Sebenarnya Divya tidak ingin pergi ke rumah mertuanya, tetapi Darsa memaksa dengan wajah seperti singa yang ingin menyerang lawannya. “Masuk,” suruh Darsa. Divya duduk diam di jok belakang, tidak ingin berpindah seinci pun. “Nggak.” Menolak dengan tegas. “Kamu udah gede, Div, hadapi masalahmu. Mumpung di sini ada keluarga suamimu, sampaikan keinginan kamu.” Darsa menatap tepat di manik matanya. “Mana bisa, Mas. Mereka lagi sedih kayak gitu, ya kali aku langsung bilang pengin cerai.” Divya mendengkus sembari memalingkan wajah. “Tuh, berarti kamu masih punya rasa peduli. Keluar sekarang, jenguk adik iparmu. Bawa anak-anak,” tegas Darsa. Divya menggigit bibir, rasanya ingin merengek pada kakaknya, tetapi sudah pasti pria itu hanya akan memarahi terus-menerus. Dengan berat hati Divya kel

