Kelicikan Aurora

1153 Kata
“Honey, kenapa kamu lama sekali? Wanita itu benar-benar sangat menyusahkan.” Ucap Hilda. Leon melepaskan jaketnya lalu melemparkannya ke kursi dengan asal. Wajahnya masih dingin, rahangnya tegang. Ia duduk di sofa dengan gerakan berat. Hilda langsung menyusul dan duduk di sampingnya, terlalu dekat. Tangannya refleks menyentuh lengan Leon. Namun mata Hilda tiba-tiba menangkap sesuatu. Perban putih yang melilit tangan Leon. “Honey… ini kenapa?” tanyanya, alisnya langsung berkerut. Leon refleks menarik tangannya sedikit, seolah tak ingin itu jadi perhatian. “Cuma lecet,” jawabnya singkat. “O,” Kata Hilda santai. Hilda yang tadinya bersandar manja di bahu Leon, kembali meraih ponselnya dengan gerakan santai. Ia membuka media sosial. Awalnya hanya berniat mengusir rasa jengkel. Karena kemesraan mereka terganggu oleh Diandra, dimana Leon harus pergi menyelamatkannya ketika tahu wanita itu pergi. Namun… Jarinya membeku. Matanya membulat. Dan— Seolah ada ledakan di kepalanya. “Untuk pertama kalinya, Aurora Fernandez, memperlihatkan wajah cucunya, Leon Fernandez. Pewaris tahta kerajaan bisnis Fernandez. Dan berita bahagia lainnya Leon Fernandez baru saja menikahi kekasihnya. Diandra Aprilia. Wanita ini ternyata terkenal dengan kepintarannya. Dia seorang dokter, dan resepsi pernikahan mereka akan digelar beberapa waktu lagi” Berita itu terpampang jelas. Lengkap dengan foto. Foto Leon. Dan— Diandra. Hilda merasa dadanya seperti dihantam sesuatu. Tangannya bergetar. “Ini… apa?” suaranya berubah tipis. Leon yang sedang menuang minuman di meja bar kecil kamar itu menoleh. “Apa lagi?” Hilda berdiri. Menunjukkan layar ponselnya tepat di depan wajah Leon. “MENIKAH?” suaranya naik satu oktaf. “Kenapa jadi disebar luaskan?!” Leon terdiam. Tatapannya jatuh pada layar itu. Wajahnya mengeras. Sial. Berita itu bocor. Dan bukan hanya sekadar kabar. Ada detail yang membuat alisnya menegang— Berprofesi sebagai dokter. Leon menatap kosong beberapa detik. Ia bahkan tak tahu profesi Diandra seorang dokter. Bagaimana media bisa tahu? Sementara Hilda… Wajahnya perlahan berubah pucat, lalu merah padam. “Katanya cuma aku yang kamu cintai?” Suaranya bergetar. “Tapi apa? Kamu jahat!” Leon menurunkan ponsel itu pelan. “Tenang dulu.” “JANGAN suruh aku tenang!” Hilda mendorong bahunya. “Kamu menikah dengan dia? Katanya cuma sementara!” Leon menghembuskan napas panjang. “Ya, pernikahan kontrak.” Kalimat itu keluar datar. Tapi tetap saja… Terasa seperti pisau. Hilda tertawa kecil. Kontrak? “Terus ini maksudnya apa?” tanyanya sinis. Leon pun meneguk minumannya terlebih dahulu, kemudian mengingat sesuatu. Ia menatap perban di tangannya. Dirawat. Dibalut. Dengan rapi. Seperti tangan profesional. Jantung Hilda berdegup tak nyaman. “Dia dokter? Kenapa aku nggak yakin,” bisiknya, lebih pada dirinya sendiri. Leon tidak menjawab. Dan diamnya… Hilda merasa dadanya panas. Bukan hanya karena status. Tapi karena sesuatu yang jauh lebih mengancam. Wanita itu bukan hanya istri kontrak yang disembunyikan. Orang-orang diluar sana sudah mengetahui status mereka. Sementara dirinya? Hanya kekasih. Yang bahkan tak tahu apa-apa. Kini Hilda yang malah berstatus sebagai simpanan, karena hubungan mereka tak bisa diketahui orang diluar sana. “Aku nggak suka ini,” ucap Hilda pelan, matanya penuh amarah. “Aku tidak suka dia ada di antara kita.” Leon menatapnya tajam. “Dia tidak ada di antara kita.” Tapi entah kenapa— Saat mengucapkan itu… Bayangan Diandra yang menunduk serius membalut lukanya kembali muncul di benaknya. Dan itu membuat Leon kesal. Pada dirinya sendiri. “Kamu harus segera nikahi aku!” desak Hilda, “setelah mendapat warisan ceraikan dia dan umumkan pada publik aku istrimu!” “Aurora, aku yakin wanita tua itu yang membocorkan ke media,” gumam Leon pelan, rahangnya mengeras. Tanpa menunggu lama, ia langsung menghubungi Oma. Panggilan tersambung cepat. “Halo, pewarisku sayang?” suara Aurora terdengar hangat, penuh kemenangan yang terselubung. “Oma,” suara Leon terdengar tegang, “kenapa berita pernikahanku naik ke media?” “Berita?” Aurora terdengar pura-pura bingung. “Oh… soal pernikahanmu dan Diandra?” Leon mencengkeram ponselnya erat hingga buku-buku jarinya memucat. Amarahnya hampir meluap. Namun ia sadar, satu kata salah saja… dan warisan itu bisa melayang. “Oma tahu aku belum siap mengekspos ini,” ucapnya tertahan. “Tapi kenapa harus disembunyikan?” sahut Aurora tenang. “Aku tidak mau cucu kesayanganku nanti jadi bahan hujatan karena dianggap punya wanita simpanan.” Leon menegang. Kata itu seperti tamparan. “Dia bukan simpanan,” lanjut Aurora tegas. “Dan orang-orang harus tahu itu. Agar tidak ada salah paham.” Leon terdiam beberapa detik. “Oma sengaja?” tanyanya rendah. “Aku hanya melindungi nama keluarga,” jawab Aurora lembut namun penuh makna. “Lagipula, bukankah syaratnya jelas? Kau menikah, maka kau berdiri sebagai pewaris resmi. Publik harus tahu statusmu.” Leon memejamkan mata sesaat. Ini bukan sekadar klarifikasi. Ini strategi. Begitu berita itu menyebar, ia tak bisa mundur begitu saja. Perceraian mendadak hanya akan mempermalukan keluarga. Saham bisa goyah. Media akan mencium skandal. Oma sedang mengikatnya. Dengan rapi. “Oma juga sudah memastikan media menyebut profesinya,” lanjut Aurora santai. “Dokter. Wanita terhormat. Itu akan mengangkat citramu.” Leon menghela napas panjang. “Oma terlalu jauh ikut campur.” “Justru kau yang terlalu lama bermain-main,” balas Aurora tajam. “Sekarang pilihannya sederhana. Pertahankan pernikahanmu… atau pertaruhkan semuanya.” Sambungan terdiam sejenak. “Jangan kecewakan Oma, Leon.” Klik. Telepon terputus. Leon menurunkan ponselnya perlahan. Wajahnya dingin, tapi pikirannya bergejolak. Kini bukan hanya Hilda yang terancam. Bukan hanya Diandra yang terseret. Ia sendiri terjebak di tengah permainan yang dibuat olehnya sendiri. “Aku nggak mau tahu, kamu harus nikahin aku. Secepatnya ceraikan dia!” desak Hilda, emosinya meledak-ledak. Leon menatapnya lama. Ia mengangguk pelan. Bukan karena setuju sepenuhnya… tapi karena untuk sekarang, ia memang harus mengikuti permainan Oma terlebih dahulu. “Tenang,” ucapnya rendah. “Kamu nggak mau hidup miskin, kan?” “Enggak dong! Enak aja!” jawab Hilda cepat, hampir tersinggung. “Kalau begitu kamu harus sabar.” “Tapi jangan terlalu lama,” Hilda menatapnya tajam. “Aku bukan tipe wanita yang mau berbagi.” Leon tersenyum tipis. Ia mendekat. Jemarinya mengangkat dagu Hilda perlahan, menatapnya dengan tatapan yang sulit ditebak. “Aku tahu.” Dan tanpa banyak kata lagi, Leon meraih bibir Hilda. Ciuman itu dalam. Panas. Penuh ambisi dan kepemilikan. Hilda membalas tanpa ragu, melingkarkan tangan di leher Leon, seolah ingin memastikan pria itu tetap berada di sisinya. Bukan sekadar sebagai kekasih… tapi sebagai masa depan. *** Aurora duduk di kursi goyangnya, bergerak pelan mengikuti irama angin malam yang masuk dari jendela besar ruangannya. Cahaya lampu temaram membuat bayangannya memanjang di lantai marmer. Ia meneguk teh hijau hangat dengan santai, uap tipis mengepul di udara. Di meja kecil sampingnya tergeletak tablet yang masih menampilkan berita tentang pernikahan Leon dan Diandra. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Kita lihat, cucu nakal… siapa yang akan menang,” gumamnya penuh arti. Tatapannya tajam, jauh dari kesan nenek penyayang. Baginya, ini bukan sekadar pernikahan. Ini ujian. Ujian kesetiaan. Ujian kecerdikan. Dan ujian siapa yang paling pantas berdiri di samping pewaris keluarga Fernandez. Ia mengayunkan kursi goyangnya sedikit lebih kuat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN