Green 1. serumah

1124 Kata
1. Mobil hitam itu berhenti tepat di depan rumah mewah bergaya modern minimalis. Green turun duluan, menatap rumah itu lama. Felix bersandar santai di pintu mobil, tangannya masih di saku celana. "Jadi ini ... rumah mantan tunangan lo?" katanya santai. Green melirik tajam. "Bukan mantan. Gagal jadi suami." "Bedanya tipis." "Bedanya harga diri, Felix." Green menggelengkan kepala. Felix mengangguk pelan. "Fair." Green menarik napas panjang, lalu berjalan ke arah pintu utama. Dia berhenti sebentar, jemarinya menyentuh handle pintu. "Lo yakin mau masuk?" Felix bertanya. Green mendengus. "Ini rumah gue." Felix mengangkat alis. "Rumah lo yang dibeli buat cowok lain." Green langsung menoleh tajam. "Mulut lo nggak bisa difilter dikit?" “Ya, gue default-nya begini." Felix terkekeh pelan. Green memutar bola mata, lalu membuka pintu sekali klik. Pintu terbuka perlahan. Begitu mereka masuk, aroma rumah baru langsung terasa. Bersih, rapi dan sempurna, namun di lantai terdapat bunga mawar dan beberapa lilin menyala, cocok sekali suasananya dengan pengantin baru. Felix melangkah masuk, matanya menyapu ruangan. "Wah gede juga,” angguk Felix Green langsung melempar tasnya ke sofa. "Jangan norak." "Gue bukan norak, gue mengapresiasi, sofanya enak juga." Felix berjalan pelan ke tengah ruang tamu. Green langsung duduk dengan kesal. "Ya udah, tidur sini aja sekalian." Felix menoleh. "Ide bagus sih." Green langsung mengambil bantal dan melempar ke arah Felix. PLAK! "Jangan macam-macam!" Felix tertawa kecil sambil menangkap bantal itu. "Galak banget. Baru juga jadi suami sehari." Green berdiri lagi, menunjuk Felix. "Denger ya, kita tinggal di sini cuma karena keadaan." Felix mengangguk santai. "Gue juga nggak bilang ini rumah impian gue." "Bagus." "Rumah impian gue ada kolam renang gede." Green menyipitkan mata. "Di belakang ada." Felix langsung berhenti. "Serius?" Green menghela napas kesal. "Iya." Felix langsung jalan cepat ke arah pintu kaca belakang. "Woi, tunggu!" Green mengejar. Begitu pintu dibuka, kolam renang luas dengan lampu biru menyala langsung terlihat. Felix bengong, hanya saja di rumah ini hanya ada satu kamar, dan mereka tidak tahu mau tidur dimana. Green menyilangkan tangan. "Udah puas?" Felix menoleh ke Green dengan ekspresi serius. "Gue berubah pikiran." "Apa lagi?" "Gue betah di sini." Green langsung mendengus keras. "Enak aja. Jangan lupa ini bukan rumah lo." "Sekarang kita nikah. Secara hukum ... ini rumah kita." Felix mendekati Green. Green langsung mendorong bahu Felix. "Jangan gede kepala!" "Gue cuma nyebut fakta." Green berjalan masuk lagi dengan kesal. “Gue capek. Gue mau ke kamar.” Felix mengikuti dari belakang. "Ah, ini yang penting." Mereka sudah berada didepan kamar utama. Felix langsung masuk tanpa izin. "Terus kamar gue mana?” tanya Felix. “Iya ya. Kok hanya ada satu kamar di sini?” “Wah. Kayaknya emang hanya ada satu kamar.” Felix mengelus leher belakangnya. "Astaga. Mami,” geleng Green menoleh sedikit untuk memalingkan wajah. “Terpaksa nih kita tidur di kamar yang sama.” Felix begitu santai. “Jangan mimpi lo,” geleng Green. “Terus gue tidur dimana dong?” “Ya di sofa aja. Sofa itu juga bisa kok muat tubuh lo.” Green tidak perduli. "Kenapa? Takut satu kamar sama gue?" Green mengambil bantal lagi, entah dari mana dan melempar tepat ke wajah Felix. PLAK! "GUE NOLAK!" Felix tertawa. "Oke, oke santai." Green berdiri di tengah kamar dengan napas kesal. "Ya udah. Gue tidur di sini aja,” kata Felix menuju sofa lantai dua. “Nah gitu dong. Lo kalau numpang jangan aneh deh.” Green emang nggak pernah tahu Felix kerja apa, setahunya Felix pengangguran dan dulu sangat miskin, jadi Green selalu merendahkan Felix karena ia menganggap Felix menawarkan diri karena butuh uang. “Lo kerja apa sih?” tanya Green menatap Felix. “Gue?” “Ya lo. Emang di sini ada orang lain selain kita berdua?” “Gue … pengangguran,” jawab Felix. “Biaya hidup harus di bagi dua. Titik. Lo pengangguran atau bukan, tetap harus bayar biaya hidup di rumah ini.” “Yes. Tenang aja, gue pasti bayar kok, kalau udah dapat kerja.” “Lo harus usaha dong. Jangan sampai lo buat gue makin menyesal telah memilih lo sebagai pengganti manusia sialan itu.” “Ah udahlah. Usaha itu gampang kok, nanti juga gue dapat kerja,” jawab Felix menghempaskan tangannya. “Sakit nih badan gue kalau tidur di sofa.” "Jangan komplain." "Gue nggak komplain. Asal WiFi kenceng." Felix duduk di sofa. Green langsung melempar remote ke arah Felix. "Itu passwordnya." Felix menangkapnya. "Wah, pelayanan istri idaman." "Gue bukan istri lo." Felix menatapnya sambil tersenyum tipis. "Tapi lo pakai cincin gue." Green refleks melihat tangannya. Sial. Dia langsung melepas cincin itu dan melempar ke arah Felix. "Nih! Ambil lagi!" Felix menangkapnya dengan mudah. Dia menatap cincin itu sebentar ... lalu berjalan mendekat ke Green. "Ngapain?" Green mundur sedikit. Felix berhenti tepat di depannya. Tanpa banyak bicara, dia meraih tangan Green. "Jangan—" Felix memasangkan kembali cincin itu cukup pelan. "Kalau lo lepas di luar sana, orang bakal curiga, termaksud orangtua lo," katanya rendah. Green terdiam dan Felix menatap matanya. "Main peran lo harus total, Greeny." Green langsung menarik tangannya. "Gue tau!" Suasana hening beberapa detik. "Eh," Felix buka suara lagi. "Apa?" "Lo bisa masak?" Green melotot. "Lo pikir gue pembantu?" Felix mengangkat bahu. "Gue cuma nanya. Soalnya gue lapar." Green langsung menunjuk pintu. "Keluar. Cari makan sendiri." Felix menghela napas panjang. "Ya ampun ... nikah sama lo keras juga ya hidupnya." "Baru juga mulai." Felix mendekat lagi, kali ini lebih santai. "Gue penasaran." "Apa lagi?" "Lo bakal segalak ini terus?" Green menatapnya tanpa kedip. "Lo belum lihat segalak apa gue." Felix malah terlihat tertarik. "Wah, menarik." Green langsung dorong dia keluar kamar. BRAK! Pintu ditutup keras. Dari luar, Felix bersandar di pintu sambil tertawa kecil. "Gila! seru juga!" Dari dalam kamar, Green menjatuhkan dirinya ke kasur. Green menatap langit-langit. "Kenapa hidup gue jadi begini sih." Suara ketukan pintu kembali terdengar, Green langsung duduk dan menghela napas kasar. "Apa lagi?!" Suara Felix dari luar. "Greeny." "Apa?!" "WiFi-nya salah password." Green langsung bangkit, membuka pintu dengan kasar. "Mana sini!" Felix menunjukkan layar HP. Green mendekat, mengetik cepat. Tiba-tiba, Felix menatapnya dari samping, cukup dekat. Green sadar dan langsung menjauh. "Udah!" Felix tersenyum tipis. "Thanks, istri pura-pura." "Jangan biasain panggil gue gitu." Felix mendekat sedikit lagi, sengaja. "Kenapa? Malu?" Green langsung menunjuk wajah Felix. "Gue bisa hajar lo kapan aja, lo tau kan?" "Tapi lo nggak bakal,” angguk Felix. "Kenapa?" "Karena lo butuh gue." Green mengepalkan tangan. Felix berbalik santai. "Selamat malam, Greeny." Dia langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa, tidak masalah tidur di luar dan di anggap menumpang sama Green, yang penting ia bisa bersama Green, musuhnya yang sejak sekolah selalu musuhan dengannya. Selain berebut nilai, mereka juga sering berebut hal lain. Bahkan beberapa teman mereka sering mengatakan bahwa mereka akan jodoh nanti. Namun, Green langsung kesal ketika semuanya mengatakan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN