"Cinta, lu...." Kata-kata Andre seiring dengan pelukan Cinta di tubuhnya, menumpahkan tangis di dadanya. Tak ingin menjadi pusat perhatian,, Andre membawa gadis itu ke pojok. Tempat itu lebih sepi, ia tidak ingin menjadi pusat perhatian. Selain itu, ia dan Cinta juga bisa berbicara dengan lebih bebas. "Lu nggak apa-apa?" tanya Andre. Tangannya mengusap punggung Cinta yang bergetar. "Nangisnya udahan belum? Gue mau ngomong. Cinta menggeleng, masih memeluk Andre dengan erat. Rasanya sedikit lebih nyaman, dan aman. Dia merasa terlindungi. Andre mengembuskan napas sedikit lebih kuat melalui mulutnya. "Kita perlu ngomong, Cinta," katanya. Ia merenggangkan pelukan, membingkai pipi yang berlinang air mata, mengusap cairan itu menggunakan ibu jarinya. "Lu harus tau yang sebenarnya." "Aku u

