Ruang tengah menjadi lebih panas. Desahan tak putus Cinta bahkan mengalahkan suara televisi yang terus menjala. Sesekali dia menyebut nama Andre sambil menekan kepalanya, membuat pemuda itu semakin menenggelamkan benda kenyal itu ke dalam mulutnya. "Andre!" Andre menepati janjinya, ia tidak menggigit, hanya menjilati dan mengemutnya seperti es krim. Rasanya berbeda, lebih menakjubkan dari yang biasa mereka lakukan. Dia tak dapat menahan erangan, Andre benar-benar menyiksanya. "Ndre ...." Tangannya tanpa sadar kembali menekan kepala bersurai hitam itu, meremas helaiannya dengan lembut kala mulut Andre terbenam semakin dalam. Cinta tahu ini gila, tetapi dia tidak dapat mengendalikan tubuhnya. Rasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya yang bergetar, dia berkeringat. Bagian bawahnya juga

