Queeny dengan terpaksa makan bersama Furqon di tengah hutan. Suasana makan malam itu terasa begitu sunyi dan canggung. Queeny duduk diam dengan hati waspada, sedangkan Furqon terus membual dengan mulut yang tak kenal lelah. "Mungkin kamu masih ingat ya, Queeny, waktu kita masih berpacaran dulu," ujar Furqon sambil menggenggam gelas anggur merah di depannya. Queeny mengangguk singkat, mencoba menyembunyikan rasa tidak nyaman di dadanya. Ia merasa bahwa pembicaraan tentang masa lalu mereka hanya akan membuat semuanya semakin rumit. "Kalau kamu aku ajak jalan-jalan kemanapun, kamu sering bilang bahagia dan kamu sering bilang pengen bebas dari orang tua kamu," seru Furqon, dengan nada yang sedikit merendahkan. Queeny mengangkat alisnya, tak percaya bahwa Furqon masih terus mengingat hal-h

