di kota ini, yang akan menjadi lokasi pernikahan klienku bulan depan. Bukan klien biasa, karena calon pengantinku ini adalah putri dari pengusaha batu bara yang sangat disegani. Yang tentu saja menginginkan segalanya dengan sempurna saat resepsi pernikahannya nanti. Ketika pekerjaanku hampir selesai, kekasihku menelpon. Dia menanyakanku apakah sudah makan saiang atau belum. Ah, aku sangat merindukannya saat ini. Seandainya kami tidak sedang sibuk, aku pasti akan datang ke kantornya untuk makan siang bersama. Tapi sudahlah, tak apa. Dia menghubungi saja aku sudah senang luar biasa. Nanti setelah menikah, aku pasti akan memiliki banyak waktu bersamanya. See? Ada apa dengan pikiranku. Akhir-akhir ini aku sering membayangkan saat aku sudah menikah nanti. Bangun tidur, aku akan membuka mata dan pemandangan yang pertama kali kulihat adalah wajah suamiku. Lalu aku akan mandi dan menyiapkan sarapan untuknya, menyiapkan segala keperluannya untuk bekerja. Sore hari, ketika pulang ke rumah, dia akan memelukku yang sedang memasak menyiapkan makan malam kami. Lalu kami akan makan malam bersama. Ah indahnya… Dan sebelum tidur, mungkin akan ada beberapa sesi memadu cinta dengan suamiku. Sungguh, membayangkannya saja sudah mampu membuat wajahku panas dan memerah karena malu. Baik. Sudah cukup khayalannya, Lila. Kembali ke dunia nyata sekarang, sebelum kamu nggak bisa kembali ke bumi karena terbang terlalu tinggi. Pekerjaanku baru saja selesai dan aku menepikan kendaraanku di salah satu minimarket untuk membeli minum. Aku melihat Mas Teguh berlari ke arahku. Aku tersenyum dan bersiap menyambutnya. Tapi… ternyata dia bukan berlari ke arahku. Dia mengejar seseorang. Dia memasuki mobil Honda Jazz Putih yang entah punya siapa. Aku mengedipkan mataku yang mulai berkabut. Menarik nafas dalam-dalam karena secara tiba-tiba aku kekurangan pasokan oksigen. Sepertinya mereka baru keluar dari kafe di seberang minimarket ini. Aku melihat mereka beradu mulut, dan melihat Mas Teguh menggenggam tangan gadis itu dengan kasar, hingga dia menangis. Dan pemandangan selanjutnya sungguh tidak pernah terbayang di kepalaku. Calon suamiku memeluk gadis lain, dia membawa gadis yang sedang menangis itu ke dalam pelukannya. Tidak hanya itu, dia juga membelai rambut gadis itu dengan lembut dan juga mengecup keningnya.  Sudah cukup. Aku tak sanggup lagi menonton pertunjukan dramatis ini. Aku langsung pergi, aku tidak ingin pingsan di tempat ini. -Kalila POV end- --- Hari ini jadwal Fitting untuk Teguh dan Kalila. Teguh berjanji akan menjemput Kalila sore sepulang kerja. Sebenarnya suasana hati Kalila sedang kurang baik mengingat hal yang baru dilihatnya kemarin. Tapi Kalila memilih diam, daripada marah-marah pada calon suaminya. Jarum jam di tangan Kalila sudah menunjukkan angka setengah lima sore, tapi belum ada tanda-tanda Teguh akan datang menjemputnya. Biasanya lelaki itu meninggalkan kantornya jam empat sore. Bukankah seharusnya dia sudah tiba disini menjemput Kalila? Setengah jam kemudian, Teguh datang dan meminta maaf karena telat. Dia harus menyelesaikan beberapa pekerjaannya. “Sayang, maaf ya… Kamu udah lama nunggu? Tadi aku selesaikan kerjaan dulu karena tanggung kalo ditinggal.” Kalila hanya mengangkat bahu dan langsung masuk ke mobil calon suaminya itu tanpa senyum sedikitpun. “Kok cemberut sih? Bete ya, nunggu lama?” Kalila masih diam. Teguh menghela nafasnya, “Aku kangen lo sama kamu. Kita udah berapa hari nggak ketemu. Sekali ketemu, gak dapat senyum dari wajah cantik calon istriku ini.” Kalila menoleh, memandang Teguh. “Beneran kangen?” Teguh mengangguk. “Kalo kangen kenapa nggak datang ke rumah buat ketemu?” Teguh tersenyum tipis, “Aku lagi sibuk Lila sayang. Kerjaanku numpuk dan aku harus selesaikan semuanya supaya nanti pas aku tinggal cuti, kita bisa bulan madu dengan tenang gak dikejar kerjaan.” “Sibuk? Banyak kerjaan? Tapi bisa ketemu cewek lain.” dalam hati Kalila berteriak. Kalila enggan berdebat karena mereka sudah sampai. Tak berapa lama, mereka mulai disibukkan dengan baju yang akan mereka pakai saat akad nikah dan resepsi nanti. Kalila akan menggunakan kebaya putih sederhana tapi elegan. Di sepanjang bahunya ada sedikit payet dari batu-batuan berwarna biru muda. Begitu juga di bagian pergelangan tangannya. Bahkan tanpa make up, Kalila terlihat sangat cantik memakai kebaya itu. Teguh memandang Kalila dengan mata tak berkedip melihat calon istrinya. Membuat Kalila salah tingkah. “Aku jadi nggak sabar pengen cepat-cepat menjadikan kamu pengantinku.” Bisik Teguh di telinga Kalila. Kalila enggan menanggapinya. Kemudian giliran Teguh yang mencoba jas putih nya, yang senada dengan kebaya Kalila. Sepertinya jas Teguh masih kurang pas, agak kebesaran. Teguh meminta bagian lengannya agak dinaikkan karena tangannya hampir tenggelam. Selanjtnya, mereka berdua mencoba gaun dan jas yang akan dipakai untuk resepsi di malam harinya, setelah akad nikah yang dilaksanakan pagi. Kalila memesan gaun berwarna rosegold yang cukup mewah, tapi tidak berlebihan. Gaun itu panjang menyapu lantai, tapi masih gampang untuknya bergerak. Kalila memilih gaun dengan model duyung, karena dia tidak suka gaun mengembang apalagi memakai petticoat. Untuk duduk saja sulit, apalagi berjalan, pikirnya. Teguh pun memakai jas dengan warna senada. Mereka berdiri didepan cermin, dan melihat betapa serasinya mereka. Membuat pasangan lain yang juga sedang fitting memandang iri. “Sayang sebentar, jangan kemana-mana.” Teguh mengambil handphonenya di tas. Lalu kembali ke samping Kalila. Tanpa canggung lengan Teguh melingkar di pinggang Kalila mesra, lalu memotret mereka berdua dari depan cermin. Kalila tersenyum tipis melihat kelakuan calon suaminya itu. --- “Sayang, kamu kok dari tadi diam aja sih? Sariawan?” Tanya Teguh. “Sayang kamu marah ya? Kenapa?” Teguh menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sungguh dia tidak bisa mengerti dengan jalan pikiran para wanita yang lebih suka diam tanpa berkata apa-apa. Apa mereka pikir para lelaki bisa membaca pikiran mereka? Bagaimana bisa dia tau apa kesalahan yang dibuat, kalau mereka diam saja. Teguh mendengus kesal. Kalila yang sudah tidak tahan menutup mulut sejak tadi, lalu menoleh ke arah Teguh dan menatapnya tajam. “Mas, kamu serius nggak sih mau nikah sama aku?” akhirnya Kalila membuka suara. Teguh menoleh heran, “Apa maksud kamu sayang? Darimana kamu bisa berpikir kalo aku nggak serius?” Kalila kembali diam. Hanya mengangkat bahunya. Teguh lalu melanjutkan, “Pernikahan kita tinggal beberapa hari lagi Lila sayang. Semua persiapan hampir selesai. Jangan ngomong macam-macam, aku nggak suka.” Kalila menarik nafasnya yang tiba-tiba sesak, “Kalo Mas serius sama aku, lalu… Kenapa ada wanita lain? Siapa dia, Mas?” Ciiiitttt…!!! Teguh terkejut hingga tanpa sadar menginjak rem dengan mendadak. Membuat tubuh Kalila terdorong ke depan. Untung dia memakai seatbelt. “Sayang, kamu nggak pa-pa? Maafin aku sayang…” tangan Teguh mengusap kepala Kalila lembut. Tapi Kalila menghindar, menarik kepalanya menjauh. Hatinya masih nyeri karena kemaren Teguh juga melakukan itu, tapi bukan padanya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN