Nikah Beneran

1170 Kata
Ruangan itu terlalu sunyi untuk sebuah pernikahan. Diandra duduk dengan punggung tegak, jemarinya saling mengunci di pangkuan. Gaun putih yang dikenakannya terasa berat, seolah ikut menekan napasnya. Di hadapannya, Leon tampak tenang, seperti pria yang sedang menandatangani kontrak bisnis, bukan mengikat hidupnya. Penghulu mulai berbicara. Kata-kata suci mengalir, tapi di telinga Diandra semuanya terdengar jauh, samar, seperti gema di ruang kosong. Hingga kalimat itu tiba. Leon menarik napas, lalu mengucap dengan suara mantap, tanpa ragu sedikit pun. “Aku terima nikahnya Diandra Aprilia binti Suharta dengan mas kawin tersebut, tunai.” Detik itu juga, waktu seakan berhenti. “Sah.” Satu kata. Pendek. Mutlak. Dunia Diandra bergeser dari porosnya. Tak ada senyum bahagia. Tak ada air mata haru. Hanya kesadaran pahit yang menghantam pelan tapi dalam, ia kini telah sah menjadi istri Leon Fernandez. Bukan karena cinta. Bukan karena pilihan. Melainkan karena keadaan yang tak memberinya ruang untuk lari. Leon menoleh sekilas ke arahnya. Tatapan mereka bertemu, dingin dan asing, seolah ikatan yang baru saja terucap belum cukup untuk menjembatani jarak di antara mereka. Sadar mereka hanya dua orang asing yang baru bertemu belum sampai dua puluh empat jam. “Sekarang kalian sah menjadi pasangan suami-istri, buku nikah kalian akan selesai beberapa hari lagi,” Ucap penghulu. Dan detik berikutnya, Diandra pun kehilangan kesadarannya. Namun, dalam samar-samar, ia masih mendengar suara yang memanggil namanya. Suasana seketika berubah menjadi tegang. Haldy langsung mendekat dan menopang kepala Diandra. Saat itu, semua orang di sana menatap dengan wajah bingung. Tak terkecuali Leon, yang rasa penasarannya kian menguat. “Leon, bawa istrimu ke kamar!” perintah Aurora. Leon menahan helaan napas, melirik Haldy singkat sebelum mengangkat Diandra. “Dramatis,” gumamnya tanpa empati. Di kamar, tubuh Diandra dibaringkan di atas ranjang. Haldy langsung memeriksanya. “Dia hanya sedikit terkejut,” katanya tenang. Sejak pertemuan pertama, Leon tak pernah bisa menyingkirkan rasa curiganya pada sang Papa. Terlebih ketika melihat Diandra, tatapannya yang seolah tak mampu berpaling, lalu kekhawatiran yang kini terpancar jelas. Ada sesuatu yang terasa tidak beres. “Renggangkan gaunnya dan oleskan minyak angin,” Perintah Haldy kemudian berlalu pergi. Leon masih menatapnya, ia seakan masih larut dalam pikirannya. Semakin besar rasa penasaran terhadap hubungan Diandra dan Papanya. “Leon, lakukan apa yang diperintahkan Papamu!” perintah Aurora dingin. Leon menatapnya. Namun Aurora sama sekali tak bergeming, tatapannya justru tampak menantang. Tanpa bersuara, Leon menunduk. Tangannya bergerak melepaskan heels di kaki Diandra. Aurora kemudian melangkah keluar. Pintu tertutup. Leon kembali menatap wajah Diandra, rasa penasaran berkeliaran dikepalanya dengan amarah yang tertahan. Leon memainkan gunting itu perlahan di depan wajah Diandra. Bilahnya berkilat, bergerak naik turun seolah menimbang siap atau tidak. Wajah pucat itu tetap diam, tak berdaya, napasnya tipis namun nyata. “Kalau kau memang pantas lenyap,” gumam Leon dingin, “aku tak akan ragu.” Gunting itu berhenti sesaat, hanya beberapa senti dari kulit Diandra. “Tapi aku masih membutuhkanmu!” Lalu Leon mengalihkannya ke kain gaun. Srek Tak peduli seberapa mahal gaun yang melekat di tubuh Diandra, bilah tajam itu terus bergerak, memotong kain indah tersebut tanpa ragu. “Kalau saja kau wanita simpanan Papa,” ucapnya lirih namun tajam, “habislah kau di tanganku.” Kelopak mata Diandra bergerak pelan, bergetar seolah menolak cahaya yang perlahan menyusup masuk. Napasnya tersendat, lalu menjadi lebih berat. Alisnya mengerut samar, wajahnya menegang seperti sedang mengingat sesuatu. Dan begitu syok ketika melihat Leon sedang memotong gaunnya. “Hay, kamu mau ngapain?!” Tanya Diandra sambil bergerak setengah duduk. Menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang nyaris telanjang. Leon pun mundur selangkah dan meletakkan gunting di atas meja. Tapi tatapan tajam penuh curiga Diandra masih mengarah padanya. “Jangan bilang kamu mau perkosa aku!” “Dasar suntul kenyut! Kau tadi pingsan, bodoh!” Diandra pun mencoba kembali mengingatnya, itu benar tapi ada satu hal yang mengganjal dibenaknya. “Terus ngapain kamu buka baju aku? Dasar otak m***m!” Tuduh Diandra. “Hey, wanita sinting. Tadi, Papa yang memintaku merenggangkan pakaian mu!” Balas Leon tak terima. Diandra pun kini mengerti apa lagi yang meminta adalah Haldy yang mengerti apa yang harus dilakukan pada orang yang sedang pingsan. “Papamu minta merenggangkan gaun ini, bukan merusak!” Tapi Leon tak peduli tentang gaun, ia hanya butuh penjelasan tentang hubungan Diandra dan Haldy. “Apa hubunganmu dengan Papaku?!” Tanya Leon tanpa menunda-nunda. “Apa?” Tanya Diandra bingung. Leon pun merangkak naik ke atas ranjang, Diandra pun merasa horor ia pun bergerak mundur tapi dasbor ranjang membuatnya tidak bisa menjauh lagi. Nafasnya tertahan sedangkan Leon semakin mendekat. “Kau pikir aku tidak tahu?” Desak Leon. “Apa?” Diandra semakin bingung, kemudian ia pun meraih bantal dan memukul muka Leon, “jauh-jauh nggak!” Kesalnya. Leon pun merebut bantalnya dan membuangnya asal. “Heh, kamu nggak waras ya? Kok bisa papa kamu punya anak segila kamu!” Omel Diandra menggebu-gebu. Pintu terbuka terlihat Aurora yang berdiri disana. Diandra dan Leon pun menoleh. “Apakah Oma mengganggu?” Tanya Aurora dengan senyum malu. Diandra pun cepat mendorong d**a Leon yang membuatnya menjauh dan turun dari ranjang. “Oma, cuma mau memastikan keadaan kamu, tapi sepertinya Oma masuk diwaktu yang tidak tepat,” Ucap Oma lalu pergi. Setelah pintu tertutup kembali Diandra langsung menatap Leon tajam. “Pasti Oma kamu mikir macem-macem!” “Kau masih berhutang penjelasan padaku!” Balas Leon. “Nggak ada penjelasan, penjelasan apa coba?! Ingat ya, kita cuma nikah kontrak, nggak ada hubungan ranjang!” Tegas Diandra. “Aku tidak tertarik pada wanita sepertimu! Kalau aku mau banyak wanita diluar sana yang memberikan tubuh mereka dengan suka rela padaku!” “Sombongnya,” Sinis Diandra, “palingan mereka nggak waras. Aku sih waras. Satu lagi,” Diandra memberikan peringatan, “kamu harus bantu aku mengungkap kematian orang tuaku! Kalau nggak aku akan bilang ke Oma kita cuma boongan!” Leon pun mengangkat sudut bibitnya, “Belum ada sejarahnya Leon Fernandez diancam!” “Kalau begitu catat, Diandra Aprilia orang pertama yang mengancam Leon Fernandez!” Balas Diandra tegas tanpa ragu. Tatapan matanya tajam seolah tak gentar sama sekali. “Kita kerja sama ya, bukan musuhan. Jadi, nggak usah sok punya kuasa!” “Kau harus tunduk pada peraturanku!” “Aku bukan anak buahmu, Mas Leon.” Kata Diandra dengan senyum penuh percaya diri. *** Sementara diruangan lainya… Aurora kembali duduk di kursi goyangnya, menantikan penjelasan dari asistennya. “Diandra Aprilia melarikan diri dari pernikahan sebelumnya, lalu menjalin kerja sama dengan Tuan Leon,” lapor sang asisten dengan nada profesional. “Nona Diandra adalah seorang dokter spesialis kanker darah, hematologi onkologi. Dia bekerja di rumah sakit kita.” Aurora terdiam. Ayunan kursi goyangnya berhenti seketika. “Jadi… dia seorang dokter?” ulang Aurora pelan. Nada suaranya terdengar tenang, namun sorot matanya memancarkan keterkejutan sekaligus kekaguman. “Benar, Nyonya Besar.” Bibir Aurora melengkung tipis. Sebuah senyum puas, sarat perhitungan. “Kalau begitu,” ucapnya mantap, “tebakanku tidak salah, aku juga tidak salah menikahkan mereka sungguhan. Cucu nakal itu mencoba bermain dengan Aurora Fernandez, lihat Leon Fernandez, kau terjebak direncanamu sendiri.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN