Setelah pemeriksaan yang dilakukan oleh Diandra, kemarin kini perasaan Hilda mendadak tak tenang.
Apa lagi ketika rasa mual itu kembali menyerang.
Dadanya terasa sesak oleh kecemasan yang tidak jelas.
Ia mencoba mencari tanda-tanda kehamilan di Google.
Jemarinya bergetar saat mengetik: “gejala awal hamil”.
Matanya bergerak cepat membaca satu per satu hasil pencarian.
Terlambat haid.
Mual di pagi hari.
Tubuh terasa lelah.
Payudara lebih sensitif.
Sering buang air kecil.
Tanpa sadar, tangannya terangkat menyentuh perutnya sendiri.
Baru tadi ia muntah—meski yang keluar hanya cairan.
“Tidak mungkin…” gumamnya pelan, mencoba menenangkan diri.
Namun semakin ia membaca, semakin jantungnya berdegup tak karuan.
Pikirannya mulai dipenuhi kemungkinan-kemungkinan yang membuat napasnya terasa berat.
Bagaimana jika benar?
Bagaimana jika ini bukan sekadar mual biasa?
Kemudian ia memesan test pack secara daring.
Tangannya terasa dingin sejak tombol checkout ditekan.
Begitu barang itu tiba, Hilda langsung membawanya ke kamar mandi. Ia bahkan tak sempat duduk dengan tenang. Instruksi di kemasan dibaca sekilas, seolah-olah huruf-huruf kecil itu bisa mengubah takdirnya.
Selama menunggu hasilnya, ia tampak sangat gelisah.
Kakinya mondar-mandir di lantai kamar, jemarinya saling meremas tanpa henti.
“Jangan…aku nggak mau,” bisiknya lirih.
Ia berharap tidak sedang hamil.
Beberapa menit terasa seperti berjam-jam.
Dengan napas tertahan, ia kembali menatap alat kecil di tangannya.
Dua garis.
Jelas.
Tak samar.
Tak ragu.
Itu berarti positif.
Dunia seolah berhenti berputar.
Jantungnya berdegup keras, sementara pikirannya kosong.
“Tidak…” suaranya hampir tak terdengar.
Namun garis dua itu tetap di sana—tegas, tak terbantahkan.
“Aku nggak mau hamil, hamil itu terlalu ribet! Badan aku juga bisa rusak. Pasti laki-laki nggak akan melirik aku lagi.”
Hilda mengacak rambutnya sendiri dengan kesal.
“Aku harus pastikan dulu, aku yakin dokter gadungan itu salah! Dan, terpacu ini juga salah.” gumamnya.
Dengan yakin ia pun segera menuju rumah sakit.
***
Dokter menatap layar USG beberapa saat, lalu menghela napas pelan sebelum menoleh padanya.
“Dari ukuran janin dan perhitungan siklus terakhir Ibu,” ucapnya tenang namun tegas, “kehamilan ini diperkirakan sudah memasuki usia sekitar delapan minggu. Kurang lebih dua bulan.”
Dua bulan.
Kata-kata itu seperti palu yang menghantam kepalanya.
“Dua… bulan?” ulang Hilda pelan, nyaris tak percaya.
Dokter mengangguk. “Detak jantungnya sudah ada. Perkembangannya sesuai usia kehamilan dua bulan.”
Ruangan terasa semakin sempit. Napasnya memburu.
Artinya ini bukan lagi sekadar kemungkinan awal. Bukan baru beberapa minggu.
Sudah dua bulan.
Selama itu… tanpa ia sadari.
Tangannya gemetar ketika kembali menyentuh perutnya yang masih tampak biasa saja dari luar. Namun kini, ia tahu pasti—ada kehidupan kecil yang sudah bertahan selama dua bulan di dalam dirinya.
Dan kenyataan itu tak bisa lagi ia bantah.
“Baik, Dok terimakasih.”
Hilda berjalan keluar dari klinik dengan langkah tak terarah. Dunia di sekelilingnya terasa bising, tapi pikirannya justru kosong.
Apa yang harus ia lakukan sekarang?
“Aku nggak mau hamil… aku nggak mau!” gumamnya frustasi.
Ia segera masuk ke dalam mobilnya, membanting pintu lebih keras dari biasanya. Tangannya gemetar saat menekan nama Robi di layar ponsel.
Panggilan terhubung.
“Halo, sayang. Akhirnya kamu menghubungi aku lagi. Kenapa? Butuh hiburan?” suara Robi terdengar santai, bahkan cenderung mengejek.
“Rob, aku hamil,” kata Hilda tanpa basa-basi.
Hening sesaat.
“Ya terus?” jawabnya ringan.
Hilda tercekat. “Robi, aku nggak mau hamil. Aku nggak mau. Dan kehamilanku ini justru sangat membahayakan hubunganku dengan Leon.”
“Kenapa begitu?” suara Robi berubah licin. “Bukannya kalian sering bercinta? Justru bagus, sayang. Kamu bisa manfaatin bayi itu buat dapetin kekayaannya.”
Hilda terdiam. Kata-kata itu merayap pelan ke dalam pikirannya.
“Iya juga sih…” gumamnya ragu.
“Ayo dong, sayang. Kamu itu wanita pintar,” bujuk Robi.
“Tapi masalahnya…” napas Hilda memburu, “usia kandunganku udah dua bulan. Sedangkan aku dan dia baru sebulan ini ketemu lagi. Ini anak kamu, Rob! Kita selama di luar negeri tinggal berdua waktu aku pemotretan di sana.”
“Iya, aku tahu,” jawab Robi datar. “Tapi sama fotografernya juga kamu sering main, kan?”
Hilda membeku. “Rob, kamu tahu…?”
“Tahu dong, sayang,” potongnya santai. “Aku sering lihat kalian masuk toilet bareng. Ngapain kalian berdua di toilet?” Robi tertawa kecil seolah mengejek, “Jadi aku juga nggak yakin itu anakku.”
Seperti disiram air es, tubuh Hilda terasa dingin.
“Kamu… nggak yakin?” suaranya bergetar.
Robi terkekeh pelan. “Ya realistis aja. Jangan langsung lempar tanggung jawab ke aku. Aku tahu kamu juga punya gadun.”
Hilda menatap kosong ke depan. Jalanan di depannya terlihat kabur bercampur frustasi.
“Tenang, sayang. Aku akan simpan rahasia kita rapat-rapat. Bahkan aku bantu kamu… asal aku juga dapat bagian,” kata Robi lagi, suaranya terdengar rendah dan penuh perhitungan.
“Bagian?” ulang Hilda pelan.
“Iya, ayolah…” Robi terkekeh kecil. “Kamu punya peluang besar di sini. Kamu tahu kan sebesar apa cinta pria bodoh itu sama kamu?”
“Robi, aku nggak paham!”
“Kamu paham, sayang,” potongnya cepat. “Manfaatkan kehamilanmu buat mengikat dia. Leon pasti percaya. Bilang saja usia kandungan baru tiga minggu. Dan jangan pernah ajak dia waktu kontrol ke dokter. Kamu paham?”
Hilda terdiam.
Tangannya mencengkeram setir mobil begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya memburu. Kata-kata Robi terdengar seperti rencana yang rapi… dan kejam.
“Kalau dia tahu?” bisiknya lirih.
“Dia nggak akan tahu,” jawab Robi mantap. “Selama kamu pintar main peran. Kamu kan ahli soal itu.”
Kalimat itu seperti tamparan.
Ahli main peran.
Hilda memejamkan mata. Bayangan wajah Leon terlintas di kepalanya—tatapan tulus yang selama ini selalu ia manfaatkan.
Di satu sisi, rencana Robi terdengar mudah. Menguntungkan. Aman.
“Dan kalau nanti bayi itu lahir?” tanya Hilda pelan.
“Kita pikirkan nanti. Yang penting sekarang kamu amankan posisimu dulu,” jawab Robi tanpa ragu.
Hilda membuka mata perlahan. Tatapannya kosong menembus kaca depan.
“Robi, ini terlalu berisiko…” suara Hilda melemah, terdengar ada ketakutan yang nyata karena ia tahu sisi gelap Leon yang kejam.
“Sayang,” jawab Robi tenang, dingin, “semua hal di dunia ini punya risiko. Tapi kita punya kesempatan buat ada di puncak. Ingat, perusahaan papamu yang nggak seberapa itu sudah di ambang bangkrut. Kamu bisa jadi gembel. Tapi nggak akan kalau kamu tetap sama Leon.”
Kata-kata itu menghantam sisi rapuh Hilda.
“Iya… kamu benar,” bisiknya pelan, lebih seperti meyakinkan diri sendiri. “Mana tahu dia mati tepat saat bayi ini lahir karena penyakitnya. Bayi ini bisa jadi pewaris keluarga Fernandez…”
“Itu kamu paham, sayang. Tidak ada yang tahu Leon menderita Leo kimia. Tidak ada, hanya kamu saja, dia menyimpan rapat dari keluarganya dan dia pikir hanya kamu yang menerimanya apa adanya,” kata Robi lagi.
“Ya, kalau begitu bayi ini sangat berguna dan hadir di waktu yang tepat.”
“Pergi temui dia, dan aku tahu kamu harus apa.”
Panggilan berakhir dan Hilda tersenyum penuh arti.
Rencana akan dimulai.
“Kau tidak akan ku gugurkan.”