pria labil

1141 Kata
Bella bangun dengan badannya yang terasa remuk , merasa sangat leleh tapi bukanya sedih melainkan sebaliknya bella malah sangat bahagia akan kebersamaanya dengan devan Tak akan pernah bella sesali kejadian ini , pergulatan panas yang panjang semalam dan tadi pagi , entah itu kelembutan dan sikap kasar devan tetap indah buat bella Cinta itu sangat megerikan , bahkan meski di perlakukan kasar sekalipun bella tetap bahagia , bodoh memang " Memalukan " maki bella pada dirinya sendiri saat mengigat betapa liarnya dirinya saat bersama devan " Kita akan seger bertemu kembali sayang " gumang bella sambil mengelus perut ratanya , Bella sagat bahagia saat ini sampai-sampai dia tak sadar sedari tadi dirinya telah di perhatikan oleh devan yang sudah terbangun juga " Jagan pernah berpikir akan meningkatkan tempat ini tanpa seijin ku , kamu tak akan bisa meninggalkan aku kembali seperti dulu " ucap devan tegas dan menatap bella dengan dingin lalu berlalu ke kamar mandi Bella tersentak saat devan membanting pintu dengan sangat keras " Ya Tuhan " sungut bella sambil mengelus-elus dadanya Di dalam kamar mandi devan mengguyur dirinya dengan air dingin , otaknya sangat panas sekarang " Aahhhhh" teriak devan lantang sambil meninju dinding kamar mandi , Darah yang menetes karen luka di jari-jari devan yang tak berhenti juga memukuli tembok " Siapa yang ingin ditemuinya s**l!!!s**l!!" Membayangkan bella akan menemui kekasihnya membuat devan sangat emosional dan lagi cara Belle menyematkan keta sayang dalam kalimatnya dengan begitu lembut devan tak bisa terima itu Emosinya tak terkontrol , mungkin ini gila devan lebih memilih meluapkan emosinya pada dingding dari pada memaksa bella memberi penjelasan , devan takut menyakiti bella bila nanti bella menyebut nama pria lain Devan pun tak pernah menyadari kalau ternyata perasaannya kini telah di kuasai oleh bella , yang devan tau dia benci dan marah saat membayangkan belle bersama peria lain . Sedangkan bella tak mau ambil pusing dengan sikap devan yang labil itu , memilih turun dari ranjang mencari-cari dress nya semalam " s**l!! apa masih di mobil ya " Mata bella tertuju pada kemeja devan bergegas bella memakainya Bella keluar kamar hendak mencari dapur atau sejenisnya atau mungkin bertemu pelayan dia sangat lamar sekarang perutnya harus di segera di isi, selain ini memang sudah sangat siang tenaga bella juga sudah di kuras habis oleh devan , jadi dia perlu asupan makanan untuk menambah tenaganya lagi . Sebelum pria labil itu berulah kembali bella harus cepat-cepat mengisi tenaga nya kembali Bella mengelilingi rumah megah ini tapi sangat sepi tak terlihat ada penghuni lain di sini " Apa rumah sebesar ini tak ada pelayanya ya " gerutu bella yang akhirnya menemukan dapur yang luas dan mewah tapi kosong tak ada siapapun " Mudah-mudahan ada bahan makanan , aku sudah sangat lapar , kalu tidak aku makan apa ya , mana bisa pesan makanan ke tengah hutan begini " Bella sudah menduga pasti rumah ini ada di tengah hutan karena bella tak mendengar suara kendaraan ataupun aktivitas lainnya , meski belum sempat melihat keluar karena fokus bella cuma mencari dapur , Lagian bagi bella di manapun tempatnya akan membahagiakan baginya bila bersama devan , Mata bella berbinar saat melihat setok bahan makanan yang sangat lengkap dan terlihat sangat segar , " Apa kemarin devan bawa bahan makanan ya ?" Bella berpikir bahwa hanya ada dirinya dan devan di rumah sebesar ini , karena memang sejauh ini bella tak melihat atau mendengar ada penghuni lain di rumah atau di sekitaran rumah ini , Bella tak tau saja kalau tepat di belakang rumah utama yang bella tempati sekarang sedang berkumpul puluhan bahkan ratusan pria berotot sedang latihan dan bekerja yag meski mereka berisik tak akan sampai pada telinga bella meski masih satu area tapi jarak mereka sangat jauh Gegas bella memasak secepat kilat , bella sangat ahli dalam memasak , karena dulu dia sering memasak bersama almarhum sang mama Senyum bella mengembang saat melihat due porsi spaghetti dan beberapa potong sandwich , tak lupa bella membuat dua kopi dan jus jeruk . " Selesai , aku harap davan suka , aku sudah seperti istrinya saja , hihihi !!" Bella cekikikan sendiri baru kali ini dia menyiapkan makanan untuk orang lain , perasaanya menghagat seketika , bella bahkan lupa kalau kebahagiaan kini adalah semu bagaimana dia akan menjelaskan ini pada sahabtnya dan deren calon suaminya nanti Setelah 1jam lebih devan menenangkan diri di kamar mandi akhirnya keluar dengan hanya menguntungkan haduk melingkar di pinggang, air masih menetes dari rambutnya , bahkan darah segar masih juga menetes dari tangannya seolah tak merasakan sakit sama sekali devan tak terganggu akan luka-luka nya Belum juga sepenuhnya tenang devan kembali meregang , bukan lagi emosi tapi lebih pada takut Sangat-sangat takut , " Belllaaa!!! " Teriak devan kencang saat tak mendapati bella di kamarnya . " Apa dia pergi lagi ?? Tidak mungkin dia tak akan bisa melarikan diri dari sini , tapi dia mana dia " devan berlali mengambil sebuah pistol dari dalam laci " Jika kau berani lari lagi dariku akan ku tembak kaki kecilmu itu , akan ku buat kau tak bisa beranjak dariku sejengla pun bella " wajah devan menyeringai sangat menyeramkan Belum juga devan beranjak keluar kamar bella lebih dulu masuk dengan mendorong troli makan , Kedua mata dua insan itu bersaru dan seketika berterika bersamaan " Siapa yang ingin kamu goda di sini ? Tidak puas kah kamu dengan ku ? Masih saja kau ingin mencari batang lain di luar hehh? " Teriak devan sambil menarik bella kedekapanya dan membanting pintu Devan sangat geram bagaimana bisa bella berkeliaran hanya mengenakan kemejanya yang hanya sampai pangkal pahanya bahkan bella tak mengkancingkan semua kancingnya , di tambah lagi bella tak memakai dalaman apapun dua buah gundukan besar itu tercetak jelas karena hanya tertutupi bagian ujungnua saja dan di bawah sana inti bella akan terlihat bila bella melangkah Membayangkan nya saja membuat devan panas dingin , bagaimana kalu anak buahnya melihat bella dalam kondisi seperti ini Devan meraup mukanya dengan kasar merasa sangat frustasi dengan tingkah bella , perasaannya campur aduk jika sudah berhadapan dengan gadis nakal ini " Hiikk hhikk " bella terisak di depan devan bukan sedih karena bentakan atau hinaan dari devan tapi bella merasa sakit dan ngilu di hulu hatinya saat melihat darah mengalir dari tangan devan Bella bukan wanita cengeng tapi air matanya lolos begitu saja saat melihat luka itu , devan yang terluka bella lah yang kesakitan " Heeiii suusst , kenapa eemm??" Kembali devan sangat lembut pada bella , perubahanya dangat derastis pantas saja di bilang pria labil " Ookky maaf aku tak akan membentak mu lagi , jadi berhentilah menagis " bujuk devan sambil memeluk bella dan membanya duduk di pangkuanya Pria dingin nan arogan seperti devan meminta maaf bahkan kata keramat itu tak pernah devan ucapkan pada orang tuanya tapi melihat air mata bella dan isakanya membuat dia mengucapkan nya begitu saja
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN