Pagi itu Axa bangun, dia membuka mata masih dengan posisi berbaring. Pria itu terdiam menatap ke langit-langit kamar, seakan sedang mengumpulkan nyawa. “Hm, sudah jam 7,” gumamnya pelan, meski tidak melihat jam atau membuka jendela ia sudah tahu. Karena jam 7 adalah jam idealnya ia bangun. Setelah nyawanya terkumpul, pria itu turun dari kasur. Dia berjalan menuju dapur dan berhenti di depan lemari pendingin. Keningnya mengerut saat menemukan sebuah memo kecil di sana. “Apa ini?” gumamnya dan menarik memo berisi tulisan di sana. ‘Om Axa belanjaan kemarin dibayar Matt, Om kembalikan saja uangnya.’ Axa mencebikkan bibir setelah membaca pesan itu. Dia melemparkannya dengan asal, hingga terbang entah kemana. “Benarkan? Dia pasti pulang.” Dia berusaha untuk tidak peduli, karena tahu Lyra

