"FELIX!!!"
Suara teriakan Green menggema satu rumah. Di ruang tengah lantai dua, Felix yang masih setengah tidur mengernyit.
"What the hell.”
BRAK!
Green membuka paksa kamarnya karena kesal.
Felix langsung duduk, rambut acak-acakan, mata setengah terbuka.
"Lo kenapa sih? Masih pagi udah kayak nenek sihir,” geleng Felix.
Green berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam. "LO NGAPAIN MAKAI HANDUK GUE?!"
Felix melirik santai ke arah kamar mandi. "Oh yang warna putih itu?"
"ITU BUKAN HANDUK UMUM!"
"Ya gue kira itu hotel." Felix menguap karena ia masih mengantuk.
Green melangkah masuk, menunjuk Felix dengan penuh emosi.
"This is not a hotel, i***t!"
Felix menggaruk kepala. "Oke, noted. Jangan teriak-teriak pagi-pagi, gue belum sarapan."
Green hampir melempar sesuatu lagi, tapi menahan diri.
"Mulai hari ini, semua punya batas. Ini kamar gue, dan ini daerah lo, itu handuk gue, itu hidup gue!"
"Wow, chill. Lo lagi PMS?" Felix mengangkat alisnya.
Green langsung mengambil bantal dan menghantam Felix.
PLAK!
"JAGA MULUT LO!"
Felix tertawa kecil sambil menahan bantal itu. "Galak banget sih ... pagi-pagi udah kayak macan."
Green mendengus. "Dan lo? Kayak parasit."
Felix langsung berdiri dari kasur, mendekat pelan. "Oh ya? Tapi parasit ini yang nyelametin muka lo kemarin."
Green terdiam sebentar, tapi langsung balas.
"Dan gue nyesel setengah mati."
Felix mendekat lagi, jarak mereka makin tipis.
"Too late, Greeny. You’re stuck with me."
Green menatap tajam. "In your dream."
"No, in this house." Felix tersenyum miring.
Green langsung berbalik, berjalan menjauh dari Felix.
"Jangan pernah sentuh barang gue lagi!"
Felix bersandar di pintu, melipat tangan.
"Kalau gue sentuh lo gimana?"
Green berhenti karena cukup terkejut dengan perkataan Felix barusan, Green bingung dengan pertanyaan Felix. Sungguh, ini membuatnya kesal.
"Gue patahin tangan lo kalau lo berani sentuh gue.”
Felix malah tertawa. "Tempting."
***
Siang hari. Green turun ke dapur, rambut masih sedikit basah, memakai kemeja longgar. Green membuka kulkas.
"Seriously...?"
"Nyari apa?"
"Lo ngapain ngikutin gue?" tanya Green.
Felix bersandar di meja dapur, santai. "Gue tinggal di sini juga, remember?"
Green membuka kulkas lagi dengan kesal. Setiap hari ia selalu saja kesal karena Felix membuatnya naik darah.
"Ini rumah gede tapi nggak ada makanan?"
"Mungkin karena yang punya sebelumnya nggak jadi tinggal." Felix mengangkat kedua bahunya.
Green lalu menutup kulkas keras.
"Sensitive much?" Felix menyeringai dan menggelengkan kepala. “Noh ada roti, makan aja tuh roti.”
"Don’t start."
Felix mendekat ke kulkas, ikut buka. "Hm ... air doang."
“Gue lapar,” keluh Green.
"Ya masak."
"Lo kira gue chef?"
"I can cook."
Green langsung diam. "Wait ... lo bisa masak?"
"Ya dikit, kenapa?”
Green langsung menunjuk kompor. "Masak."
"Excuse me?"
Green mendekat, nadanya bossy. "You said you can cook. Prove it."
"Gila ya, baru nikah sehari udah nyuruh-nyuruh."
"Consider it your duty."
Felix mendekat, menatapnya. "Sebagai suami?"
Green langsung nyengir sinis. "Sebagai orang yang numpang hidup di rumah gue."
Felix diam sebentar, lalu tertawa.
"Oke. Fine."
Beberapa menit kemudian. Dapur jadi agak berantakan. Green duduk di kursi, memperhatikan Felix yang sibuk. Perutnya terus bunyi halus, sebenarnya mereka bisa pesan makanan online, namun sudah tidak ada waktu menunggu datangnya makanan itu. Jadi mending sekalian ngerjain Felix.
"Lo masak apa sih?"
"Mie instan."
Green langsung berdiri. "SERIOUSLY?!"
"What? Simple and effective." Felix menggelengkan kepala.
Green memijat pelipis matanya. "Gue kira lo bakal masak yang fancy gitu."
"Lo lapar atau mau fine dining?"
"Ya udah cepet."
“Sabar, princess." Felix terkekeh, membuat Green menggelengkan kepala karena sesantai itu hidup Felix.
Green langsung melempar sendok ke arah Felix. "JANGAN PANGGIL GUE PRINCESS!"
Felix menangkap sendok itu dengan mudah, lalu berkata, "Galak banget ... padahal kemarin hampir nangis."
Green langsung diam, suasana jadi berubah. Felix sadar ia sudah salah bicara, dan itu akan membuat Green sedih lagi.
“s**t!”
Green menatap ke arah lain. "Masak aja."
Suasana jadi canggung. Felix akhirnya menyajikan mie itu.
"Here."
Green duduk, melihat mie itu. "Lumayan."
"Gue tau." Felix duduk didepan Green.
Green mengambil sumpit, mereka makan dalam diam beberapa detik.
"Felix."
"Hm?"
Green tidak menatapnya. "Kenapa lo bantu gue kemarin?"
Felix berhenti makan. "Because I can."
"Jawaban lo selalu nyebelin." Green mendengus karena Felix selalu menjengkelkan.
"Itu kenyataan." Felix menjawab.
“Padahal lo bisa aja ninggalin gue."
"Yeah. But I didn’t."
Green mengalihkan pandangan lagi.
“Lo butuh uang berapa?” tanya Green menatap Felix lagi.
Felix sedikit terkejut. "Hah?"
Green langsung kesal.
"Jangan besar kepala! Gue Cuma mau tanya lo butuh duit berapa, lo nggak mungkin nggak punya alasan kan, nikahin gue? Nyokap lo suruh nikah itu hanya alasan kan? Karena lo hanya butuh duit kan? Lo kan pengangguran udah pasti lo melakukan itu.”
“Jadi lo mengiranya begitu? Ya udah. Terserah lo aja mau menanggapinya gimana.” Felix mengangkat kedua bahunya.
"Nyebelin."
“Lo juga lebih nyebelin.”
"Kenapa ya ... kita nggak pernah akur dari dulu?" Green menatap Felix.
"Because you’re annoying."
Green langsung menendang kaki Felix di bawah meja. "Lo yang annoying!"
"See? That’s why." Felix lalu tertawa terbahak-bahak.
Green ikut kesal, tapi sudut bibirnya sedikit naik.
***
Malam menunjukkan pukul 10, tiba-tiba lampu kamar Green mati, Green tentu saja takut dan merinding ketika lampunya mati. Namun ia harus berani.
"Eh?!" Green menekan saklar, tapi nggak nyala.
"Seriously?!"
Terdengar dari balik pintu kamar Green. Seseorang mengetuk pintu, siapa lagi kalau bukan Felix, si pria yang menyebalkan itu.
"Greeny, itu lo ya?!"
"Bukan gue."
"BOHONG!"
"Power-nya mati satu rumah."
Green membuka pintu dan gelap, cuma cahaya dari ponsel.
"Ini kenapa sih? Ada-ada aja, rumah baru malah kek gini."
Felix mendekat, membawa senter kecil. "Welcome to real life."
"Gue benci ini."
Felix berdiri di depannya, cukup dekat. "Cuma mati lampu doang."
"Apa lo nggak takut gelap?" tanya Green.
"I’m not a kid." Felix menjawabnya.
Green mendekat satu langkah. "Good. So, lo bisa benerin listriknya."
Felix langsung mundur. "Eh, gue bukan teknisi."
Green bersedekap didepan Felix. "Useless."
"At least gue ganteng."
Green langsung menjawab cepat. "Debatable."
"Seriously?"
Green menatap lurus ke matanya. "Very."
Felix berbisik pelan, "You’re lying."
Green tidak mundur. "Am I?"
Felix menatapnya beberapa detik, lalu berkata, "Yeah. Totally."
Green langsung mendorong bahu Felix agar menjauh. "GEER!"
Felix tertawa dan di tengah gelap rumah itu, pertengkaran mereka, entah kenapa, mulai terasa menyenangkan.