Seketika suasana berubah mencekam.
Pistol itu kini terarah tepat ke kepala Rima.
Satu tarikan pelatuk saja—dan namanya akan tinggal kenangan.
Namun di saat yang sama, Beno bergerak cepat. Ia meraih pisau yang tadi terhempas ke lantai, lalu dalam satu sentakan menarik tubuh sang penghulu ke hadapannya. Mata pisau itu menempel di leher pria tua tersebut.
“Turunkan senjatamu… atau dia mati!” ancam Beno, suaranya bergetar namun nekat.
“Om, jangan libatkan dia! Bapak penghulu itu nggak ada hubungannya dengan kita!” teriak Diandra panik.
“Aku tidak peduli! Suruh laki-laki itu menurunkan senjatanya!” bentak Beno, tekanan pisaunya makin dalam hingga kulit leher itu memucat.
Rima semakin pucat. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Nafasnya memburu, tubuhnya gemetar menyadari situasi semakin tak terkendali.
“Iblis seperti dia memang harus mati,” sahut Leon dingin, tatapannya tak bergeser dari Rima. “Setelah dia… giliranmu.” ucapan itu jatuh pada Beno.
“Jangan! Aku mohon…” pinta Diandra yang masih berada di d**a Leon.
Ia tahu apa yang dilakukan tante dan omnya tak bisa dimaafkan. Namun menyeret orang tak bersalah ke dalam neraka ini—itu terlalu kejam.
“Pak… lepaskan saya… saya mohon,” suara penghulu itu bergetar hebat. “Anak saya masih sangat kecil, Pak… saya satu-satunya yang mereka punya…”
Pisau itu makin menekan. Setetes darah tipis mulai merembes.
Dan waktu seakan berhenti—menunggu siapa yang lebih dulu kehilangan kendali.
“Aku mohon…” lirih Diandra dengan suara bergetar.
Matanya masih terpaku pada telapak tangan Leon yang berlumur darah. Darah itu belum mengering—menjadi bukti betapa tipis batas antara hidup dan mati saat ini.
“Kalau kalian mau dia selamat, lepaskan istriku!” teriak Beno, pisaunya masih menempel di leher sang penghulu.
“Aku mohon…” Diandra kembali memohon, tangannya gemetar saat menggenggam pergelangan Leon, berusaha menurunkan pistol itu. “Tolong…”
Leon tak bergeming.
Tatapan Diandra beralih pada Beno. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.
“Om… lepaskan bapak itu. Dia nggak bersalah.”
“Tidak sebelum pria itu pergi!” bentak Beno.
“Om…”
“Ceraikan Diandra. Lalu pergi dari sini!” perintahnya, suara nekat bercampur panik.
Leon tersenyum tipis—senyum dingin yang tak menyentuh matanya.
“Bunuh saja penghulu itu kalau kau mau,” ucapnya datar. “Aku juga akan membunuh istrimu. Setelah itu… giliranmu.”
Ancaman itu meluncur tanpa ragu, tanpa getar.
“Pak… tolong lepaskan saya… saya mohon…” suara penghulu itu pecah, tubuhnya gemetar hebat.
Diandra kembali menatap Leon, air matanya semakin deras.
“Aku mohon… turunkan senjatamu dan pergi dari sini,” lirihnya, hampir tak terdengar.
“Biarkan polisi datang,” Ucap Leon.
Beno, Rima dan Ronal sontak menegang mendengarnya.
“Berani kau melakukan itu, aku akan membakar rumah peninggalan orang tuamu!” Ucap Beno.
“Om, jangan…” Mohon Diandra, terlalu banyak kenangan di rumah itu.
Kenangan bersama kedua orang tuanya dan ia tahu Oma dan Tantenya bisa saja melakukan itu, mereka bahkan tega melenyapkannya kedua orang tuanya.
“Jangan berani lapor polisi!”
“Leon, jangan ya. Aku mohon,” Mohon Diandra.
Tapi Leon hanya diam sambil menatapnya.
“Cepat suruh laki-laki itu pergi sekarang!”
Leon tersenyum sinis, tangannya bergerak menekan pelanuk.
“Leon…” sekuju tubuh Diandra bergetar, ia bahkan nyaris kehilangan keseimbangan karena takut.
“Jangan, Pak,” Mohon penghulu karena Beno juga semakin merapatkan pisaunya.
“Kamu pergi ya,” ucap Diandra memohon.
“Kita pergi bersama,” jawab Leon tegas.
Pistol itu tetap terarah. Tak sedikit pun ia turunkan.
Dengan satu tangan, Leon menarik Diandra ikut berjalan mundur bersamanya, langkahnya terukur, waspada.
“Tapi… bapak itu gimana?” tanya Diandra panik, menoleh ke belakang.
Leon tak menoleh.
“Jika dia ingin membusuk di penjara, biarkan saja dia menghabisinya,” jawabnya dingin.
Pisau itu masih menempel di leher penghulu. Darah tipis mengalir semakin jelas.
Dan di antara ketegangan itu, satu keputusan kecil saja… bisa mengubah segalanya.
“Om, lepaskan Bapak itu. Dia nggak ada hubungannya dengan kita!” teriak Diandra dari kejauhan.
Suaranya pecah oleh tangis. Ia tak sanggup membayangkan jika omnya benar-benar melenyapkan orang tak bersalah… dan ia pergi begitu saja seolah tak terjadi apa-apa.
“Leon, tolong dia… aku mohon,” pintanya, nyaris berbisik namun penuh putus asa.
“Tidak akan ada yang terjadi padanya,” jawab Leon tegas.
Ia membuka pintu mobil dengan cepat, lalu menarik Diandra mendekat.
“Ayo masuk.”
Diandra menggeleng, menahan diri. “Aku nggak bisa pergi sebelum dia dilepas!”
Leon menatapnya tajam—bukan marah, tapi mendesak. Waktu mereka tidak banyak.
Saat Diandra masih berusaha berbalik, Leon dengan sigap menyentuh bagian belakang betisnya dengan ujung kakinya—cukup untuk membuat lutut Diandra menekuk refleks. Bukan untuk menyakiti, hanya agar ia kehilangan keseimbangan sesaat.
“Leon—!”
Tubuh Diandra hampir terjatuh, namun dengan cepat Leon menangkapnya. Dalam satu gerakan tegas, ia mengangkat dan memasukkannya ke dalam mobil.
Pintu langsung dibanting tertutup.
Diandra memukul kaca jendela dari dalam, air matanya mengalir deras. “Leon! Penghulu itu—!”
Leon memutari mobil dengan cepat, rahangnya mengeras.
“Percayalah padaku,” ucapnya dingin namun pasti, sebelum masuk ke kursi pengemudi.
Mesin mobil meraung.
Mobil itu sudah melaju meninggalkan lokasi.
Diandra menoleh ke belakang, berusaha menangkap bayangan terakhir penghulu tadi. Matanya menyisir jalan yang semakin menjauh, berharap melihat sosok pria tua itu terbebas.
Sayangnya… tak ada lagi yang terlihat.
Hanya jalan kosong dan bayangan masa lalu yang tertinggal.
Perlahan ia kembali menatap Leon.
“Kenapa kita pergi begitu saja?” tanyanya, nada suaranya menyimpan kecewa yang tak bisa ia sembunyikan.
Belum sempat mendengar jawaban Leon.
Ciiittt!
Mobil direm mendadak.
Tubuh Diandra yang tidak mengenakan sabuk pengaman langsung terhuyung ke depan. Ia hampir menghantam dasbor, namun tangan Leon bergerak cepat menahannya di d**a.
Napas Diandra memburu. Jantungnya berdetak keras.
Leon masih menggenggam lengannya, rahangnya mengeras, napasnya juga tak kalah berat.
“Lalu… apa sebenarnya kau mau menikah dengan pria tadi?” tanya Leon tiba-tiba.
Nada suaranya tenang, tapi tajam. Ada kesal, ada luka, ada ego yang belum reda.
Diandra langsung menggeleng cepat. “Enggak.”
“Lalu kenapa kau marah aku membawamu pergi? Kita punya kerja sama, selama kontrak masih berlangsung kau tetap istriku!” tegas Leon.
Diandra bukan orang yang ia inginkan, tapi Diandra adalah jalannya mendapatkan warisan.
“Aku bukan marah…” suara Diandra melemah. “Aku cuma takut penghulu tadi dihabisi.”
Leon menoleh sekilas padanya. “Biar polisi yang mengurus.”
“Jangan!” potong Diandra cepat.
Leon mengernyit.
“Jangan sekarang… tolong jangan sekarang,” pintanya dengan suara gemetar. “Jangan sampai mereka panik… lalu melenyapkan penghulu itu dan membakar rumah orang tuaku.”
Ucapan itu membuat Leon terdiam.
“Orang tuamu?” ulangnya rendah.
Diandra menunduk. Tangannya saling mencengkeram gelisah.
“Mereka nekat, Leon. Kalau merasa terpojok, mereka bisa melakukan apa saja. Aku tahu sifat Om dan Tanteku. Orang tua ku saja tega mereka habisi, apa lagi orang lain.”
Suasana di dalam mobil kembali hening, hanya suara mesin yang terdengar samar.
Leon menarik napas panjang, rahangnya mengeras. Bukan karena tak peduli—justru karena ia sedang menahan amarah yang bisa meledak kapan saja.
“Kau selalu melindungi orang lain,” gumamnya pelan. “Bahkan setelah mereka mencoba menghancurkan hidupmu.”
Diandra menatap ke luar jendela, air matanya kembali mengalir.
“Aku cuma tidak ingin ada korban lagi.”
Mobil kembali melaju perlahan.
Dan di dalam diam itu, Leon mulai menyusun sesuatu di kepalanya—bukan sekadar kabur… tapi langkah berikutnya.
Ia menangkap ada trauma yang bersarang di diri Diandra.