Tidak ada.
Manusia yang terlahir dengan keburukan menyertainya. Yang tertulis bersama kelahiran mereka adalah apa yang akan menjadi takdirnya dan perjalanan yang akan dia lalui. Lalu, ketika keburukan yang menjadi karakter manusia itu? Apakah ada yang salah? Adalah bagaimana manusia menyikapi perjalanan yang sudah tertulis dan ditiupkan ke dalam rohnya. Bagaimana manusia bersikap dan menentukan apa saja yang harus dilakukan dalam perjalanan itu. Sekali dua kali terpeleset menapak dan membuat pilihan yang buruk, maka itu yang akan menjadi pribadinya.
Sampai nanti dia memilih mengakhiri semua dan kembali menjadi bersih dan memperbaiki diri.
Atau, berakhir dengan cap di kening sebagai seseorang yang buruk.
Dan mati meninggalkan kenangan buruk bagi yang ditinggalkan.
Dua pilihan.
Perkumpulan Yakuza adalah perkumpulan orang-orang dengan naluri dan kekuatan. Persaudaraan siap mati satu sama lain. Mereka adalah orang-orang dengan harga diri. Mati adalah harga dari sebuah kesalahan yang dibuat.
Orang-orang itu.
Bersama dengan sakura yang mekar seutuhnya. Mengamati dalam diam lengangnya properti Kodame. Setelah pergerakan yang mereka buat atas perintah dari pemimpin mereka, mereka mendapati kenyataan bahwa Kenji Kodame memilih menyelidiki kejadian pembakaran markas dan restoran keluarga dalam diam. Sesuatu yang sedikit meleset dari perkiraan. Mereka memikirkan tentang sebuah penyerangan balik, namun klan Kodame begitu tenang dan tidak melakukan apapun bahkan hingga ke lini paling luar klan itu. Anak buah Kodame sama tenangnya dengan pemimpin mereka.
Rencana kedua tengah di jalankan.
Penginapan bagi wisatawan yang terletak dekat dengan bagian terluar properti Kodame itu nyatanya tidak pernah benar-benar ditinggalkan oleh orang-orang Watanabe. Empat pria bergantian mengamati kediaman Kodame. Penginapan tiga lantai itu cukup menguntungkan bagi mereka karena bisa melakukan pengamatan dengan leluasa.
Dengan peralatan canggih yang bertahap mereka datangkan dari markas besar mereka, mereka berdiam diri bagai ayam yang tengah mengerami telurnya. Sangat telaten.
Sementara itu.
Hana mulai terbiasa dengan tempat dimana dia tinggal. Mulai melakukan banyak hal dengan komputer jinjing nya. Mulai terbiasa dengan Aaron yang bisa menjadi hangat saat bersama dirinya. Dan membiasakan diri melihat Aaron yang dingin saat bersama dengan keluarga atau teman sebayanya yang menjadi anggota klan Kodame.
Hana membuat blog untuk mengusir sepinya. Membuka konsultasi online selaras dengan pekerjaannya. Dan mulai menikmatinya dengan sungguh-sungguh.
"Kau boleh memasukkan foto-foto ku di blog mu."
Hana tidak menjawab. Namun tangannya mengelus secara ritmis kepala Aaron yang rebah di pahanya. Sedikit menyulitkan karena Hana baru saja memulai tulisan di blognya saat Aaron datang dan langsung merebahkan diri beralaskan pahanya.
"Kau tidak mau memasukkan fotoku? Banyak yang meminta ijin untuk..."
"Tidak. Aku hanya menulis blog gaya untuk wanita."
"Bukankah akan menjadi daya tarik kalau kau memasang fotoku? Akan semakin banyak yang membaca."
"Hmm...aku tidak suka berbagi."
"Hooh. Apa kau akan memintaku berhenti dari pekerjaanku nanti?"
"Tidak..." Hana menjawab singkat. Jawaban yang menggantung yang membuat Aaron mengernyit.
"Aku mendukung apa yang kau sukai." Hana meneruskan kata-katanya. Dan itu membuat Aaron semakin menautkan alisnya. Aaron berpikir bahwa hubungannya dengan Hana akan berisi hal seperti itu. Hana yang merasa terganggu kalau memikirkan bahwa dia akan melihat dirinya berinteraksi secara intim dalam film dengan lawan mainnya.
Aaron tersenyum dan ikut menatap layar laptop. Hana terlihat kesulitan mengetikkan kalimat tapi Aaron enggan beranjak dari posisinya. Sampai kemudian Hana menutup laptopnya dan bergerak mengusap alis mata Aaron perlahan.
"Kau merasa bosan?" Aaron memejamkan mata.
"Huum...sedikit."
"Kau bisa keluar."
"Bagaimana suasana tengah kota?"
"Kau mau ke sana?"
"Huum...ada beberapa barang yang harus ku beli sendiri."
"Kita bisa pergi besok."
"Benarkah?"
"Tentu saja. Bersiaplah jam sembilan."
"Baiklah."
"Baiklah. Sekarang ayo berbagi."
"Berbagi...?"
"Seperti ini..." Aaron beranjak dan mencium bibir Hana membuat Hana tersentak dan rebah ke ranjang. "Kau tidak mau berbagi dengan orang lain bukan? Jadi berbagilah denganku saja."
"Aaargh...bukan itu maksudku...Aaron...sakit!" Hana memekik lalu menutup mulutnya saat Aaron menggigit dagunya. Hana melirik ke arah pintu.
"Oh...tidak bisa berhenti. Boleh aku mengumpat?" Aaron menggeleng bingung.
"O...o...jangan sekalipun."
"Oh baiklah." Aaron merangsek. Apa yang dilakukan Aaron selanjutnya membuat Hana menahan napasnya. Mengapa Aaron justru menjilat lehernya? Dan itu justru membuat Hana tak bisa menahan tawanya.
Aaron beranjak.
"Kenapa tertawa?"
"Aku baru tahu hobi mu sebenarnya adalah menggigit dan menjilat. Apa di kehidupan sebelumnya kau adalah anjing pudel yang imut?"
"Hana..." Aaron menggeram. Dia berbalik dan memunggungi Hana.
"Ooh...come on. Jangan merajuk." Hana beringsut dan mendekat pada Aaron. Aaron yang tetap diam saja. Dan menarik selimut. Hana mengeryit dan merebahkan tubuhnya. Dia menghela napas pelan. Aaron yang seperti sekarang ini jelas adalah Aaron yang baru baginya. Hana belum pernah menemukan sisi Aaron yang seperti itu sebelumnya.
"Maafkan aku. Tapi, semua hal itu...adalah hal baru bagiku. Kau paling tahu aku. Aku bahkan belum pernah berkencan. Aku...mencintaimu. Dan rasanya, aku tidak akan bisa hidup tanpamu mulai sekarang."
Hana berbisik lirih di punggung Aaron. "Apa kau tidur?"
Hana terus mengamati punggung Aaron. Tangannya tidak tahan untuk tidak terulur dan menyentuh punggung Aaron. Telunjuknya bergerak menggambar simbol hati di punggung Aaron. Satu kali. Dua kali. Tiga kali...
Hingga Aaron berbalik.
"Apa kau takut aku marah?"
"Eh?" Hana tersentak saat Aaron menarik pinggangnya hingga dia membentur tubuhnya. Aroma pria itu menyeruak. Aroma yang sejak tadi mengacaukan konsentrasi Hana. "Kau tidak pernah marah sekalipun pekerjaanku ada yang salah. Kau seperti tadi membuatku takut."
"Aku tidak marah. Aku tidak akan bisa marah padamu. Aku hanya tidak bisa mengendalikan diriku saat di dekatmu. Bagaimanapun, kita sudah memiliki komitmen. Sangat sulit untuk menahan diri. Aku ini pria..." Suara Aaron lebih terdengar sebagai keluhan.
"Oh..." Hana mendongak.
"Aku juga mencintaimu." Aaron meraih telapak tangan Hana dan membuat tanda hati sebanyak tiga kali. Sama seperti yang Hana lakukan. Hana menatap Aaron lekat.
"Ada banyak hal penting yang harus kau lakukan. Kalau aku memberikan itu sekarang...itu akan memecah konsentrasi mu. Aku bukan berbangga hati. Tapi kau tidak akan bisa meninggalkan aku untuk pekerjaanmu setelah itu..." Hana menggantung kalimatnya. Ditatapnya lebih lekat Aaron yang sepertinya mencerna ucapannya.
"Baiklah..."
Hana mengangguk lega. Tapi tidak sedetik kemudian ketika Aaron mulai melakukan kesenangannya. Hana hanya bisa menahan tawanya ketika Aaron mulai menjelajah lehernya dengan gigitan dan jilatan kecil.
Oh...skinship seperti itu sangat menyulitkan untuk Hana... seandainya Aaron tahu. Hana menutup mulutnya dan membiarkan saja Aaron melakukan apapun. Hana berpikir sampai kapan? Bahkan Hana tidak bisa memikirkan bagian tubuh Aaron yang mana yang tidak dia suka? Hana bahkan baru saja melirik telapak kaki Aaron yang terlihat sangat kuat. Juga lengannya saat Aaron menggulung kemejanya tadi. Dan bibir yang tengah menjelajah itu...sangat penuh...dan sudah membuktikan dirinya pencium yang ulung...
"Ooh... sebaiknya aku keluar..." Aaron beranjak dari ranjang dan berdiri. Mata Aaron menatap Hana dengan tatapan seorang pria yang b*******h. Hana masih menutup mulutnya.
"Aku keluar..."
Hana mengangguk. Aaron berbalik cepat. Keluar dari kamar dengan menutup pintu sedikit keras seakan dia mencoba menyalurkan segalanya pada apapun itu yang terjangkau oleh tangannya.
"Oooh...aku tidak percaya ini." Hana beranjak dan duduk bersila. Dia masih menutup mulutnya tak percaya. Dia menatap pintu yang baru saja berderak itu lama.
***
Pusat Osaka
Distrik Minami yang tidak pernah tidur.
Aaron meraih tangan Hana yang terlihat terbengong menatap sekelilingnya. Hana menoleh sekilas pada Aaron sebelum akhirnya menatap lagi sekelilingnya. Beberapa kali pejalan kaki bahkan menabraknya.
Aaron menarik Hana ke sisi jalan. Mereka akhirnya berdiri di sisi kanan jembatan Dotonbori (dibangun oleh Yasui Doton 1612-1615, atas perintah pemimpin masa itu yaitu Toyotomi Hidetoshi), yang berada di kanal Dotonbori yang mengular sepanjang jembatan Dotonboribashi hingga jembatan Nipponbashi di distrik Namba. Sepanjang kanan kiri kanal dikenal sebagai Dotonbori River Walk.
Sepanjang Dotonbori River Walk terdapat pusat perbelanjaan dengan berbagai diskon menarik. Bukan saja sebagai tempat wisata, tempat itu juga adalah pusat pengeluaran, gastronomi dan hiburan. Mereka menyebut tempat itu sebagai Kuidaore atau Dapur Nasional. Wisatawan dapat menikmati olahan kepiting Okonomiyaki, Udon dan Takoyaki dengan harga yang sangat rendah.
"Kau mau makan?"
Hana menoleh pada Aaron dan mengangguk. Mereka sedang menatap sebuah perahu mesin melintas kanal membawa beberapa wisatawan.
"Baiklah. Ayo." Aaron meraih tangan Hana dan menariknya perlahan menuju sisi selatan kanal. Di sana banyak berdiri restoran dengan berbagai macam hidangan laut. Setelah beberapa saat berjalan Aaron menarik Hana untuk masuk ke sebuah restoran langganan nya ketika sedang mengunjungi tempat itu. Aaron mengobrol sebentar dengan pemilik restoran sebelum duduk di depan Hana yang terlihat tidak berhenti mengagumi apa yang dia lihat.
Setelah menunggu sesaat, mereka berdua menikmati makan siang mereka dengan Aaron yang berusaha mungkin memberi tahu Hana sejarah tempat itu.
"Aku akan mengajakmu ke tempat pameran Harajuku style setelah ini. Bagaimana?"
Hana mengangguk antusias sambil menyuapkan makanannya. Mereka akhirnya makan sambil sesekali saling menatap dan tertawa pelan. Pemilik restoran bahkan menjaga privasi Aaron dengan mengatakan bahwa pelanggannya sedang makan dan tidak bisa menerima ajakan berfoto ketika beberapa orang mengenali Aaron dan meminta untuk berfoto. Aaron hanya tersenyum dan berdiri sejenak. Menghampiri orang-orang itu dan berfoto sesuai permintaan mereka.
Aaron dan Hana menyelesaikan makan siang mereka dan bergegas keluar. Hana hanya menunduk ketika mengetahui banyak orang mengarahkan kamera ponsel mereka dan mengambil gambar Aaron.
Aaron menggenggam tangan Hana sepanjang mereka berjalan di tepi kanal menuju ke arah jembatan Nipponbashi. Hana masih setia mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri. Mereka memutuskan masuk ke sebuah gerai pakaian dan keluar dengan dua paper bag di tangan Aaron. Mereka berdua meneruskan langkah mereka sambil bercakap.
Mereka sudah berbelok dan berada di tengah jembatan Nipponbashi ketika Aaron menarik tangan Hana dan membawa Hana berdiri di belakang tubuhnya. Hana tercekat dan segera saja merasakan hal yang tidak beres karena genggaman tangan Aaron yang menjadi begitu kuat. Hana sontak menoleh ke belakangnya dan menemukan beberapa pengawal Aaron sudah berdiri di belakang mereka. Hana menoleh cepat ke arah Aaron lalu ke depan mereka. Dan seketika itu juga wajah Hana menjadi pias. Hana meremas tangan Aaron kuat dan menahan napas.
Sepuluh detik kemudian, lalu lalang orang di jembatan Nipponbashi mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Mereka tetap berjalan dengan lebih menepi ke sisi jembatan.
Udara mengalir dengan cepat. Angin datang dari arah kanal yang tidak pernah sepi oleh perahu motor. Hana menatap lurus ke depan dengan pandangan kalut. Lalu ke arah Aaron demi mendapatkan ketenangan. Dan melihat raut wajah Aaron membuat Hana justru merasakan perasaan nya jungkir balik. Pria itu sungguh terlihat sangat dingin dengan aura siap membunuh. Bibir Aaron yang terkatup rapat dengan pandangan memicing seakan singa menatap mangsanya.
Hiro Watanabe.
Berdiri di depan mereka dengan lebih dari sepuluh pengawalnya. Pria itu memasukkan kedua tangan ke dalam saku bajunya. Dagunya mendongak selayaknya memberikan tantangan. Pria itu melangkah mendekat hingga menyisakan dua langkah di depan Aaron dan Hana.
Udara panas segera saja menerpa. Seluruh pengawal terlihat serempak bersiaga. Hawa peperangan tak terelakkan. Dalam diam mereka yang bagai menyimpan api dalam sekam, api itu bisa berkobar dalam hitungan sepersekian detik ketika salah satu diantara mereka menyulutnya. Situasi benar-benar mencekam.
Hembusan napas. Tatapan mata sedingin kematian dari mata Aaron.
"Pastikan kau menjaga wanita itu baik-baik, Kodame. Atau aku akan mengambilnya darimu."
Suara berat Hiro memecah sunyi.
"Pastikan kau memiliki tujuh nyawa tambahan untuk bisa mengambilnya dariku."
Hana tersentak. Suara bariton itu...mengapa terdengar begitu dingin dan seakan mengalunkan kidung kematian? Hana dengan telapak tangannya yang berkeringat merasakan Aaron meremas tangannya seakan mengatakan bahwa Hana hanya harus tenang.
Lalu lalang orang seakan terhenti oleh waktu yang juga seakan terhenti.
Sampai kemudian Hiro mengangkat tangan kanan mengisyaratkan anak buahnya untuk membubarkan diri. Aaron dan anak buahnya masih berdiri tegak ketika rombongan Hiro berlalu dengan jumawa.
Hana menunduk. Satu hal yang dia sadari sekarang. Dimana pun Aaron dan dirinya berada, dan kemanapun mereka melangkah, tak sejengkal pun pengawal pengawal Aaron meninggalkan mereka.
Aaron mengangkat tangannya dan pengawalnya pun segera bergerak menyebar dipimpin oleh Kenjiro dan Hito.
Aaron menghadap ke arah Hana dan menangkup pipinya. "Kau baik-baik saja?" Aaron mengusap pipi Hana perlahan. Lalu membawa tubuh gemetar Hana ke dalam pelukannya.
"Kita pulang? Aku akan mengajakmu ke tempat pameran lain waktu?"
Hana tidak menjawab. Dia hanya mengangguk. Hana merasa, dia bahkan tidak ingin kemanapun juga. Dia tidak ingin bertemu Hiro Watanabe seperti tadi. Mungkin kali ini mereka berdua masih menahan diri karena berada di tempat keramaian yang penuh dengan wisatawan asing. Namun lain waktu? Mungkin saja semua akan meledak.
Aaron memapah Hana untuk berjalan dan melintas jembatan Nipponbashi. Mereka menuju tempat parkir dan Aaron membuka pintu untuk Hana. Mereka masuk dan berdiam diri. Dengan sopan sopir keluarga Kodame menurunkan pembatas.
Hana menghela napas. Lalu meraih kerah kemeja Aaron dan membawa pria itu mendekat padanya. Hana mencium bibir Aaron dengan keras dan lama. Aaron bahkan membelalakkan matanya kaget sebelum akhirnya mengimbangi ciuman Hana. Napas Hana memburu seakan ingin melepaskan beban apapun yang ada di pikirannya. Mereka berciuman sangat lama sampai kemudian melepaskan diri untuk mengambil napas dengan Hana yang masih memeluk Aaron erat.
"Aku mau pulang. Sekarang."
"Baiklah." Aaron mengusap bahu Hana lembut dan mengetuk kaca pembatas memberi perintah sang sopir untuk menjalankan mobilnya.
Itu adalah permukaan dari sebuah permainan dan gejolak yang terjadi pada dua perkumpulan. Hanya permukaanya saja.
Hana memejamkan mata. Melihat peristiwa tadi dalam sebuah film sudah cukup membuat adrenalin terpacu. Menyaksikan secara langsung membuat Hana berpikir, itu akan sangat mengerikan. Ledakan yang akan terjadi jelas sangat besar. Dan Hana tidak akan sanggup membayangkan perkelahian dan pertumpahan darah.
Mobil melaju meninggalkan pusat kota dengan Aaron dan Hana yang sibuk dengan pikiran masing-masing.
Hari itu. Sungguh tidak mudah.
***
Menulis naskah dengan setting Jepang. Otomatis yang aku tulis sejarah setting-nya sesuai memori pelajaran waktu SMP.
Untung terus ingat, ini tuh fiksi. Kalau khilaf nya kebablasan, part ini udah jadi part sejarah kali wkwkkwkwk...
Hari ini neurotransmitter dopamin bagian memori ku sedang bekerja dengan baik jadi maaf kalau naskah ini kaya naskah sejarah yang bikin ngantuk yaaa...
Mianhaeee...maafkan aku...
*kalian yang rajin Googling kasih tahu aku ya kalau ada bagian sejarah yang aku tulis salah. Maklum, aku SMP udah puluhan tahun lalu
Semoga hari kalian menyenangkan