Setelah mobil Papa Prabu dan Mama Winda hilang di tikungan kompleks, Green langsung melepaskan rangkulan Felix seolah-olah tangan suaminya itu mengandung virus menular.
"Lepas! Tangan lo keringetan, Lix! Geli tahu nggak!" Green mengelap bahunya dengan ekspresi jijik yang sangat didramatisir.
Felix bukannya marah, malah ketawa ngakak sambil berkacak pinggang di ruang tamu. "Gaya lo sok jijik, Greeny. Tadi pas di depan nyokap, lo meluk pinggang gue kenceng banget kayak koala nemu pohon eukaliptus. Takut banget kehilangan gue, ya?"
"Itu akting, Felix! AKTING! Lo tahu kan akting? Sesuatu yang palsu demi kelangsungan hidup warisan gue?" Green menyambar bantal sofa dan melemparnya tepat ke wajah Felix.
Hup! Felix menangkap bantal itu dengan satu tangan, gaya sok keren ala atlet basket.
"Palsu, ya? Tapi kok tadi pas gue cium pelipis, pipi lo merah kayak tomat rebus? Jangan-jangan lo sebenernya baper tapi gengsi?"
"Merah karena gue nahan emosi mau nampol lo, b**o!" Green naik ke lantai dua dengan langkah menghentak, membuat tangga kayu rumah itu berbunyi gedebuk-gedebuk.
Felix menyusul dari belakang sambil bersiul santai. "Eh, Green! Inget ya kata nyokap lo tadi. 'Felix, jagain Green, tidurnya jangan dipisah guling nanti rezekinya jauh'. Gue mah nurut banget sama mertua."
Langkah Green terhenti tepat di depan pintu kamar. Dia menoleh dengan tatapan horor.
"Maksud lo apa? Guling pembatas itu HARGA MATI, Felix! Itu perbatasan negara yang nggak boleh dilewati!" geleng Green.
"Ya elah, kamar ini punya gue, kasur ini gue yang beli. Masa gue dilarang-larang di wilayah kekuasaan gue sendiri?" Felix menerobos masuk ke kamar, lalu menjatuhkan dirinya ke kasur king size mereka yang sangat empuk.
Green masuk dengan wajah waspada. Dia melihat Felix sudah asyik guling-guling sambil meluk guling favorit Green yang bermotif bunga-bunga.
"Balikin guling gue!" Green menarik ujung guling itu.
"Enggak mau. Ini jaminan keamanan," ujar Felix malah makin erat meluk gulingnya. "Lagian, Green, lo nggak capek apa tiap malem bangun gara-gara guling ini jatuh terus? Mending kita singkirkan aja. Biar kita terbiasa hidup berdampingan secara damai."
"Damai mata lo peyang! Lo itu kalau tidur kayak baling-baling bambu Doraemon! Kaki lo bisa nyasar ke kuping gue!" Green terus menarik guling itu sampai wajahnya memerah.
"Oke, oke! Gini aja," ucap Felix tiba-tiba melepaskan gulingnya sampai Green hampir terjengkang ke belakang.
Felix mengambil lakban hitam dari laci nakas, entah sejak kapan benda itu ada di sana.
Green mengerutkan kening. "Lo mau ngapain pake lakban?"
Dengan gaya serius mirip mandor bangunan, Felix menarik lakban itu panjang-panjang dan menempelkannya tepat di tengah-tengah kasur, membagi kasur itu jadi dua bagian yang simetris.
"Nih. Ini namanya Garis Khatulistiwa Felix-Green," ujar Felix menunjuk garis hitam di tengah kasur.
“Terus?”
"Sisi kiri punya lo, sisi kanan punya gue. Siapa pun yang bagian tubuhnya, tangan, kaki, jempol, atau helai rambut ngelewati garis ini, harus bayar denda sepuluh ribu rupiah per pelanggaran. Gimana?"
Green terdiam sejenak. Otak bisnisnya mulai berputar. "Sepuluh ribu? Murah banget. Lima puluh ribu!"
"Deal! Lima puluh ribu!" Felix menyalami tangan Green dengan semangat.
Green hanya menggelengkan kepala.
"Siap-siap bangkrut ya, Tuan Putri. Gue tahu lo tidurnya kayak lagi tawuran."
"Liat aja nanti, siapa yang bakal setor tunai tiap pagi!"
***
Pukul 02.00 Dini Hari.
Suasana kamar sudah gelap, hanya ada cahaya redup dari lampu tidur di pojokan.
Green sudah terlelap, tapi posisinya memang agak tidak terkendali.
Dia memeluk bantalnya erat-erat, tapi salah satu kakinya sudah mulai berpetualang mendekati garis lakban hitam itu.
Felix yang ternyata belum tidur karena asyik main game di ponsel dengan volume nol, melirik ke samping.
Ia melihat kaki Green yang dibalut celana piyama satin warna maroon sudah menyentuh lakban.
"Satu pelanggaran," bisik Felix sambil nyengir licik. Dia mengambil ponselnya, lalu memotret kaki Green sebagai bukti otentik.
Tak lama kemudian, Green menggeliat. Dia membalikkan badan, dan kali ini tangannya mendarat tepat di atas d**a Felix yang tertutup selimut.
Felix membeku. Jantungnya mendadak diskotik.
‘Waduh, ini mah bukan lima puluh ribu lagi, ini serangan jantung,’ batinnya.
Dia menatap wajah Green yang sedang tidur. Ternyata kalau lagi diem begini, Green cantik banget. Nggak ada raut marah, nggak ada omongan ketus.
Felix menghela napas, tangannya terangkat pelan, hampir mau mengelus rambut Green, tapi dia teringat gengsinya.
"Enggak, Felix. Lo harus profesional. Ini bisnis," gumamnya pelan.
Dia mengambil ponselnya lagi, memotret tangan Green yang nempel di dadanya. "Dua pelanggaran. Seratus ribu. Lumayan buat beli skin Mobile Legends."
Tiba-tiba, Green mengigau. "Yudi ... jangan ... lo jahat ..."
Suara Green terdengar parau, hampir menangis dalam tidurnya. Felix tertegun.
Seringaian di wajahnya hilang seketika. Dia tahu, sekencang apa pun Green berteriak dan marah-marah, hati cewek itu sebenernya masih hancur berkeping-keping.
Pengkhianatan di hari pernikahan itu bukan hal yang mudah dilupakan dalam seminggu.
Felix menghela napas panjang. Dia meletakkan ponselnya. Persetan dengan denda lakban hitam itu.
Felix menggeser duduknya, lalu dengan lembut memindahkan tangan Green kembali ke sisinya sendiri. Tapi bukannya menjauh, dia malah menyelimuti Green sampai ke leher.
"Udah, Green. Jangan sebut nama cowok bau kencur itu lagi. Lo udah sama gue sekarang," bisik Felix lirih.
Dia kembali ke posisinya, menatap langit-langit kamar. "Meskipun gue musuh lo, setidaknya gue musuh yang nggak bakal bikin lo nangis gara-gara cewek lain."
***
Green terbangun karena sinar matahari yang menembus celah gorden. Ia meregangkan badannya, merasa tidurnya sangat nyenyak semalam.
Tapi saat dia membuka mata, dia melihat Felix sudah duduk di pinggir kasur sambil memegang tumpukan foto di ponselnya.
"Pagi, Greeny. Tidur nyenyak?" tanya Felix dengan senyum paling menyebalkan yang pernah ada.
Green mengucek matanya. "Emm ... nyenyak. Kenapa?"
Felix menyodorkan ponselnya. "Nih, liat. Foto pertama, kaki lo ngelewati perbatasan jam satu pagi. Foto kedua, tangan lo meluk gue jam dua pagi. Foto ketiga, kaki lo nendang perut gue jam empat pagi."
Green melotot. Dia melihat foto-foto itu satu per satu.
"Eh! Ini ... ini pasti lo yang narik tangan gue biar keliatan ngelewati garis kan?!"
"Fitnah! Itu murni pergerakan liar lo, Green. Total denda lo pagi ini, seratus lima puluh ribu rupiah. Bayar tunai atau transfer?" Felix menadahkan tangannya.
"Gak sudi! Gue nggak ngerasa!" Green mencoba merebut ponsel Felix, tapi Felix lebih cepat berdiri dan lari ke kamar mandi.
"Bayar, Green! Kalau nggak, gue laporin ke bokap lo kalau lo sebenernya naksir gue sampai meluk-meluk pas tidur!" teriak Felix dari balik pintu kamar mandi.
"FELIX! GUE BENCI BANGET SAMA LOOO!" Green melempar bantal ke pintu kamar mandi dengan sekuat tenaga.
Tiba-tiba, pintu kamar diketuk dari luar. Suara Ema terdengar cengengesan.
"Kak Green! Bang Felix! Jangan berisik dong, kalau mau bikin keponakan buat Ema ya pelan-pelan aja, Ema lagi mau sarapan nih!"
Green terdiam, wajahnya merah sampai ke telinga. "EMA! BUKAN GITU!"
Dari dalam kamar mandi, suara tawa Felix pecah dan menggema, membuat pagi itu kembali menjadi pagi yang penuh kekacauan di kediaman Felix dan Green.